Santri dan Sebuah Refleksi

Spirit hari santri tidak lepas dari peristiwa heroik perjuangan kaum sarungan membela tanah airnya. 10 Novermber silam menjadi saksi bagaimana nyawa dan darah dikorbankan. Melepaskan ego diri, mengubur rasa takut, saat itu hanya satu kata yang terucap dari mereka, lawan!!!!!
Perlawanan terhadap penjajah saat itu tidak bisa dilepaskan dari sebuah spirit keikhlasan yang lahir dari rasa cinta dan tanggung jawab santri, kiai, dan elemen eleman lainnya terhadap bangsa dan negara ini. Lewat fatwa resolusi jihad 22 oktober mbah Hasyim, para santri deklarasikan perang terhadap kolinialis yang hendak merebut kembali kemerdekaan yang sudah dicapai. Mereka menjelma menjadi pendekar-pendekar sakti berani mati “Isy kariiman au mut syahiidan” hidup mulia (tidak dijajah) atau mati syahid saja.
Hebatnya, bukan senjata api atau kendaraan perang super canggih yang menjadi senjatanya, melainkan alat-alat seadanya yang disisipi hizib-hizib, dan wirid-wirid, yang sudah diijzahkan para kiai-kiai sepuh. Namun siapa sangka, peralatan perang yang jauh dari kata canggih dan maju tersebut, justru mampu mengalahkan senjata-senjata maju saat itu. Konon kendaraan perang tank baja milik penjajahpun bisa dihancurkan hanya dengan sebongkah batu saja. Ajaib dan sekilas aneh, namun jika sudah kuasa dan kehendak Allah, kun fayakun, jadi, maka jadilah!
Santri bukanlah sosok pengecut dan munafiq yang diajak berjuang kiainya, menolak dengan berbagai macam alasan. Santri yang sebenarnya adalah mereka yang tidak pernah perhitungan jika sudah menyangkut titah kiai, dan kepentingan negaranya. Untuk itu sangat jelas, bahwa sejak dulu, agama dan nasionalisme menjadi arah perjuangan santri, khususnya santri NU. Tidak ada satu sikap, dan tindak-tanduk santri kecuali semua beorientasi kepada keduanya.
Gambaran perjuangan kiai dan santri di atas, ketika siap berkorban nyawa untuk negara, harus menjadi sebuah refleksi bahwa seorang santri tidak hanya membatasi diri dengan mengaji, wiridan dan ritual-ritual keagamaan saja, tetapi mencintai negeri ini dengan sepenuh hati (totalitas) lahir maupun batin. Cinta yang melahirkan ketidakrelaan jika bangsanya dirusak, dijajah, dan diganggu. Cinta yang menghadirkan semangat juang untuk memajukan negaranya.
Karenanya, santri jangan tinggal diam untuk terus terlibat dalam menjaga stabilitas keamanan negara dan bangsanya. Bagaimana mengaji mau nyaman dan maksimal jika kondisinya tidak aman. NKRI harga mati, harus menjadi bagian dari prinsip hidup santri. Jika santri menjalankan kewajiban ngajinya, maka santri juga harus berkomitmen untuk terus menjaga negaranya. Sekalipun tidak ada imbalan atau pengakuan, konsistensi prinsip santri untuk negeri jangan pernah mati.
Lebih jauh, dengan melihat konteks saat ini, tentu bukan lagi berperang seperti pendahulunya. Namun nasionalisme santri saat ini harus lebih berorientasi pada kemampuan santri dalam mengisi dan berperan di pos-pos strategis sebagai bentuk kontribusi kekinian yang harus dilakukan santri untuk bangsanya. Peran santri hari ini jangan dipersempit dengan ruang-ruang madrasah, atau pos-pos bidang keagamaan saja, namun dalam struktur birokrasi non agama, sains dan teknologi juga. Hari ini dan seterusnya, santri bukan lagi wayang, namun dalang, yang mengendalikan cerita, dan menghiasi alur di dalamnya.
Tentu semua butuh proses, untuk itu hari ini dan seterusnya niat mengaji santri disamping harus karena Allah, Rasul dan menghindarkan diri dari kebodohan, mengaji juga harus diniatkan untuk kemajuan bangsa. Sudah saatnya santri lebih mewarnai dinamika kehidupan bangsa. Kalau perlu ke semua lini dan bidang harus ada wakil santri. Presiden dan wakil aja sudah ada kok dari kalangan santri, masa sektor yang lainnya tidak bisa.
Yang sampai saat ini masih lebih banyak tidurnya, bangunlah! Yang sampai saat ini masih kebanyakan makan, tirakatlah! Jangan panjang angan-angan dan cita apalagi berpikir mau mengisi posisi strategis dan turut serta dalam kemajuan bangsa, kalo sampai sekarang kita masih belum selesai dengan diri kita. Wallahu alam…….
(Ujang Jumhur)




