Artikel

Santri dan Sikap Terhadap COVID-19

Seiring dengan merebaknya virus COVID-19, dunia mengalami sakit yang cukup parah. Peradaban modern dengan segala kecanggihan teknologinya, seakan akan tidak berdaya dengan virus kecil ini. Perekonomian di berbagai negara terdampak mengalami penurunan yang sangat signifikan. Di Indonesia misalnya, negara yang baru diberitakan mulai terserang corona sejak awal maret, mengalami pelemahan rupiah. Yang hari ini melonjak tajam di angka 16500 rupiah/1 USD. Apakah ini sebuah peringatan?

Virus COVID-19 seakan akan ingin memberikan sinyal bahwa tidak ada yang lebih besar dan digdaya selain kuasa Allah. Hanya gara-gara virus yang tidak terlihat oleh mata, yang ukurannya begitu sangat kecil, bisa meluluh lantakan luas dan besarnya bumi dengan segala kemegahannya. Amerika dan Cina dengan kekuatan besarnya, hingga negara besar eropa lainnya, tidak ketinggalan rapuh dibuatnya.

Hari ini, jumlah kasus yang tercatat dalam data resmi corona meters, mencapai 245,660 kasus dengan jumlah kematian mencapai 11,049 jiwa di seluruh dunia. Entah sampai kapan pandemi ini akan berakhir, semua negara dibuat sibuk dengannya, seolah olah tidak ada yang dipikirkan dan dibicarakan untuk saat ini selain melawan virus corona.

Ketika awal kemunculannya di Cina, virus ini sempat dituduh sebagian orang sebagai azab yang diberikan oleh Allah kepada orang orang Cina karena mendzalimi ras Uighyur. Tuduhan serampangan yang tidak berdasar. Ketika ribuan orang telah menjadi korban, saya tidak bisa habis berfikir dimana letak otak mereka, dimana jiwa humanisnya, kok masih sempat sempatnya mempolitisir bencana besar kemanusiaan yang tentu merugikan ini.

Dan hari ini, akhirnya mereka terdiam ketika virus ini mulai mengekspansi negara negara Islam yang tentu semua warganya beragama Islam. Saya penasaran, kira kira mereka masih mau mengatakan ini azab? Tidak ada Islam atau non-Islam, kafir atau muslim, semua hampir merasakan penderitaan yang sama, termasuk Indonesia sebagai Negara dengan populasi muslim terbesar di dunia yang tidak ketinggalan juga.

Baca Juga: Sikap Dalam Menghadapi Covid-19

Tanpa memandang status seseorang, Virus ini mungkin ingin mengirimkan pesan bahwa manusia dengan segala egoismenya harus berbenah dari segala tindak tanduk yang tidak bermanfaat dan merugikan banyak orang. Entah sebagai muslim atau non-muslim. Bagi kita yang beragama Islam, mari kita anggap bahwa musibah ini adalah bentuk teguran atas keIslaman yang kita jalankan. Keislaman yang perlu di evaluasi, jangan jangan berIslam yang kita jalani sebagai agama yang paling diridhai Allah, dalam praktiknya, belum berislam dengan baik, belum mampu menebar nilai nilai Islam yang rahmah secara kaffah, atau  bahkan jangan jangan cara berislam kita justru menjadi racun yang merusak Islam itu sendiri. Mengaku Islam tapi gemar menebar kebencian, berislam tapi menjadi provokator perpecahan, atau berislam tapi malah sering merugikan makhluk makhluk Allah yang hidup disekitarnya. Yang harus kita akui, bukankah fenomena ini banyak terjadi sekarang?

Saya kira kita boleh boleh saja beranggapan demikian, sebagai bentuk muhasabah yang perlu kita lakukan. Atas wabah ini, kita bisa melihat betapa persatuan dan kesatuan dan ketaatan menjadi kunci. Kerjasama, saling pengertian antara satu manusia dengan manusia lainnya menjadi salah satu jalan penanggualangan wabah ini. jangan malah semakin pecah belah dan tambah tinggi egonya. Seperti yang kemarin sempat terjadi, kita masih melihat ada saja sebagian kalangan rakyat +62 yang terlihat masih acuh ta acuh dan tidak peduli menyikapi wabah ini. Instruksi agar  stay at home, malah dimanfaatkan untuk liburan. Sampai sampai kita merasa sedih dan kasihan dengan para tenaga medis yang terlihat lelah, sampai memohon mohon  menyampaikan “we stay here for you, and you stay at home for us”.

Sehingga, bagi daerah daerah yang berada di zona merah, menjadi penting agar berempati dan punya solidaritas antar sesama yang terlibat dalam penanggulangan wabah ini. adapun bagi yang tinggal di daerah yang berstatus zona hijau, bisa ikut memberikan sumbangsih moril atau materil melalui donasi donasi yang di galang instansi atau sekelompok orang. Yang harus kita lakukan hari ini adalah melakukan pencegahan secara maksimal, tidak boleh panik tapi namun harus tetap waspada, serta mengambil pelajaran yang paling baik yang bisa kita dapatkan.

Hiruk pikuk konflik, peperangan, diskriminasi, intoleransi, perselisihan, dan semua kepentingan hawa nafsu yang selama ini mendominasi, dibungkam sepi tidak terdengar kabarnya. Mudah mudahan corona ini menyadarkan segalanya, kalau gotong royong, bekerja sama, saling bersatu satu atas yang lainnya, antar kelompok dengan kelompk lainnya, atau Negara dengan Negara lainnya itu baik dan nikmat, COVID-19 mungkin mau mengajak sesama kita untuk melakukan tindakan tindak di atas sebagai jalan keselamatan, dan bagian dari bentuk teguran akan sikap kita yang selama ini lalai dalam menjalin ukhuwah Isalmiyah, wathaniyah dan basyariah.

Wallahu ‘alam

Oleh: Jumhur Hidayat

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *