ArtikelDaerah

Tong-Tong dan Tongklek: Bukan Persaingan, tapi Perjumpaan Budaya

Beberapa waktu lalu, media sosial diramaikan oleh perdebatan mengenai dua tradisi bunyi yang berasal dari wilayah berbeda: Tong Tong dari Madura dan Tongklek dari Tuban. Keduanya sama-sama menonjolkan ritme dari alat sederhana seperti kentongan, drum, dan instrumen perkusi lainnya. Namun, yang menarik, perdebatan itu tidak terjadi di ruang budaya, melainkan di ruang digital.

Video perbandingan, klaim sepihak, hingga komentar saling merendahkan bermunculan di berbagai platform, terutama TikTok. Masing-masing pihak beranggapan bahwa tradisi merekalah yang lebih dahulu hadir, lebih orisinal, dan layak disebut sebagai “asli”. Padahal, jika ditinjau secara budaya, kedua tradisi ini sejatinya merupakan bentuk ekspresi lokal yang seharusnya memperkuat identitas dan kebersamaan, bukan sebaliknya.

Jejak Tradisi Tong-tong dan Tongklek

Pertanyaan mendasar pun muncul: sejak kapan tradisi ini ada? Dan apakah bentuk dekorasi yang sekarang memang sudah demikian sejak awal?

Baca juga : Khutbah Jumat: Kritik Santun, Cermin Cinta Tanah Air dalam Islam

Berdasarkan penuturan salah seorang warga asli Tuban (MA), tradisi Tongklek dikenal sejak tahun 1972. Namanya diambil dari bunyi kentongan, yaitu “tong” dan “klek”. Awalnya, kesenian ini dimainkan oleh para pemuda, terutama pada bulan Ramadan untuk membangunkan sahur sekaligus membangun semangat kebersamaan di lingkungan sekitar. Jika merujuk pada penjelasan ini, keberadaan Tongklek memang cukup lama, bahkan sebelum tradisi Tong Tong Madura berkembang menjadi ajang kompetisi maupun pertunjukan resmi di Madura.

Sementara itu, terkait dekorasi, MA menambahkan bahwa desain yang ada sekarang memang banyak terinspirasi dari tradisi Tong Tong Madura. Meski demikian, ia menekankan bahwa penggunaan alat musik dalam Tongklek sudah ada sejak zaman Sunan Bonang. Pernyataan ini juga selaras dengan komentar beberapa warganet di media sosial yang mengakui adanya pengaruh Madura dalam aspek visual Tongklek.

Jika ditelaah lebih jauh, dari segi dekorasi keduanya memang tampak mirip. Namun, dari sisi musikalitas terdapat perbedaan. Misalnya, tradisi Tong Tong Madura menggunakan terompet, sementara dalam Tongklek tidak. Sebaliknya, ada instrumen khas Tongklek yang tidak ditemukan dalam Tong Tong Madura.

Baca juga : Self-Reward, Development, Determination, hingga Self-Agamis Lainnya

Kesimpulan

Dari uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa Tongklek merupakan tradisi yang telah lama ada, dengan perkembangan dekorasi yang belakangan mendapat pengaruh dari Tong Tong Madura. Dengan kata lain, hubungan keduanya tidak dapat dipandang sebagai persaingan, melainkan sebagai proses saling memengaruhi dalam dinamika budaya.

Oleh karena itu, ketika kedua tradisi ini muncul kembali di ruang publik, sebaiknya kita tidak memandangnya dalam bingkai klaim siapa yang lebih asli. Sebaliknya, keduanya bisa dilihat sebagai kekayaan budaya yang tumbuh di daerah masing-masing dan saling memberi inspirasi. Dengan sikap saling menghargai, potensi konflik dapat dihindari, dan budaya justru menjadi ruang untuk memperkuat persaudaraan serta memperkaya keragaman Indonesia.

Oleh: Moh. Bastuta Shomad Al-ilmi

Editor : Muhammad Fachri Hibatullah

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *