Sebagai seorang muslim, kita tentu mengenal istilah hablum minallah, hablum minannas dan hablum minal alam. Ketiganya perlu kita perhatikan secara seimbang. Baik secara keilmuan maupun pengamalannya.
Namun, jika berkaca pada beberapa peristiwa akhir-akhir ini, sebut saja kasus kebakaran bromo yang terjadi hanya karena kepentingan remeh temeh semacam prewedding atau kasus-kasus perusakan lingkungan “terstruktur” lainnya, kita bisa menyimpulkan bahwa kesadaran akan pentingnya hablum minal alam pada diri masyarakat kita masih rendah.
Apalagi cukup banyak pihak yang kerap kali membenturkan antara lingkungan dan keuangan. “Ekologi Vs Ekonomi” begitulah sebutannya. Berlindung dibalik kata investasi untuk menggerogoti paru-paru bumi. Bertopeng kesejahteraan rakyat padahal sejatinya kesejahteraan kantong sendiri.
Maka dari itu, tulisan ini lahir sebagai bentuk renungan dari penulis. Bukan hanya sebatas kritikan terhadap penguasa dan pengusaha.
Jika Alam Rusak, Kita Juga
Sadarkah kita bahwa Allah menjadikan manusia bukan hanya sebagai pemimpin dan pengelola di bumi, melainkan sebagai bagian dari alam itu sendiri. Allah tidak memilih malaikat sebagai pemimpin di bumi karena malaikat bukan bagian dari alam itu. Dalam artian malaikat tidak membutuhkan makanan yang tentu asalnya dari hewan dan tumbuhan. Malaikat juga tidak membutuhkan oksigen yang keluar dari pepohonan.
Tapi manusia membutuhkan semua itu. Manusia perlu makan, minum, bernapas, dan tentu semua itu merupakan produk dari alam. Seperti judul dalam tulisan ini, jika alam rusak, kita juga.
Jika hutan habis berganti dengan kantor-kantor, hewan-hewan punah kehilangan tempat tinggalnya, laut dan tanah tercemar limbah seluruhnya, maka manusia akan sadar bahwa logam-logam itu tak bisa dimakan, bahwa minyak-minyak itu tak bisa diminum.
Allah berfirman dalam surat Hud ayat 61:
وَإِلَىٰ ثَمُودَ أَخَاهُمْ صَٰلِحًا ۚ قَالَ يَٰقَوْمِ ٱعْبُدُوا۟ ٱللَّهَ مَا لَكُم مِّنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُۥ ۖ هُوَ أَنشَأَكُم مِّنَ ٱلْأَرْضِ وَٱسْتَعْمَرَكُمْ فِيهَا فَٱسْتَغْفِرُوهُ ثُمَّ تُوبُوٓا۟ إِلَيْهِ ۚ إِنَّ رَبِّى قَرِيبٌ مُّجِيبٌ
Artinya: Dan kepada Tsamud (Kami utus) saudara mereka Shaleh. Shaleh berkata: “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya, karena itu mohonlah ampunan-Nya, kemudian bertobatlah kepada-Nya, Sesungguhnya Tuhanku amat dekat (rahmat-Nya) lagi memperkenankan (doa hamba-Nya)”.
Menurut tafsir ringkas Kemenag RI, ayat di atas turut menyinggung manusia yang telah Allah beri amanah untuk memakmurkan bumi, mempergunakan untuk kebutuhannya, tapi sebagian dari manusia malah berbuat kerusakan.
Baca Juga: Sunset
Lalu adakah solusinya?
Para peniliti, terutama di bidang ekologi masih terus melakukan pengawasan melalui penelitian mereka terhadap berbagai macam kegiatan manusia yang berpotensi merusak alam. Para aktivis lingkungan juga tak henti-hentinya menularkan kesadaran akan pentingnya menjaga alam, tempat kita hidup ini.
Hal yang mungkin sekarang kita anggap biasa saja, bisa jadi di masa mendatang ditemukan titik bahayanya bagi alam. Misalnya pembuatan berbagai kerajinan berbahan dasar plastik bekas yang di masa itu, mungkin hingga kini, dianggap dapat mengatasi masalah sampah, kini ditemukan bahwa plastik-plastik itu justru dapat berubah menjadi mikroplastik yang tak kalah bahayanya bagi kesehatan manusia maupun alam.
Maka dari itu, kita harus selalu meningkatkan pengetahuan kita tentang alam. Selalu update terhadap perkembangan penelitian terkini. Dan tentunya setelah mengetahui dampak negatif dari perilaku kita, hendaknya kita beralih pada alternatif yang lebih aman bagi alam. Jika belum bisa mengubah secara total, maka setidaknya mengurangi sedikit demi sedikit guna meminimalisir dampak yang diakibatkan.
Karena sejatinya, sebaik-baik manusia yang berbuat salah adalah mereka yang bertaubat dan memperbaiki kesalahannya.


