ArtikelRedaksi

Catatan Santri: Tujuh Pelajaran dari Respons K.H. Marzuqi Mustamar atas Polemik Rembang

Belakangan ini, publik dihebohkan oleh polemik penolakan kehadiran K.H. Marzuqi Mustamar pada acara pengajian hari jadi Kabupaten Rembang dan Haul Pangeran Sedo Laut. Perbincangan semakin meluas setelah beredar surat yang berisi permintaan kepada K.H. Marzuqi Mustamar untuk tidak menghadiri undangan pengajian pada Hari Jum’at 31 Juli 2026 di Rembang tersebut, surat itu juga ditandatangani oleh sejumlah kiai setempat. Peristiwa tersebut kemudian memunculkan beragam tanggapan, baik di media sosial maupun di tengah masyarakat, bahkan tidak sedikit yang terburu-buru mengambil kesimpulan. Di tengah berbagai pandangan yang berkembang, ada satu hal yang menarik untuk dicermati, yakni bagaimana K.H. Marzuqi Mustamar merespons polemik tersebut. Alih-alih memperkeruh suasana, beliau justru menyampaikan tanggapan dengan bahasa yang santun, penuh kehati-hatian, dan sarat akan nilai-nilai adab.

Dalam video wawancara di youtube papazara Insight beliau K.H. Marzuqi Mustamar memberikan beberapa dawuh atau tanggapan yang sejuk, elegan dan tentunya mengutamakan tata krama, Beberapa point yang membuat kita harus adil dan netral dalam menanggapi permasalahan ini diantaranya:

1. “Saya Tidak Tahu” atau “Saya Tidak Paham”.

Kalimat ini begitu indah. Bukan untuk lepas tanggung jawab, tapi dalam rangka untuk tidak menambah dan mengurangi esensi berita. Artinya, yang harus menyampaikan klarifikasi itu bukan beliau, tetapi pihak penyelenggara ataupun mereka yang menolak. Disini, beliau memposisikan sebagai objek, pihak penerima. Maka jawaban “saya tidak tahu menahu” – “saya kurang Paham” itu merupakan kejujuran beliau. karena memang benar-benar tidak tahu secara pasti kenapa dan kenapa?. Lagi-lagi, beliau tidak hanya memberikan uswah hasanah namun, nilai-nilai itu sudah mandarah daging dalam setiap ucapan dan perilaku beliau.

2. “Saya Orang Jawa”

Kalimat ini sederhana tetapi maknanya begitu mendalam. Terlebih beliau menambahkan filososfi “ngalah dan ngaleh”. Dimana, watak dan karakter orang jawa yaitu lebih memilih untuk mengalah. Mengalah untuk kemaslahatan. Mengalah untuk menjaga persatuan. Mengalah demi kebaikan Bersama. Bahkan mengalah walaupun sebenarnya berada pada pihak kebenaran demi menjaga kebaikan Bersama. Namun, jika masih terus saja terjadi perselisihan, maka “ngaleh”. Yakni menjauh dan berpindah untuk menghindari konflik yang lebih besar lagi, bukan karena salah, lagi-lagi demi kebaikan Bersama. Ini mencerminkan, bagaimana beliau ngugemi tradisi, tindak tanduk yang luhur dari bangsa ini, khususnya tata krama dari orang jawa.

baca juga: Kyai Marzuqi: NU Tulen, Pegiat Ajaran Aswaja

3. “Saya Ini Santri”

Kalimat ini terasa sederhana dan biasa. Tapi lagi-lagi, ini mencerminkan begitu tawadhu’nya beliau terhadap mereka-meraka yang lebih berhak untuk menentukan Keputusan. Maka, peribahasa Maa Ziltu Thooliban bukan hanya slogan bagi beliau, tetapi sudah mandarah daging. Namun, sebenarnya kalimat ini juga bisa berarti sindiran jika yang mengatakan adalah seorang Kiai. Artinya, kalo beliau saja masih ngugemi “saya ini santri”, terus yang Kiai siapa. Kalo sekaliber beliau saja masih mengaku sebagai santri, lalu standard Kiai seperti apa? . Di sisi lain, beliau ingin memberi tahu bahwa santri adalah sosok yang manut atas semua perintah Kiai. Maka, dalam konteks ini, beliau memposisikan diri sebagai santri bagi mereka yang bertanda tangan dan menolak kedatangan beliau. Lagi-lagi, uswah hasanah tidak hanya menjadi slogan saja, tapi sudah mandarah daging dalam diri beliau.

4. “Silahkan Dikroscek, Ditracking”

Ini menjadi satu hal yang begitu objektif dalam memberikan satu solusi dalam setiap permasalahan. Artinya, kebenaran dan kebaikan itu jangan hanya dilihat dari satu sisi saja lalu disimpulkan. Namun harus berbasis data, fakta dan realita yang ada. Dalam memberikan dawuh ini, beliau begitu santun. Walau mungkin beliau sendiri sudah tahu siapa dan bagaiamana mereka itu. Namun beliau menyerahkan itu semua kepada jamaah untuk mencari data sebanyak-banyaknya terkait masalah ini dengan mengambil sampel mereka yang terkait secara khusus. Lagi-lagi, beliau memberikan uswah hasanah dalam menghadapi masalah dan bagaimana memberikan solusinya.

5. “Apakah FPI atau Gusdurian”

Dua kata kunci yang sederhana tapi begitu dalam maknanya. FPI yang identik dengan Riziq serta Gusdurian yang lahir dari pecinta-pecinta pemikiran Gus Dur. Dua variable ini saja sudah cukup untuk digunakan sebagai data bahwa kejadian ini memiliki keterkaitan antara dua “majelis” tersebut. Namun lagi-lagi, K.H. Marzuqi Mustamar melemparkan pandangan, agar kemudian masyarakat sendiri yang menilainya.

6. “Siapapun”

Beliau memberikan mauid yang mendalam, bahwa dalam menghadapi dan merespon penceramah atau pendakwah yang suka menghasut bahkan menfitnah itu bukan sekedar tugas perorangan atau organisasi tertentu, tetapi semua harus bersatu dan bersama memerangi serta mengurangi para penceramah yang suka menghasut dan mengadu domba bahkan berbohong. Beliau mengajak semua elemen masyarakat untuk mencegah, menanggulangi dan memproteksi, mereka yang berdakwahnya suka mencaci maki dan sejenisnya.

7. “Ayo Jaga Islam, Ayo Jaga NKRI”

Dua hal pokok ini berkali-kali beliau sampaikan dan beliau tekankan, tentu bukan tanpa alasan. Artinya, beliau memiliki firasat dan kekhawatiran adanya rencana-rencana terselubung dari golongan tertentu yang ingin mengambil sejarah bangsa ini dengan cara bangsa ini diklaim oleh satu golongan tertentu. Tentu hal ini sangat mengkhawatirkan terhadap sejarah bangsa ini. Jangan sampai sejarah bangsa ini diambil alih dan diklaim oleh kelompok tertentu. Tentu pesan beliau ini memiliki tujuan yang baik terutama bagi keberlangsungan sejarah bangsa yang kita cintai ini, INDONESIA.

baca juga: Warga Nahdliyin Mesti Terus Menghidupkan Tradisi Penulisan Kitab

Menjaga Objektivitas dalam Menyikapi Polemik

Diluar ini, kami menyayangkan kenapa seakan-akan yang salah adalah beliau, K.H. Marzuqi Mustamar. Padahal beliau “hanya” sebagai pihak yang diundang, yang mengikuti aturan panitia. Maka, seharusnya yang lebih berhak berbicara dan memberikan klarifikasi adalah mereka pihak yang menolak kedatangan beliau dengan memberikan data dan argumentasi yang valid, tentu juga harus dengan cara-cara yang elegan dan mengedepankan tata krama, sebagaimana adat ketimuran.

Sekali lagi, seakan-akan dalam hal ini beliau K.H. Marzuqi Mustamar adalah pihak yang salah dan ini tentu lucu dan menggelikan. Jadi teringat Ketika Gus Dur ditanya oleh Andy F Noya dalam acara Kick Andy Ketika menjawab sebuah pertanyaan “siapa orang yang paling bertanggung jawab atas pencopotan tersebut?” Gus Dur menjawab “Megawati dan Amien Rais” . Andy lanjut bertanya. Lalu Gus Dur berkelakar “Tanya sana dong, kok tanya saya?”. Mungkin seperti itulah ilustrasi yang hampir sama dengan kajadian ini. Harusnya, panitia dan mereka yang bertanda tangan itulah yang harus ditanya, bukan K.H. Marzuqi Mustamar.

Dan catatan tambahan dari saya secara pribadi bahwa dalam hal ini beliau K.H. Marzuqi Mustamar tidak mewakili atau representasi dari organisasi PWI atau sejenisnya. Hal ini penting karena kami khawatir beliau dibawa dan dibenturkan kemana-mana.

Penulis: Dr. Abdurrosyid M.Pd

Editor  : Tim Media Santri NU

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *