Tumbuhan Bertasbih, Apakah Sawit Juga?
Pernahkah kita membayangkan bahwa tumbuhan yang setiap hari kita lihat juga makhluk yang senantiasa bertasbih kepada Allah? Hal ini dijelaskan dalam QS Al-Isra’ [17]: 44.
تُسَبِّحُ لَهُ السَّمٰوٰتُ السَّبْعُ وَالْاَرْضُ وَمَنْ فِيْهِنَّ ۗ وَاِنْ مِّنْ شَيْءٍ اِلَّا يُسَبِّحُ بِحَمْدِهٖ وَلٰكِنْ لَّا تَفْقَهُوْنَ تَسْبِيْحَهُمْ ۗ اِنَّهٗ كَانَ حَلِيْمًا غَفُوْرًا
Artinya:
“Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya senantiasa bertasbih kepada Allah. Tidak ada sesuatu pun, kecuali senantiasa bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.”
Setiap pohon yang tumbuh dan menghasilkan oksigen, planet yang berputar pada porosnya, hingga elektron yang mengelilingi inti atom, semuanya “bertasbih” mengikuti hukum Allah. Itulah bentuk tasbih aktual mereka. Menurut Ibnu Manzhur, kata tasbih merujuk pada makna tanzih, yakni menjauhkan atau menyucikan Allah dari sifat-sifat makhluk, dan bara’ah, yakni membebaskan atau membersihkan dari keburukan.
Pertanyaan besar pun muncul: sudahkah manusia menghargai tasbih alam dengan memperlakukan setiap makhluk ciptaan Allah secara bertanggung jawab? Alam dan tumbuhan bukanlah benda mati yang boleh dimanfaatkan sesuka hati. Setiap makhluk memiliki peran dan keberadaannya masing-masing dalam tatanan kehidupan, dan semuanya hadir dalam keteraturan Allah.
Baca juga: Ketum PBNU Tekankan Kaderisasi untuk Bangun SDM NU Profesional dan Berintegritas
Apakah Sawit Juga Bertasbih?
Di antara beragam tumbuhan yang menghiasi bumi, ada satu tanaman yang keberadaannya mengundang perdebatan: kelapa sawit. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan sawit itu sendiri, sebab manfaatnya banyak bagi kehidupan kita. Minyaknya menjadi kebutuhan pokok rumah tangga, bahan energi terbarukan, sekaligus sumber penghidupan masyarakat. Namun makhluk mulia ciptaan Allah ini seperti berubah menjadi monster yang mengerikan di mata kita. Di mana sawit ditanam, di sana hutan dan satwa terpanggang. Di mana benih sawit mulai disebar, di sana ada jeritan dan sesak dari orang-orang yang berusaha bernapas dengan sabar. Di mana sawit mulai berbuah, di sana ada segelintir orang yang kantongnya penuh dan berbondong-bondong membeli mobil mewah.
Ibaratnya seperti Te Fiti dalam film animasi Moana. Sang dewi pulau yang baik hati dan penuh penghidupan itu berubah menjadi Te Ka, monster lava raksasa yang mengerikan, akibat jantungnya dicuri oleh Maui. Begitulah yang penulis bayangkan, dengan Maui sebagai lambang “manusia yang tidak tahu diri”.
Baca juga: Rahasia Kalimat Bismillah
Tinjauan literatur Qaim dkk. (2020) berjudul Environmental, Economic, and Social Consequences of the Oil Palm Boom menunjukkan bahwa industri kelapa sawit berkontribusi pada peningkatan pendapatan dan pengurangan kemiskinan. Akan tetapi, industri ini membawa konsekuensi lingkungan yang besar. Pembukaan lahan sawit menyebabkan hilangnya hutan rata-rata 350.000 hektare per tahun. Sistem monokultur menurunkan keanekaragaman hayati. Fungsi ekosistem hutan (penyimpanan karbon, siklus nutrisi, serta pemurnian udara dan air) ikut hilang, sehingga spesies langka terancam punah.
Sawit memang tumbuhan hijau. Ia menyerap karbon, menghasilkan buah, dan memberi manfaat bagi manusia. Namun, jangan sampai atas nama memanfaatkan satu ciptaan Allah, kita justru berlaku zalim dengan menghancurkan ciptaan-Nya yang lain. Menjaga alam bukan berarti menolak manfaatnya, melainkan memastikan manfaat itu tidak dibangun di atas penderitaan dan kerusakan.
Barangkali sawit juga bertasbih dengan caranya sendiri, sebagaimana tumbuhan lainnya. Namun bagaimana dengan manusia yang menanamnya? Apakah ia bertasbih dengan cara yang sama?
Penulis: Ulin Nikmatul Haya
Editor: Ikbar Zakariya



