Kontes Miss Universe Dalam Perspektif Hadis: Menjaga Kehormatan Seorang Wanita
Kontes kecantikan seperti Miss Universe telah menjadi fenomena global yang menonjolkan penampilan fisik dan kemampuan berbicara peserta dari berbagai negara. Kontes tersebut sering kali menjadi bahan diskusi dalam perspektif Islam, khususnya terkait dengan nilai-nilai yang diajarkan dalam Al-Qur’an dan hadis.
Namun, dalam perspektif Islam, ajang ini sering menuai kritik karena dianggap melanggar prinsip-prinsip syariat yang menekankan pentingnya menjaga kehormatan dan aurat wanita. Islam memberikan penghormatan tinggi terhadap wanita dan menetapkan batasan-batasan syariat yang bertujuan untuk melindungi kehormatan mereka.
Hadis-hadis tentang Kehormatan Wanita
Dalam perspektif hadis, menjaga kehormatan wanita adalah salah satu prinsip fundamental yang harus dipahami dan diterapkan dalam kehidupan. Rasulullah SAW bersabda:
الْمَرْأَةُ عَوْرَةٌ، فَإِذَا خَرَجَتِ اسْتَشْرَفَهَا الشَّيْطَان
“Wanita itu adalah aurat, maka apabila ia keluar (dari rumah), setan akan menghiasinya.” (HR. Tirmidzi).
Hadis ini mengajarkan bahwa seorang wanita memiliki kehormatan yang harus dijaga, baik dalam penampilan, ucapan, maupun perbuatannya. Tampil di depan umum dengan pakaian yang tidak sesuai dengan syariat berpotensi mengundang pandangan yang tidak baik dan membuka pintu fitnah.
Dalam konteks ajang kecantikan, aspek ini sering kali diabaikan demi mengejar standar kecantikan yang bersifat materialistis dan bertentangan dengan nilai-nilai Islam.
Selain itu, Rasulullah SAW juga memperingatkan tentang wanita yang berpakaian tetapi hakikatnya telanjang:
صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ… نِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ، مُمِيلَاتٌ مَائِلَاتٌ، لَا يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ، وَلَا يَجِدْنَ رِيحَهَا
“Dua golongan dari penghuni neraka… Wanita yang berpakaian tetapi telanjang, yang cenderung pada keburukan dan menarik orang lain untuk cenderung kepadanya; mereka tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya…” (HR. Muslim).
Hadis ini dengan jelas menunjukkan larangan bagi wanita untuk berpakaian yang tidak menutupi aurat secara sempurna, apalagi jika tujuannya untuk menarik perhatian. Dalam ajang seperti Miss Universe, sering kali peserta tampil dengan busana yang bertentangan dengan prinsip ini. Hal ini bertolak belakang dengan tujuan utama Islam yang mengangkat derajat wanita melalui kehormatan dan kesucian, bukan dengan eksposur fisik.
Islam mengajarkan wanita untuk menjaga kehormatan diri melalui perilaku dan cara berpakaian yang sesuai syariat. Rasulullah SAW bersabda:
إِذَا لَمْ تَسْتَحِ فَاصْنَعْ مَا شِئْتَ
“Jika kamu tidak merasa malu, maka berbuatlah sesukamu.” (HR. Bukhari).
Hadis ini mengingatkan bahwa rasa malu adalah bagian dari iman yang menjaga seorang Muslimah dari perilaku yang tidak pantas. Dalam konteks Miss Universe, rasa malu sering kali dikesampingkan demi meraih pengakuan atau penghargaan duniawi, yang sebenarnya tidak sejalan dengan nilai-nilai Islam.
Pengakuan Salah Satu Finalis
Pengakuan salah satu finalis kontes kecantikan Miss Universe Indonesia menunjukkan bahwa acara semacam ini dapat merendahkan martabat dan kehormatan perempuan, khususnya perempuan Muslimah. Mempertontonkan aurat kepada khalayak bukanlah sesuatu yang dapat meningkatkan penghormatan terhadap wanita, melainkan sebaliknya, justru dapat menurunkan martabat mereka.
Selain bertentangan dengan ajaran agama, tindakan tersebut juga melanggar hukum negara, terutama jika benar terjadi pelecehan seksual seperti yang diungkapkan oleh salah satu finalis.
Baca juga: Bahaya Modernitas Gen Z Menurut Pandangan Islam
Pandangan Ulama
Pandangan ulama terhadap ajang seperti Miss Universe umumnya mengkritik pelaksanaannya karena dinilai bertentangan dengan nilai-nilai Islam, terutama terkait aurat dan penghormatan terhadap perempuan. Ulama seperti Yusuf Qaradhawi, seorang cendekiawan Muslim, menegaskan pentingnya menjaga aurat dan kehormatan perempuan sesuai syariat.
Di Indonesia, ulama dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) sering menyuarakan keberatan terhadap ajang-ajang kecantikan yang mengekspos aurat di depan umum. Hal itu karena dianggap tidak sesuai dengan ajaran Islam. Selain itu, tokoh-tokoh seperti Buya Yahya juga menyampaikan bahwa keindahan perempuan tidak seharusnya menjadi ajang kompetisi yang mempertontonkan fisik, melainkan difokuskan pada kepribadian, ilmu, dan amal saleh. Pandangan ini mencerminkan keprihatinan terhadap eksploitasi perempuan dalam budaya populer yang dianggap dapat merendahkan martabat mereka.
baca juga: Memperlihatkan Sedekah di Media Sosial, Bolehkah?
Kesimpulan
Jadi, dalam perspektif hadis, ajang Miss Universe dapat dianggap tidak sesuai dengan prinsip Islam karena menonjolkan aurat, mengabaikan rasa malu, dan mengesampingkan nilai-nilai kesalehan. Wanita dalam Islam dihormati karena akhlaknya, bukan karena penampilannya.
Oleh karena itu, umat Islam hendaknya lebih mendorong wanita untuk mengembangkan potensi dan kontribusinya dalam masyarakat melalui jalan yang sesuai dengan syariat, tanpa melupakan kehormatan dan kesucian dirinya. Dengan demikian, wanita Muslimah dapat menjadi teladan yang menginspirasi tanpa harus melanggar batas-batas yang telah ditetapkan oleh agama.
Penulis: Wahidatul Nikmah
Editor : Ahmad AY



