Artikel

Pepeling Musuh dalam Selimut: Perpecahan Kerajaan Islam di Nusantara

Perpecahan kerajaan Islam dapat menjadi ibrah untuk memperkuat persatuan Indonesia. Indonesia merupakan negara yang kaya akan keberagaman agama, suku, ras, budaya, dan adat.

Salah satu bentuk keberagaman yang kita rasakan adalah perbedaan Agama. Perbedaan agama sering dianggap sebagai penyulut terjadinya perpecahan.

Adagium Sesama Muslim adalah Saudara

Indonesia merupakan negara dengan pemeluk agama Islam terbesar. Hal ini menyebabkan sering munculnya opini yang mengatasnamakan Islam guna menggiring pada perpecahan. Padahal kita selalu mengenal suatu adagium bahwa “sesama muslim merupakan saudara”.

 Namun, berita yang kita dengar selama ini terkadang membuat kita berpikir apakah ungkapan tersebut benar adanya.

Pecahnya Masyarakat Aceh

Peribahasan mengenai “musuh dalam selimut” bisa menjadi pepeling bahwa terkadang perpecahan bisa muncul dari hal-hal yang berada di sekitar kita. Salah satu ibrah mengenai hal ini yang dapat kita ambil adalah pepeling dari pecahnya masyarakat Aceh ketika kerajaan Aceh Tengah berkuasa.

Perpecahan kerajaan Aceh pada saat itu tidak lepas dari orang luar yang mempelajari kondisi sosial kegamaan masyarakat Aceh.

Baca juga: Cahaya Hidup Badiuzzaman Said Nursi, Ksatria dari Turki

Kondsi masyarakat Aceh ketika itu dikenal sebagai masyarakat yang solid, sehingga Belanda sulit untuk menaklukannya. Kota yang dikenal dengan Serambi Makkah tersebut memiliki hukum yang mengikat terhadap masyarakatnya. Kita mengenal hukum yang diterapkan di masyarakat Aceh adalah hukum Islam.

Sedangkan jika kita membaca sejarah kerajaan Aceh dulu, hukum yang diterapkan menyesuaikan dengan kondisi sosial masyarakat Aceh. Masyarakat Aceh pada masa itu dibedakan menjadi beberapa golongan, salah satunya golongan teuku dan tengku.

Upaya Belanda dalam Memecahkan Masyarakat Aceh

Kolonial Belanda memikirkan bagaimana agar Aceh ini dapat ditaklukan, karena yang tampak dari luar kondisi Aceh sama dengan kota lain yang dapat ditaklukan oleh Belanda. Belanda melakukan politik Islam dengan mengutus Snouck Hurgonje untuk mempelajari masyarakat Aceh.

Penunjukan Snouck Hurgonje oleh kolonial Belanda tentu atas pertimbangan yang cukup besar. Snouck Hurgonje merupakan tokoh Belanda yang cukup paham dengan Islam karena pernah melakukan penelitian tentang jamaah haji Belanda yang di Makkah. Selain itu, Snouck Hurgonje juga cukup mahir berbahasa Arab.

Kamuflase Sosok Snouck Hurgonje

Strategi yang digunakan Snouck Hurgonje dalam menaklukan kerajaan Aceh adalah dengan memahami karakteristik dari masyarakat Aceh. Selain itu untuk lebih meyakinkan masyarakat Aceh, Snouck Hurgonje berkamuflase dengan masuk Islam.

Snouck Hurgonje melihat bahwa masyarakat Aceh adalah sebagian besar umat Muslim yang taat pada agama. Dilain sisi, Snouck Hurgonje menyamarkan namanya sebagai Abdul Ghaffar agar lebih terlihat murni sebagai seorang Muslim.

Motivasi Masyarakat Aceh dalam berjihad

Salah satu penyebab Perang Aceh sulit ditaklukan oleh Belanda adalah tekad kuat masyarakat Aceh untuk memerangi Belanda yang statusnya bukanlah kelompok Muslim. Masyarakat Aceh menganggap ini sebagai bentuk dari jihad mereka. Menurut Snouck Hurgonje, semangat jihad yang tertanam dalam masyarakat Aceh menjadi motivasi dan pemasok semangat.

Upaya Snouck Hurgonje Mencuri Informasi

Guna mendapatkan informasi mengenai bagaimana kondisi sosial masyarakat Aceh secara spesifik, hal utama yang dilakukan oleh Snouck Hurgonje adalah melakukan pernikahan dengan seorang Muslimah yang memiliki status sosial yang cukup terpandang.

Diantara wanita Muslimah yang dinikahi oleh Snouck Hurgonje adalah seoarang anak penghulu besar Ciamis, Raden Haji Muhammad Ta’ib yaitu Sangkana. Snouck Hurgonje melanjutkan pada pernikahan kedua dengan Siti Sadijah, putri Haji Muhammad Su’eb selaku wakil penghulu di Bandung.

Pernikahan Snouck Hurgonje dengan orang-orang terpenting memiliki arti tersendiri yakni agar memudahkan dirinya untuk mendapatkan informasi mengenai kondisi masyarakat Aceh. Pernikahan Snouck Hurgonje hanya sebagai topeng untuk menutupi aksi dari Snouck Hurgonje.

Penangkapan Ulama’ dan Sultan

Aksi lain yang dilakukan oleh Snouck Hurgonje dalam menaklukan Aceh adalah dengan menangkap para ulama dan sultan. Apabila para ulama dan sultan tidak mau menyerah, maka istri mereka yang menjadi tawanan.

Selanjutnya, Snouck Hurgonje memecah belah pemeluk Islam yang fanatic karena beranggapan bahwa Islam bukanlah agama, melainkan politik. Salah aksi politik adu domba yang dilakukan oleh Snouck Hurgonje adalah memisahkan hukum adat dan hukum Islam.

Hal ini dilakukan dengan tujuan agar masyarakat dapat terpecah karena kekuatan kerajaan Aceh terletak pada solidaritas keluarganya.

Baca juga: Saat KH Saifuddin Zuhri Keberatan Snouck Hurgronje Disebut Santri

Dari sejarah tersebut dapat diambil ibrah bahwa politik adu domba yang sekarang cukup mengganggu kehidupan kita, terkadang tanpa kita sadari itu merupakan tujuan dari pihak luar yang ingin memecah belah.

Terkadang hal yang tumbuh dari kita adalah saling memfitnah dan tidak percaya terhadap masyarakat kita. Salah satu hal yang dapat merekatkan persatuan adalah menghargai setiap perbedaan dan kepercayaan terhadap masyarakat kita.

Penulis: Yusni Diana Sufi

Editor: Fani Azfar

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *