Tokoh yang diceritakan dalam novel karya Kang Abik dengan judul “Api Tauhid” sukses membuat para pembaca makin penasaran serta ingin mengulik lebih dalam tentang sosok tokoh yang ada di dalamnya. Badiuzzaman Sa’id Nursi merupakan seorang tokoh mujaddid (pembaharu) Islam yang berasal dari Turki. Seorang lelaki sholeh yang hidup pada akhir zaman pemerintahan Khalifah Utsmaniyah sampai awal zaman selepas itu (mukhadram).
Benar kata Tan Malaka yang qoutesnya selalu digaungkan kawula muda “Terbentur, terbentur, terbentuk.” Begitulah kehidupan Said kecil hingga beliau tua, kehidupan tak ada artinya apabila kebenaran tak disuarakan, pengorbanan adalah hal utama, begitu kira -kira prinsipnya. Badiuzzaman Sa’id Nursi sangat indah dalam memaknai kehidupan, selalu husnudzon terhadap takdir Tuhan, serta sabar dalam menghadapi cobaan.
Baca juga: Cahaya Kehidupan
Salah satu maqolah yang menunjukkan betapa tingginya maqom keimanan beliau dalam salah satu karya beliau sebagai bentuk dari pembelaan terhadap Risalah Nur yang berjudul “Cahaya Iman Dari Bilik Tahanan.” beliau berkata :
من امن من القدر امن من الكد
Barangsiapa percaya terhadap Taqdir maka ia aman dari kesedihan
Sebagaimana judul diatas “Cahaya Iman Dari Bilik Tahanan.” Salah satu buah dari penjara Denizli yaitu penjara tempat di mana beliau ditahan. Said Nursi benar – benar menjalani kehidupannya selama bertahun – tahun di penjara, tidak hanya itu beliau juga berkali – kali diasingkan oleh pemerintah Turki yang pada saat itu berkuasa. Menariknya, Said Nursi memaknai penjara tidak selalu buruk, bahkan beliau menyebut penjara dengan sebutan Madrasah Yusufiyah (penjara) yang dinisbatkan pada Nabi Yusuf ‘As. mungkin dengan adanya inspirasi dari kisah Nabi Yusuf dan dengan kekuatan Iman terhadap takdir Allah buktinya dari penjara lahirlah karya – karya fenomenal beliau salah satunya Risalah Nur. Kisah ini merupakan gambaran dari definisi ayat
قَالَ رَبِّ السِّجْنُ أَحَبُّ إِلَيَّ مِمَّا يَدْعُونَنِي إِلَيْهِ
Sisi lain yang sangat menarik dari Said Nursi adalah beliau selalu bercakap dengan tubuhnya dan berkata “hari ini kamu telah membantu aku dalam mengerjakan ibadah, dengannya aku mendekatkan diri kepada Allah Swt.” Dan beliau juga berbicara pada matanya “ aku sangat bersyukur karena dengan bantuanmu aku dapat membaca Al – Qur’an dan menghayatinya.” Beliau juga bercakap dengan telinganya, badannya, dan lain – lainnya. Dengan penuh tawakal serta sadar kalau semua itu milik Tuhan Said Nursi berkata lagi “tapi satu masa nanti kita akan berpisah, aku akan hilang darimu dan kamu hilang dariku. Badan kita akan terpisah dan lenyap dimakan tanah. Selamat tinggal, insyaAllah kita akan bertemu kembali pada hari kiamat nanti.” Masyaallah sungguh indah kehidupan yang selalu diiringi rasa syukur dan keridhoan terhadap takdir yang telah ditentukan. Wallahua’lam Bisshowab.
Penulis: Zaidatur Rizqiyah
Editor: Musa Al Kahfi



