Perlukah Merayakan Maulid Nabi Muhammad SAW ?
Penulis: Ahmad Depri Kurniawan/Editor: Faiz Nur Musyafa'
Ketika memasuki bulan Robi’ul Awal atau sering juga disebut dengan bulan maulid (bulan kelahiran Nabi) tepatnya pada 12 Robi’ul Awal, sebagian besar umat Islam di dunia merayakannya. Terlepas dari banyaknya tuduhan bahwa perayaan maulid nabi adalah bid’ah yang tercela dan tuduhan lain yang tidak berdasar.
Entah atas dasar apa tuduhan mereka yang mengatakan bahwa perayaan maulid nabi adalah bid’ah yang tercela bahkan bid’ah yang diharamkan. Ini tidak bisa serta-merta kita terima begitu saja, karena tidak semua bid’ah adalah bid’ah yang tercela apalagi sampai diharamkan.
Alangkah lebih baiknya jika kita melihat beberapa pendapat ulama terlebih dahulu, baik ulama-ulama yang notabene menjadi panutan di luar Ahlussunnah wal Jamaah seperti Syekh Ibnu Taimiyah dan Ibnu al-Jauzi, maupun ulama dari kalangan Ahlussunah wal Jamaah sendiri.
Adapun ulama-ulama yang berpendapat tentang perayaan maulid Nabi, diantaranya :
1. Ibnu al-Jauzi
Ibnu al-Jauzi pernah mengadakan perayaan Maulid Nabi dan dihadiri oleh tokoh-tokoh sufi dan beliau mengatakan “Termasuk dari keutamaan merayakan maulid adalah diberi aman oleh Allah pada tahun itu serta kabar gembira berupa segala maksud tujuannya dikabulkan oleh Allah”.
2. Sayyid bin Muhammad Alawi Al-Maliki
Sayyid bin Muhammad Alawi Al Maliki mengemukakan beberapa pandangannya terkait maulid Nabi SAW :
Pertama, Kami berbendapat bahwa boleh mengadakan peringatan maulid nabi dan mengadakan majelis perkumpulan untuk mendengarkan sejarahnya, mendengarkan pujian-pujian yang beliau berhak dengan pujian itu, memberi sedekah makanan, dan menggembirakan hati umat islam.
Kedua, Kami tidak berpendapat sunnahnya mengadakan peringatan maulid Nabi pada malam tertentu.
Ketiga, Pertemuan dalam peringatan maulid Nabi merupakan wasilah (perantara) yang agung untuk berdakwah mengajak umat manusia beriman kepada Allah. Perayaan ini merupakan kesempatan bagi para ulama untuk mengingatkan mereka kepada Nabi Muhammad SAW, akhlaq beliau yang terpuji, adab-adab beliau, perilaku beliau, sejarah hidup beliau, ibadah beliau, cara bergaul beliau dengan sahabat beliau ataupun dengan orang-orang lainnya, dan sebagainya.
3. Sayyid Hasan Basri
Sayyid Hasan Basri, seorang ulama’ besar dan sufi kenamaan dari kalangan Tabi’in yang dijuluki “Akbar at Tabi’in” pernah mengatakan: “Aku berharap kalau aku mempunyai emas sebesar gunung uhud, akan akau belanjakan semuanya untuk keperluan pembacaan Maulid Rosul”.
4. Syekh Junaid Al Baghdadi
Syekh Junaid Al Baghdadi, seorang ulama besar dan waliyullah yang masyhur pernah berkata: “Barangsiapa menghadiri Maulid Rosul dan mengagungkannya, maka dia mendapatkan keberuntukan iman”.
5. Syekh Ma’ruf al Karhiy
Syekh ma’ruf al Karhiy pernah berkata: “Barangsiapa mempersiapkan hidangan untuk peringatan Maulid Nabi, kemudian mengundang karib kerabat, menyalaka lampu, memakai pakaian baru, memakai wewangian, serta memperindah diri untuk mengagungkan Maulid Nabi, maka Allah akan mengumpulkannya bersama dengan kelompok pertama dari para nabi dan dia akan menempati tempat di surga yang paling tinggi”.
Baca juga : Wujudkan Rasa Syukur Melalui Peringatan Maulid Nabi
6. Syekh Ibnu Taimiyah
Syekh Ibnu Taimiyah dalam Kitabnya Iqtidlo’ ash Shiroth al Mustaqim menyatakan bahwa mengagungkan peringatan Maulid Nabi akan mendapatkan pahala yang agung. Sebagaimana yang dikatakan berikut ini “Mengagungkan Maulid Nabi dan menjadikannya sebagai acara musiman dilakukan sebagian orang. Mereka akan memperoleh pahala yang agung dengan niatnya yang bagus dan mengagungkan Rosululloh SAW, sebagaimana telah aku terangkan kepadamu sebelumnya”.
7. Imam Yafi’i al Yamani
Imam Yafi’I al Yamani berkata: “Barangsiapa mengumpulkan sahabat-sahabatnya untuk mengadakan Maulid Nabi kemudian menghidangkan makanan, menyiapkan tempat yang baik dan berbuat kebaikan yang semua itu dipersiapkan untuk membaca Maulid Rosul, maka Allah akan menempatkannya bersama para Shiddiqin, Syuhada’, dan orang-orang sholih pada hari kiamat serta menempati surge na’im”.
Baca juga : Kisah Habib Munzir Dan Tobatnya 20 Pemuda
8. Syekh Sirri as Saqothi
Syekh Sirri as Saqothi as Saqothi mengatakan: “Barangsiapa menuju tempat dibacakan Maulid Rosul, maka dia benar-benar menuju tempat pertamanan surge disebabkan dia menuju tempat itu karena cinta semata kepada Rasulullah SAW”.
9. Syekh Jalaluddin as Suyuti
Syekh Jalaluddin as Suyuti berkata: “Tidaklah suatu rumah atau masjid atau tempat lain yang di dalamnya dibaca Maulid Rosul kecuali para Malaikat melingkupi penghuni tempat-tempat itu dan Allah menyelimuti mereka dengan Rahmat-Nya”.
Demikianlah, beberapa pendapat ulama tentang perayaan Maulid Nabi. Harapannya setelah mengetahui hal tersebut kita semua bisa memahami pentingnya merayakan Maulid Nabi, bukan malah ikut menuduh dengan tuduhan-tuduhan yang tak berdasar dan menganggapnya sebagai bid’ah yang sesat dan haram.



