Artikel

Puncak Kebahagiaan Adalah Menangis, Puncak Kesedihan Adalah Tertawa

Rasa bahagia dan sedih adalah bagian dari emosi manusia. Setiap dari kita pasti merasakannya, salah satu konsep kebahagiaan adalah kebahagiaan otentik. Kebahagiaan tersebut dibagi menjadi tiga yaitu kebahagiaan yang menyenangkan (the pleasant life), berinteraksi dengan sekitar (the engaged life) dan kebahagiaan yang bermakna (the meaningful life). Dalam Islam, kebahagiaan merupakan ketenangan hati dan ketenangan jiwa yang tidak hanya bersifat duniawi namun juga melibatkan aspek spiritual ukhrawi.

Selain ada kebahagiaan ada juga kesedihan, dalam dunia kesehatan, kesedihan diartikan emosi yang dipicu oleh suatu peristiwa, pengalaman hingga situasi yang menyakitkan atau mengecewakan.

Baca juga: Tertawa Karena Cerita Luka, Bukan Karena Lucu, Tapi Karena Lelah

Secara umum, ekspresi emosi manusia ada 2, menangis dan tertawa. Menangis sebagai pertanda kesedihan, dan tertawa sebagai tanda kebahagiaan. Tidak ada larangan seseorang untuk tertawa ataupun menangis, menurut studi tertawa dapat mengurangi stress dan kecemasan. Sedangkan menangis juga diperbolehkan asalkan tidak berlebihan, misalnya seperti menangisi saudara yang sudah meninggal. Telah dicontohkan oleh Rasulullah, beliau pernah menangis meneteskan air mata ketika melepas putranya, Ibrahim.

Dalam kehidupan sehari-hari, kebahagiaan tak selalu hadir dalam tawa, kadang justru kita menemukannya dalam tangis. Seperti saat melaksanakan sholat tahajud di keheningan malam, saat air mata taubat mengalir karena menyadari dosa-dosa, atau ketika hati tersentuh oleh besarnya kebaikan Allah yang telah dianugerahkan kepada kita. Sebagaimana digambarkan dalam surat Al-Isra ayat 107–10

قُلْ ءَامِنُوا۟ بِهِۦٓ أَوْ لَا تُؤْمِنُوٓا۟ ۚ إِنَّ ٱلَّذِينَ أُوتُوا۟ ٱلْعِلْمَ مِن قَبْلِهِۦٓ إِذَا يُتْلَىٰ عَلَيْهِمْ يَخِرُّونَ لِلْأَذْقَانِ سُجَّدًۭا ١٠٧ وَيَقُولُونَ سُبْحَـٰنَ رَبِّنَآ إِن كَانَ وَعْدُ رَبِّنَا لَمَفْعُولًۭا ١٠٨ وَيَخِرُّونَ لِلْأَذْقَانِ يَبْكُونَ وَيَزِيدُهُمْ خُشُوعًۭا ۩ ١٠٩

Katakanlah (Muhammad), “Berimanlah kamu kepadanya (Al-Qur`an) atau tidak usah beriman (sama saja bagi Allah). Sesungguhnya orang yang telah diberi pengetahuan sebelumnya, apabila (Al-Qur`an) dibacakan kepada mereka, mereka menyungkurkan wajah bersujud, dan mereka berkata, Mahasuci Tuhan kami; sungguh, janji Tuhan kami pasti dipenuhi. Dan mereka menyungkurkan wajah sambil menangis dan mereka bertambah khusyuk.”

Baca juga: Senyum di Wajah, Luka di Hati: Buat Kamu yang Lagi Berjuang Sendirian

Dari penjelasan di atas, tangis bukanlah sebuah kelemahan melainkan bentuk kedekatan ruhani. Selain menangis karena bahagia, mungkin kita juga pernah menghadapi kesedihan dengan tertawa. Keadaan sedih yang membuat kita kuat menghadapinya salah satunya adalah dengan cara tertawa. Bukan berarti ketika sedih kita tidak boleh menangis, hanya saja kita harus tahu dan mengerti setiap porsi emosi yang kita miliki.

Dikutip dari Alodokter, regulasi emosi bermanfaat untuk kesejahteraan diri dan kesehatan mental. Selain memberi manfaat untuk diri sendiri, bermanfaat juga dalam membangun hubungan yang sehat untuk meningkatkan kinerja kita. Ketika sudah memiliki regulasi emosi yang baik, maka kita bisa merespon situasi dengan tenang dan efektif.

Tidak  mudah untuk mencapai sebuah ketenangan, cara terbaik untuk mengatasi emosi adalah dengan merelakan dan tidak menyimpan dendam. Kamu tidak mungkin dapat mengubah situasi, namun kamu dapat mengubah pemikiranmu. Puncak Kebahagiaan adalah menangis, menangis saat bahagia adalah tanda hati yang hidup. Puncak kesedihan adalah tertawa, tertawa saat sedih menjadi pertanda hati yang sedang lelah dan butuh bersandar kepada Allah swt.

Penulis: Ayu Setia Ningsih

Editor: Musa Al Kahfi

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *