Santri dan Sandal Kiai: Simbol Adab dan Cinta Santri
Di lingkungan pesantren, ada banyak tradisi yang tampak sederhana, bahkan sepele bagi sebagian orang luar. Namun, di balik kesederhanaan itu, tersembunyi nilai-nilai luhur yang membentuk karakter para santri. Salah satu tradisi tersebut adalah menata sandal kiai.
Yang menarik, santri yang menata sandal kiai biasanya tidak diminta. Tidak ada jadwal piket atau instruksi khusus. Mereka melakukannya dengan sukarela, lahir dari rasa cinta dan hormat. Bahkan, kadang terjadi ‘persaingan diam-diam’ antar santri untuk bisa lebih dulu menata sandal sang kiai. Bahkan, dua ulama besar nusantara, yaitu KH. Hasyim Asya’ari dan KH. Ahmad Dahlan juga pernah melakukan hal ini. Saat masih nyantri di Semarang. Tak jarang beliau berdua berebut untuk menata sandal gurunya, Kia Sholeh Darat.
Baca juga: Berkah Membalik Sandal Kiai
Al-Habib Ali bin Hasan Baharun dalam kitabnya Fawaidul Mukhtaroh menyebutkan keutamaan tradis ini:

“Tabarruk melalui sandal seorang wali lebih utama daripada selainnya, karena sandal dipakai untuk membawa jasad seutuhnya”.
Selain karena keutamaan tersebut, tradisi ini juga menunjukkan bahwa wujud cinta di pesantren tidak hanya bersifat verbal atau romantis. Cinta di pesantren adalah pengabdian, bahkan hanya melalui sepasang sandal yang diletakkan dengan hati-hati.
Baca juga: Menyelamatkan Terma “Barokah Pesantren” dari Logika Mistika
Bagi sebagian orang, menata sandal mungkin hanya perkara kebersihan atau kerapian. Tapi bagi seorang santri, menata sandal kiai adalah bagian dari adab dan penghormatan. Sebuah bentuk cinta yang diwujudkan dalam tindakan nyata, bukan sekadar ucapan.
Sayangnya, tradisi seperti ini mulai jarang ditemui di zaman yang serba cepat dan cenderung individualistis. Meskipun demikian, prinsip-prinsip yang terkandung dalam tradisi menata sandal sangat relevan dalam membentuk karakter generasi muda. Ini adalah warisan moral yang harus dijaga, dikenalkan, dan digunakan sebagai inspirasi. Karena pada akhirnya, dunia ini tidak kekurangan orang pintar, tapi seringkali kekurangan orang yang beradab.
Sumber Rujukan:
Kitab Fawaidul Mukhtaroh
Buku Gus Dewa Menjawab, Qultummedia
Penulis: Izza Anwar



