
Semilir angin pagi berhembus sepoi-sepoi. Menyibak rambut-rambut ikal para bocah yang berlarian di antara gang. Awan putih bak kapas berhamburan, turut menyumbangkan keindahan lukisan pada kanvas langit Sang Tuhan. Setiap peristiwa yang belalu selalu menyisakan kenangan. Kenangan tersebut akan tetap menjadi kenangan jika kita mengenangnya. Mengenang itu perlu! Namun apakah cukup dengan mengenang semata?
Mengenang Berarti Mempertahankan
Mengenang kemerdekaan sangatlah penting bagi tiap warga negara. Karena dengan mengenang kemerdekaan, kita akan mengingat betapa besar perjuangan para pendahulu kita dalam merebut Indonesia dari cengkraman penjajah. Sehingga dengan mengingat peristiwa tersebut, akan membangkitkan semangat dan cita-cita kita dalam mempertahankannya. Dari sini, kesimpulan yang di dapat bahwa mengenang berarti mempertahankan.
Bebeberapa waktu lalu, warga negara Indonesia merayakan kemerdekaannya. Memasang bendera merah-putih, umbul-umbul, panjat pinang, balap karung, balap kelereng, upacara, dan tidak lupa bersua di depan kamera.Momen kemerdekaan 17 Agustus tahun ini memang sudah berlalu.
Namun, bukan berarti kita tidak perlu mengenang kemerdekaan itu lagi di bulan setelahnya. Bentuk mengenang kemerdekaan pun tidak hanya dengan nobar film kemerdekaan atau upacara saja.
Seperti yang telah saya simpulkan pada paragraf sebelumnya, mengenang berarti mempertahankan. Maka, tugas kita dalam mengenang kemerdekaan setelah berlalunya bulan Agustus yakni mempertahankan eksistensi Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Baca juga : Mengenal Penghulu Viral Asal Malang, Sosok Tawadlu dan Akademisi
Menjaga NKRI adalah kewajiban kita. Terlebih bangsa Indonesialah yang mewadahi berbagai macam agama dan budaya, sehingga terdapat kebhinekaan dalam satu wadah ini. Terkhusus bagi kita warga Islam, sangatlah penting mendoktrinkan bahwa mencintai Negara adalah sebagian dari Iman. Mengapa? Coba kita ingat-ingat kembali. Berkat kemerdekaan, Umat Islam dapat menunaikan salat dengan aman. melaksanakan tahlilan, mengaji, selametan dengan aman.
Andai Indonesia belum merdeka, andai Indonesia tertimpa musibah perang saudara, Na’udzubillahimindzalik, mungkin umat Islam tidak akan bisa jum’atan, anak-anak tidak bisa ngaji, dan bersekolah. Kegiatan keagamaan akan terbatasi atau bahkan dilarang. Jadi esensinya mengenang, menjaga, mensyukuri, dan mempertahankan kemerdekaan Negara adalah menjaga Islam itu sendiri. Hubbul Waton Minal Iman, mempertahankan NKRI adalah bagian kesempurnaan Iman.
Bersyukur menjadi Warga Indonesia
Begitu mahalnya kemerdekaan, hingga beberapa negara di luar sana banyak yang ketakutan karena diserbu oleh penjarah. Maka syukurilah kemerdekaan yang saat ini sudah menjadi bagian dari hidup kita. Barokah dari adanya kemerdekaan, kita dapat bekerja, belajar, mengajar, serta pemerintahan dapat berjalan dengan aman terkendali.
Baca juga : Serangan Corona yang Menutup Ingatan pada Peristiwa Besar Islam
Bersyukurlah hidup di NKRI apapun keadaannya. Semisal, sekarang kita menghadapi PPKM. Pemerintah RI bukanlah berusaha mengurung atau memborgol kita dalam negeri sendiri, bukan. Pada dasarnya, keputusan ini adalah upaya untuk merealisasikan salah satu Maqasid syari’ah yakni hifdzun nafs (menjaga jiwa). Bagaimanapun keadaannya, bersyukurlah dan pertahankanlah bahwa kita dalah Negara Merdeka.
Penulis : Novia Q.A.
Editor : F. Azfar



