Sepulang dari perang Badar, Nabi pernah berujar;
رَجَعْتُمْ مِنَ اْلجِهَادِ اْلأَصْغَرِ إِلَى الجِهَادِ الأَكْبَرِ فَقِيْلَ وَمَا جِهَادُ الأَكْبَر يَا رَسُوْلَ الله؟ فَقَالَ جِهَادُ النَّفْسِ
Kalian telah pulang dari sebuah pertempuran kecil menuju pertempuran akbar. Lalu sahabat bertanya, “Apakah pertempuran akbar (yang lebih besar) itu wahai Rasulullah? Rasul menjawab, “jihad (memerangi) hawa nafsu.”
Pasukan Muslim yang Hanya Berjumlah 313
Bisa kita ketahui bahwa perang Badar adalah perang pertama umat Islam melawan musuh-musuhnya. Saat itu pasukan muslim yang hanya berjumlah 313 (ada yang mengatakan 319) melawan pasukan kafir Quraisy yang berjumlah 1000 orang dengan peralatan perang yang lengkap.
Tentu bukan perkara yang mudah, namun dengan bantuan dan izin Allah pasukan muslim dapat memenangkan pertempuran. Perang yang begitu dahsyat tersebut Rasulullah masih mengkategorikannya sebagai pertempuran kecil, bagaimana jadinya dengan pertempuran yang lebih besar dan dahsyat lagi?
Jihad Melawan Hawa Nafsu
Ternyata perang yang lebih besar itu adalah jihad melawan hawa nafsu yang ada pada diri kita sendiri. Al-Qur’an membagi nafsu menjadi 3 jenis yang pertama ada Nafsu Ammaratun bis suu’, yang kedua ada Nafsu Lawwamah, serta yang ketiga Nafsu Muthmainnah.
Nafsu Ammarah
Nafsu ammarahlah yang selalu memerintah keburukan, nafsu yang menghimpun kuatnya rasa marah, selalu diikuti sifat-sifat tercela, jauh dari Allah, serta termasuk bala tentara atau langkah setan untuk mengarahkan manusia kepada penyesalan dan kebinasaan.
Bava juga: Alpha Blondy: Seni Berdakwah melalui Musik Reggae
Karenanya, nafsu ini wajib diperangi, ditentang keinginannya, serta dikendalikan sebagaimana yang dipesan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di atas. (Lihat: al-Ghazali, Ihya ‘Ulumiddin, [Beirut: Darul Ma’rifah], Jilid 3, hal. 4).
Nafsu Lawwamah
Yang kedua ada Nafsu Lawwamah, nafsu ini dibagi menjadi dua Lawwamah Mulawwamah (nafsu yang dipersalahkan) dan nafsu Lawwamah Ghair Mulawwamah. Untuk nafsu Lawwamah Mulawwamah inilah yang akan dipermasalahkan dan dibenci oleh Allah karena orang yang melakukannya tidak pernah introspeksi diri dan menyesali perbuatan buruknya.
Sedangkan nafsu Lawwamah Ghair Mulawwamah bisa termasuk nafsu yang mulia, sebab seseorang yang melakukan kesalahan dan menyesali perbuatannya padahal ia sudah bersungguh-sungguh untuk menjalankan ketaatan itu lebih baik dari pada yang pertama tadi.
Baca juga: Berpetakumpet dengan Tuhan
Namun, berbeda dengan pendapat Abu Hasan al-Bashri. Nafsu lawwamah adalah nafsu seorang mukmin. Sebab, orang mukmin tidak melihat nafsu kecuali menyalahkannya. Mengapa engkau melakukan ini? Mengapa engkau tidak melakukan ini, padahal ini lebih baik, dan seterusnya. (Lihat: Syekh Ahmad Farid, Tazkiyatun Nufus, [al-Iskandariyyah: Darul ‘Aqidah lit-Turats]. 1993, Jilid, 1, hal. 69).
Dari ketiga jenis nafsu di atas, kitab bisa melihat di manakah posisi kita saat ini? Sebab itu musuh yang paling berbahaya, bukan yang paling kuat, gagah, dan lengkap persenjataannya. Namun musuh yang paling berbahaya adalah musuh yang tidak tampak dan bersembunyi di dalam diri kita sendiri tak lain adalah hawa nafsu.
Bisa Menjadi Hal yang Positif Jika Kita Bisa Mengendalikannya
Sejatinya, nafsu tidak selalu menjurus kepada keburukan, ia bisa menjadi hal yang positif jika kita bisa mengendalikannya. Sebaliknya, ia juga bisa menjadi musuh yang membinasakan bila kita kalah dengannya. “Nafsu itu dikendalikan, bukan dimatikan.” Tutur Prof. Quraish Shihab.



