Cerpen

Makhluk Di Balik Dinding Kaca

           Disisi sebuah ruang, terlihat sebuah balok berdindingkan kaca. Beberapa makhluk air berenang santai meliuk dengan anggun di dalamnya. Ada semacam hiasan istana yang makin menyempurnakan pandangan. Sekilas, atau berlama sekalipun, balok itu akan tetap terlihat indah dipandang dari luar, sebuah keindahan yang menyempurnakan keindahan yang lain.

            Dari dalam kotak, sepasang bola mata tak hentinya menatap keluar, menembus dinding kaca transparan, mengamati setiap kejadian. Makhluk air lain pun tampak heran, entah apa yang sedang dilakukan sang kawan.

             “Apa gerangan yang sedang kau lakukan?”

             “Menatap dunia luar, mendambakan diriku menjadi bagian darinya”

             “Haha, untuk apa? Bukankah disini kita bahagia? Makanan tersedia, hidup sejahtera, jauh dari marabahaya”

             “Bagimu. Bukan bagiku”

            Terdiam.

             “Apa yang sebenarnya kau inginkan di luar sana?”

             “Kebebasan”

             “Apa maksudmu? Bukankah kita sudah bebas disini?”

             “Aku tak yakin hanya dengan dimanja, diperlakukan istimewa, adalah sebuah kebebasan”

             “Kau meracau, Kawan. Disinilah surga, kita tak perlu lagi kesulitan mencari makan, tak lagi takut dunia luar yang mengancam”

             “Surga?”, terdiam sejenak, “kau melupakan sesuatu”

             “Ah, terserah kau saja”, berpaling.

            Hari nampak berganti rupa, masa telah berubah, dan semua tak lagi sama. Ada kegaduhan di antara makhluk air. Ada yang aneh, beberapa hari tanpa makanan. Manusia lupa. Air pun mulai keruh, tak lagi sebening dulu. Dan satu persatu, terenggut ajal tanpa di “surga” yang mereka cipta.

  Oleh: Silva Al Faiz

baca juga : KH. Bashori Alwi, sang maestro guru Quran

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *