Mencari Kebahagiaan
Pada momen-momen tertentu kita pasti pernah berpikir, apa sih sebenarnya yang dicari dalam hidup ini. Apa pencapaian terbesar seseorang dalam menjalani kehidupannya selama di dunia? apakah itu berupa kekayaan? ketenaran? kepopuleran? ketampanan atau kecantikan? Jabatan? Kedudukan? atau seluruh kenikmatan duniawi harus kita raih semuanya? Ternyata pilihan tersebut salah semua.
Pencapaian Terbesar Manusia?
Pencapaian terbesar manusia dalam menjalani kehidupan ini adalah kebahagiaan. Apa gunanya jika kita mempunyai semua kenikmatan tapi tidak bisa bahagia, selalu gelisah, selalu merasa cemas, pikiran tidak tenang, stres berkepanjangan, dan keresahan-keresahan lainnya.
Lalu bagaimana caranya mencari kebahagiaan? Fahruddin Faiz dalam bukunya yang berjudul “Menjadi Manusia Menjadi Hamba” menceritakan sebuah kisah yang sangat fenomenal untuk menjawab bagaimana caranya agar kita bisa bahagia.
baca juga: 5 Hikmah Isra Mi’raj: Dari Pentingnya Sowan Sesepuh hingga Keharusan Miliki Guru
Kisah Sufi dan Tamunya
Suatu ketika ada seseorang sedang berkunjung ke rumah seorang sufi yang kaya raya. Orang tersebut mempunyai keinginan untuk meminta nasihat. Tapi, sufi kaya itu mengaku tidak memiliki bakat memberi nasihat. Dia hanya menyuruh tamunya menginap di rumahnya. Tamu tersebut diberi tempat tidur yang menggantung, di tengah-tengah ruangan.
Ranjang yang disediakan untuknya adalah ranjang terbaik, yang sangat nyaman untuk tidur. Tapi, di atas ranjang tersebut diletakkan banyak tombak yang menggantung dan bergoyang-goyang, yang sewaktu-waktu bisa jatuh. Sedangkan di bawah ranjang terdapat banyak ular yang kapan saja bisa mematuk dan mengeluarkan bisanya.
Semalam suntuk tamu itu tidak bisa tidur nyenyak. Setiap memandang ke atas dia melihat tombak, ketika menengok ke bawah dia mendapati banyak ular. Paginya dia keluar kamar dengan wajah lesu. Sufi tersebut bertanya “Kenapa wajahmu seperti itu? Apakah semalaman engkau tidak bisa tidur nyenyak?”.
“Bagaimana aku bisa tidur, di atas saya ada tombak, di bawah ada ular. Saya tidak bisa menikmati.” Jawab tamu itu.
“Oh, salahmu sendiri, kenapa engkau tidak bisa menikmati.” Timpal sang sufi.
“Saya takut pada tombak yang sewaktu-waktu bisa jatuh atau ular di bawah yang akan mematuk saya”. Jawab tamu itu lagi.
“Tapi buktinya sampai pagi tombaknya tidak ada yang jatuh, tidak ada juga ular yang naik ke ranjang. Berarti yang membuatmu tidak bisa tidur itu adalah pikiranmu sendiri. Tombaknya belum jatuh, sudah dipikir bakal jatuh, ularnya juga belum mematuk, tapi engkau berpikir bakal dipatuk. Akhirnya pikiranmu menjadi tidak tenang, hidupmu terganggu.”
baca juga: Isi Kajian di Ponpes Gasek, Ust. Hanan Attaki Beri Tips Agar Doa Cepat Dikabulkan
Hikmah Kisah
Pelajaran dari sang sufi dari kisah di atas ialah pentingnya fokus terhadap apa pun yang ada di masa kini, tidak perlu mengingat-ingat masa lalu dan tidak usah mencemaskan masa depan. Begitu pun juga ketika kita korelasikan dengan mencari kebahagiaan, apa yang kalian punya sekarang nikmatilah, syukurilah, berbahagialah. Tidak perlu melihat siapa dan apa yang ada di bawahmu, juga tidak usah melihat siapa dan apa yang dipunyai oleh orang di atasmu.
Bukan bahagia yang membuat kita bersyukur, tetapi bersyukurlah agar kita selalu bahagia.
Penulis : Musa Al Kahfi
Editor : Ahmad AY



