Cerpen

Ilmu dari Jakarta

Setelah berkemas, kami berdua diantar menuju stasiun Cepu–salah satu kecamatan di Blora, Jawa Tengah. Dari sini kami berangkat dan tiket sudah dipesan melalui aplikasi. Kereta bertolak pukul 00.37 dini hari dan kami sudah sampai di stasiun dua jam lebih awal. Ada yang ingin kami urus terlebih dulu terkait lokasi tujuan dan tempat duduk. Selepas menyelesaikannya, kami berdua baru menunggu di peron. Hanya tersisa beberapa orang di sekitar, yang lain sudah beranjak dengan armada sebelumnya.

Sudah hampir tengah malam. Aku melipir ke smoking area sembari menunggu kereta datang. Temanku Fatchur, sebut saja dengan nama itu, juga sedang mengecas ponselnya. Jika kutinggal sebentar barangkali tidak masalah. Aku sambil melihat-lihat berapa tulisan di peron stasiun hingga terbaca olehku ‘Jakarta 584 KM’. Sejurus kemudian kereta kami tiba. Kami segera naik bersama orang-orang yang juga sedari tadi juga menunggu.

Di dalam gerbong ternyata cukup ramai penumpang. Aku tidak menyangka sama sekali. Barangkali banyak dari mereka yang berangkat sejak stasiun-stasiun di Jawa Timur. Di atas tempat duduk kami tertulis 17D dan 18D, angka dan huruf yang sama pada tiket kami tentu saja. Kami duduk berhadapan. Aku ingin langsung tidur saja sebenarnya. Sudah larut juga. Namun tiba-tiba perhatianku teralihkan oleh orang yang duduk di kursi sebelah. Seorang pria paruh baya mempersilakan remaja yang duduk di sampingnya untuk tidur merebah. Remaja itu awalnya menolak namun akhirnya bersedia. Pria sepuh itu rela mengalah dan mencari tempat duduk lain demi kenyamanan si remaja. Barangkali keduanya bapak dan anak atau om dan keponakan atau mungkin malah tidak saling kenal. Entahlah. Tetapi ini cukup menarik untuk dilihat.

Baca juga: Akhlak dalam Kehidupan Bermasyarakat Khususnya di Lingkungan Kerja

Delapan jam di dalam gerbong, kami akhirnya tiba di stasiun Pasar Senen, Jakarta Pusat. Stasiun ini menjadi tujuan akhir kereta. Sampailah kami di Jakarta, kota metropolitan yang dalam bayanganku akan menyenangkan barangkali jika berada di sana. Turun dari gerbong–bersama orang-orang yang berbeda dengan penumpang dari tempat kita berangkat sebab beberapa dari mereka sudah turun di stasiun-stasiun sebelumnya–kami berjalan mengikut arus menuju pintu keluar. Banyak sekali orang-orang berlalu-lalang. Ada dari mereka yang berjalan pelan. Ada yang terlihat terburu-buru entah sebab apa.

Fatchur sudah menghubungi temannya, orang yang akan menampung kami selama berada di sini. Katanya sudah di jalan dan lima menit lagi sampai. Kami segera menuju trotoar dekat pintu keluar untuk menunggu di sana. Sejenak dari gerbang, aku melihat seorang penumpang ojek online yang turun dari motor kemudian berlari dengan raut wajah panik. Dalam benakku mungkin sedang mengejar jadwal kereta atau ada sesuatu yang mesti segera ia selesaikan sehingga tergesa-gesa. Namun ia lupa melepas helm terlebih dulu. Tukang ojek online tersebut kulihat hanya diam dan memandang penumpang itu sambil tersenyum nanar. Aku tidak tahu lagi bagaimana lanjutannya.

Sesampai di trotoar dekat halte, orang yang rumahnya akan menjadi tempat singgah sementara kami ternyata sudah tiba. Kami saling memperkenalkan diri kemudian diantar ke kediamannya di daerah Jakarta Barat. Dia sempat mengajak kami mampir dulu di kedai ayam goreng–yang menggunakan sebelas bumbu rahasia–untuk sarapan. Setiba di rumahnya kami langsung memutuskan untuk duduk-duduk santai di balkon atas dengan sejumlah bungkus rokok dan obrolan ringan. Rumah kenalan temanku itu cukup besar untuk ukuran di dalam gang. Sambutan dari keluarganya juga sangat hangat dan ramah. Aku bersyukur sekali. Setelah beberapa batang, kami baru beristirahat.

Malamnya kami pergi ke salah satu kedai kopi di daerah Jakarta Timur sehingga kami tentu melewati kawasan padat Jakarta Pusat dengan bangunan-bangunan menjulang. Lalu lintas kota malam ini cukup padat namun suaranya tidak terlalu bising. Muncul di kepalaku pertanyaan-pertanyaan yang sebetulnya tidak terlalu penting. Bagaimana bisa gedung-gedung setinggi itu didirikan? Berapa jumlah pekerja yang dibutuhkan? Berapa lama gedung-gedung itu dibangun hingga benar-benar jadi dan kokoh? Ah, aneh sekali aku. Tidak berperan apa-apa tetapi ikut memikirkan itu. Aku mencoba meredam pertanyaan-pertanyaan unik itu sambil sesekali bertanya atau sekadar ikut menyahut dalam percakapan kedua temanku dengan sopir. Mereka bertiga sedari tadi mengobrol dan aku hanya diam sembari mendengarkan perbincangan samar-samar. Baru setelah kira-kira setengah jam kita akhirnya sampai di kedai kopi yang dituju. Seperti biasa, kita menikmati minuman yang kita pesan sambil mengecap malam hingga cukup larut lantas pulang sekitar pukul setengah tiga dini hari.

Esok pun tiba. Sore ini kami ingin ke kafe daerah Semanggi untuk mencari sunset di antara bangunan-bangunan pencakar langit. Mumpung di Jakarta. Maklum saja, pemandangan matahari terbenam di Rembang hanya bisa dilihat di tepi pantai. Di sana gedung yang menjulang hanya sedikit, tidak seperti di sini. Sesudah memesan minum dan mengambil beberapa gambar, kami kembali berbincang. Kebetulan juga ada teman dari Rembang yang bekerja di sini turut datang menemui kami.

Di sela-sela obrolan itu, tiba-tiba satu pertanyaan dilempar padaku, “Zul, kenapa penduduk neraka kebanyakan adalah perempuan?”

Aku tertegun sejenak. Mentang-mentang yang lulusan pesantren di sini hanya aku lalu mendadak ditanya begitu. Aku coba menjawab sebisaku, “Jadi, dulu Allah menciptakan sepuluh akal. Yang sembilan untuk laki-laki dan perempuan hanya disisakan satu. Di sisi lain, Dia juga menciptakan sepuluh nafsu. Satu bagi laki-laki sementara yang perempuan mendapat sembilan.” Jawabku. Keempat temanku menyimak dengan serius ternyata. Aku melanjutkan, “Coba kita ingat lagi di perang Badar–riwayat lain mengatakan perang Tabuk–bagaimana beratnya Nabi Muhammad dan para sahabat. Disebutkan dalam perang itu, mereka harus memeras kotoran unta untuk diambil airnya kemudian diminum karena saking beratnya. Tetapi seusai perang, Nabi malah berkata, ‘Kita pulang dari perang kecil menuju perang agung.’ Para sahabat tentu terkejut. Perang seberat ini masih dianggap perang kecil oleh Nabi. Lalu ada yang bertanya, ‘Perang apa, Wahai Nabi?’ Baru kemudian Nabi menjawab, ‘Memerangi hawa nafsu.’ Laki-laki saja, bahkan sekelas sahabat nabi, melawan nafsunya sendiri sudah sangat kerepotan. Padahal itu masih rasio satu. Apalagi perempuan yang mendapat rasio sembilan?” Lanjutku. Mereka masih menyimak. “Dalam al-Quran juga difirmankan bahwa tipu daya perempuan sungguh amat dahsyat. Sudah berapa laki-laki yang harus menderita di dunia hingga akhirat karena perempuan? Jadi tidak perlu heran kalau kebanyakan di neraka itu dihuni oleh perempuan. Tetapi tidak sedikit juga perempuan yang jadi penduduk surga. Lebih-lebih perempuan itu derajat kehambaannya bisa naik lebih cepat dibanding laki-laki. Terutama perempuan yang nurut dengan bimbingan-bimbingan suaminya. Cepat sekali kenaikan derajat mereka di sisi Allah.” Pungkasku.

Entah mengapa obrolan tiba-tiba mengarah pada agama begini. Tetapi baguslah. Bagaimanapun, kehidupan tidak bisa dilepaskan dari agama dan kepercayaan karena agama merupakan perantara menuju Tuhan, Zat Yang Menciptakan dan Merawat Seluruh Makhluk; termasuk kita.

Baca juga: Cerpen Kehidupan

Esok harinya dua temanku itu pergi ke Senayan. Ada pertandingan bola malam ini. Mereka berdua bergegas sejak siang untuk berkeledar barangkali macet parah supaya tidak terlambat memasuki stadion. Sementara aku memilih tidak ikut. Jujur saja, aku kurang suka Argentina. Lebih baik membaca buku yang kubawa dari rumah daripada menonton tim bola yang tidak aku suka. Kebetulan buku yang ditulis oleh Simbah Emha Ainun Najib (Cak Nun) ini belum selesai kubaca, baru sampai bagian dua. Setelah mendapat dua judul, tiba-tiba ada yang mengetuk pintu kamar. Ternyata Pak Yus, Bapak teman kami.

“Sini, Mas, ngeteh dulu.” Ajak beliau ke serambi atas dengan membawa dua gelas teh hangat. “Saya sudah lama tidak naik lantai tiga ini. Sejak sakit beberapa waktu lalu, saya lebih banyak di bawah, Mas.”

“Oh iya, Pak.” Sahutku sambil segera keluar kamar menuju balkon dengan membawa sebungkus rokok yang baru kubeli tadi.

“Kok nggak ikut nonton bola, Mas?” Tanya Pak Yus yang sudah duduk di kursi kayu panjang dengan kepulan keluar dari mulut beliau.

“Iya, Pak, kurang suka Argentina. Hehe.” Aku menjawab seadanya kemudian ikut duduk di kursi yang sama.

“Oh begitu. Kamu namanya siapa, Mas?”

“Zulfa, Pak Yus.”

“Sekarang sibuk apa, Mas Zulfa?” Tanya beliau santai.

“Masih kuliah, Pak.”

“Sambil ngerjain apa kalau boleh tahu?” Tanya beliau lantas menjentik abu yang sudah panjang ke asbak.

“Sama ngirim tulisan ke redaksi-redaksi, Pak Yus. Tapi ya sesekali, tidak sering.” Ujarku sembari menyulut sebatang rokok menemani beliau.

“Oh, bagus itu, Mas. Anak muda memang tidak boleh berada di zona nyaman. Yang pahit-pahit harus dibiasakan supaya terlatih. Kalau sudah begitu nanti manis-manisnya akan terasa lebih nikmat.” Kata Pak Yus semangat. “Karyawan-karyawan saya itu kalau di gudang saya paksa untuk kerja keras. Tetapi jangan jadi pekerja selamanya! Sambil bekerja, mereka saya minta untuk mempelajari, meneliti, dan mengira-ngira. Barangkali dengan begitu suatu saat mereka bisa membuka usaha sendiri. Saya tidak masalah jika disalip mantan karyawan saya. Justru saya bangga karena itu membuktikan bahwa didikan saya berhasil.” Terang beliau.

Aku hanya mendengarkan penjelasan beliau sambil menyahut sesekali.

“Saya sangat menyayangi mereka, Mas. Karena bagaimanapun, tanpa mereka saya akan kesulitan.” Lanjut Pak Yus. “Saya kalau kebetulan berada di restoran sendirian dan makan masakan yang enak, saya malah teringat para karyawan dan orang-orang rumah. Kemudian ketika pulang saya bungkuskan untuk mereka.”

Aku masih menyimak sembari mengisap rokok yang belum habis.

“Dan begini, Mas, kalau nanti saya meninggal, yang saya ingin bawa hanya dosa-dosa dan kesalahan saya. Pahala dan nilai kemanfaatan hidup saya biar tinggal saja di dunia untuk anak-anak dan generasi selanjutnya.” Terang Pak Yus.

Kali ini aku mencoba memahami apa yang beliau ucapkan. Memang benar, segala kebaikan yang ada pada diri seorang hamba berasal dari Allah sedangkan tiap kesalahan dan dosa bersumber dari hamba itu sendiri. “Amal jariah ya, Pak?” Aku menyahut dengan senyum kecil.

“Saya tidak paham istilah agamanya apa, Mas. Tapi ya itu yang ingin saya lakukan nanti.” Tandas beliau lugas.

Kami berbincang mengenai banyak hal selama lebih dari tiga jam—atau lebih tepatnya aku yang lebih banyak mendengarkan ucapan-ucapan Pak Yus. Dari pembahasan bisnis, agama, keluarga, dan kehidupan. Tidak berselang lama, kedua temanku pulang. Malam mulai larut dan kami pun beristirahat. Fatchur juga sudah memesan dua tiket kereta kepulangan. Ini hari terakhir kami menginap di sini.

Siangnya kami berpamitan dengan Pak Yus sekeluarga. Sebelum ke stasiun, kami menyempatkan waktu sejenak untuk mampir sowan ke makam salah satu habib di daerah Kwitang. Dahulu habib ini konon pernah dimintai pendapat oleh Ir. Soekarno ketika menjelang peristiwa kemerdekaan. Selain itu, beliau juga tokoh penyebar Islam di tanah Betawi. Setelah sembahyang—makam habib ini kebetulan satu lokasi dengan masjid dan madrasah—kami tahlil secukupnya kemudian bertolak ke stasiun.

Kereta kami berangkat setengah tiga menjelang Asar. Sampai di loket, Fatchur mencoba untuk mencetak tiket tetapi tidak bisa. Sepertinya ada yang kurang pas. Setelah diperiksa kembali, ternyata semalam dia memesan tiket yang salah. Jadwal tiket yang sudah telanjur dipesan ternyata berangkat besok di jam yang sama. Kami sempat berdiskusi untuk memilih transportasi bus antar provinsi namun sepertinya tidak cocok. Lagi pula sayang juga dengan dua tiket yang sudah kami pesan. Mau tidak mau, kami mesti mencari penginapan untuk nanti malam. Kami harus berada di kota ini satu hari lagi. Kami mesti menginap semalam lagi di sini, di Jakarta.

Penulis: Abdullah Zulfa Muntafa

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *