ArtikelKalam Hikmah

Wahyu Seruan Azan Melalui Abdullah Ibn Zayd

Azan atau seruan sholat mulai disyariatkan pada tahun kedua Hijriyah. Rasulullah SAW mengumpulkan sahabatnya untuk bermusyawarah tentang cara memberitahu umat Islam akan tibanya waktu salat. Pada saat itu, azan pada mulanya hanya berarti “Datanglah untuk salat”.

Mimpi Abdullah Ibn Zayd

Abdullah ibn Zayd, seorang sahabat Nabi Muhammad mendapat penglihatan dalam mimpinya, di mana azan diwahyukan kepadanya. Mimpi tersebut seperti yang termaktub dalam kitab Fathul Mu’in dari Abdullah ibn Zayd. Dia berkata: “Ketika rasulullah SAW memerintahkan memukul lonceng untuk mengumpulkan manusia guna menunaikan ibadah shalat.”

“Seorang lelaki yang membawa lonceng atau kentongan di tangannya berputar mengelilingiku, sedang diriku tengah tertidur. Kemudian saya bertanya: ‘Wahai hamba Allah, apakah lonceng tersebut engkau jual?’ Dia menjawab: ‘Akan engkau gunakan untuk apa?.’ Saya pun menjawab: ‘Akan saya gunakan untuk memanggil manusia melaksanakan shalat.’ Dia berkata: ‘Apakah engkau tidak ingin aku beritahu sebuah cara yang lebih baik dari itu?’ Lantas menjawab : ‘Ya aku ingin tahu.’ Dia mengajari Abdullah bin zayd azan yang sering kita dengarkan sekarang.”

Baca juga: Stop Tidur di Sore Hari!

Abdullah ibn zayd kemudian menceritakan hal ini kepada kepada Rasulullah SAW.  Selanjutnya Rasulullah SAW membenarkan bahwa itu merupakan wahyu yang diturunkan melalui mimpi Abdullah ibn Zayd oleh Allah SWT.

Seruan azan pertama

Rasulullah SAW meminta kepada Bilal bin Rabah mengumandangkan adzan untuk pertama kalinya sebagai tanda bahwa sholat akan segera dikerjakan. Bilal memiliki suara yang sangat nyaring dan jernih hingga mampu menjangkau seluruh negeri Madinah. Nama Bilal diabadikan untuk selama-lamanya dan hingga saat ini, muadzin di masjid-masjid juga dipanggil dengan julukan “bilal”.

Baca juga: Khutbah Jumat: Kunci Kebahagiaan Hakiki

Setelah dikumandangkan, menurut kitab, Sahabat Umar bin Khattab beserta sepuluh sahabat nabi mengakui hal yang sama. Beliau juga bermimpi dengan mimpi yang serupa dengan Abdullah bin Zayd. Rasulullah SAW berseru sembari memuji Allah SWT sebagai bentuk kegembiraan beliau dengan berita tersebut.

Azan pada masa tersebut dimaksudkan sebagai penanda salat sekaligus pengajak muslim untuk salat berjamaah di masjid.

Penulis: Mufit Suyuti

Editor  : Ahmad AY

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *