Nggak Sadar kalo Nyebelin? Kayaknya Kita Perlu dengerin Sabda Nabi ini deh…
Pernah nggak, kita merasa orang-orang di sekitar mulai menjaga jarak? Mungkin tetangga yang biasanya menyapa, kini hanya menunduk. Teman sekamar yang biasanya hangat, kini terasa dingin. Kita pun bertanya-tanya, “Apa yang terjadi?” Bisa jadi, tanpa disadari kita menjadi pribadi yang mengganggu kenyamanan orang lain.
Sikap menyebalkan tidak selalu lahir dari niat buruk. Bisa jadi dari kebiasaan kecil yang dianggap remeh seperti berbicara dengan nada tinggi, menyalakan suara yang keras di waktu istirahat, atau bersikap cuek dalam berinteraksi.
Pentingnya Menjaga Hubungan
Jika terus dibiarkan, sikap seperti ini dapat melukai orang lain dan menimbulkan interval secara sosial maupun emosional. Sejak awal Islam telah menekankan pentingnya akhlak dan menjaga hubungan baik dengan sesama. Salah satu hadis yang patut direnungkan adalah sabda Rasulullah ﷺ berikut ini:
وَاللَّهِ لَا يُؤْمِنُ، وَاللَّهِ لَا يُؤْمِنُ، وَاللَّهِ لَا يُؤْمِنُ
Artinya: “Demi Allah, tidak beriman! Demi Allah, tidak beriman! Demi Allah, tidak beriman!” Para sahabat bertanya, “Siapa, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Orang yang tetangganya tidak merasa aman dari gangguannya.” (HR. Bukhari)
Dalam hadis ini, Rasulullah ﷺ bersumpah tiga kali atas nama Allah, sebuah penekanan yang sangat kuat. Hal ini menunjukkan betapa Islam sangat menekankan pentingnya memperhatikan dampak perbuatan kita terhadap orang lain, serta perbuatan yang dapat merugikan orang sekitar dapat dianggap sebagai tanda kurangnya kesempurnaan iman seseorang.
Gangguan yang dimaksud bisa berbentuk fisik, verbal, atau sikap yang menciptakan rasa tidak nyaman bagi tetangga maupun orang terdekat.
Istilah “Tetangga”
Perlu dipahami bahwa istilah “tetangga” dalam hadis ini tidak terbatas pada rumah sebelah, akan tetapi mencakup siapa saja yang berada dalam lingkungan interaksi kita seperti saudara dekat rumah, teman sekamar, rekan kerja, teman satu kelas, bahkan anggota keluarga. Jadi, menjaga kenyamanan orang lain adalah bagian penting dari praktik keimanan dalam kehidupan sosial.
Baca juga: Menjaga Silaturahmi di Tengah Beda Keyakinan
Hal ini selaras dengan pandangan para ulama dalam kitab Ta’limul Muta’allim karya Syekh Az-Zarnuzi yang berbunyi,
أفضل العلم علم الحال، وأفضل العمل حفظ الحال
Artinya: “Ilmu yang paling utama adalah ilmu ‘hal’ (perilaku), dan amal (perbuatan) yang paling mulia adalah menjaga hal (perilaku).” (Ta’limul Muta’allim, hal. 4)
Pernyataan ini memperkuat bahwa ilmu sejati bukan hanya terletak pada apa yang diketahui, tetapi pada bagaimana seseorang bersikap. Begitu juga amal yang paling utama itu bukan sekadar aktivitas ritual, tetapi kemampuan menjaga diri dan menghadirkan kebaikan dalam relasi sosial.
Baca juga: Puncak Kebahagiaan Adalah Menangis, Puncak Kesedihan Adalah Tertawa
Artinya, kehadiran seorang Muslim seharusnya bisa membawa ketenangan, bukan keresahan. Keilmuan yang dimiliki seharusnya tercermin dalam perangai, bukan hanya dalam ceramah atau status media sosial. Pada akhirnya, orang lain tidak selalu mengingat apa yang kita ucapkan, mereka akan mengingat bagaimana perasaannya saat berada di dekat kita.
Tidak Harus menjadi Sempurna
Menjadi pribadi yang menyenangkan bukan berarti harus selalu sempurna. Menjadi pribadi yang tidak menyakiti dan mengganggu orang lain adalah bentuk dasar dari akhlak yang terpuji. Hadis Nabi ﷺ dan nasihat ulama mengingatkan kita bahwa iman tidak hanya tentang hubungan dengan Allah, tetapi juga bagaimana kita menjaga hubungan dengan sesama.
Jadi, jika ingin memperbaiki keimanan, mulailah dari memperbaiki sikap. Bisa jadi selama ini kita merasa sudah baik-baik saja. Namun, jika orang di sekitar mulai menjauh tanpa sebab yang jelas, bisa jadi ini saatnya kita berkaca dan bertanya dengan jujur pada diri sendiri, “sudahkah aku menjadi tetangga, teman, atau saudara yang menenangkan?”
والله اعلم بالصواب
Penulis: Zaidatur Rizqiyah
Editor: Fani Azfar


