Opini

Hidden Message dalam Lirik Lagu Jakarta Hari Ini

Akhirnya ku menyerah…..
Maafkan ku yang menyela….
Jika dahulu ku tak pernah membuatmu bahagia….

Reff lagu satu ini pasti nggak asing lagi di telinga warga medsos, lagu “Jakarta hari ini” yang dirilis oleh For Revenge bersama Stereo Wall pada tahun 2021 dan masih eksis hingga sekarang. Lagu ini viral karena sering dipakai sebagai Sound Clip atau potongan audio yang mengiringi video-video pendek bertema kegelisahan dan patah hati di berbagai platform media sosial seperti Tiktok, Instagram, dll. Bagi sebagian orang, “Jakarta hari ini” sukses menjadi media pengekspresian perasaan yang nggak bisa diungkapkan secara langsung, alhasil biarlah lirik dan melodi dari lagu fenomenal ini yang bercerita. Oleh karena itu, Jakarta hari ini menjadi semacam “ruang bersama” bagi mereka yang sedang patah hati atau merasakan kehampaan.

Lagu bergenre modern rock dengan sentuhan orkestra manis ini berhasil mencuri perhatian pendengar karena melodi yang catchy serta liriknya yang puitis dan penuh makna.  Lagu ini menggambarkan perasaan patah hati yang campur aduk antara perasaan bersalah, sedih, kecewa, dan putus asa terhadap diri sendiri. Meskipun begitu, beberapa liriknya nggak melulu mendeskripsikan penderitaan dari patah hati, tetapi justru memberikan dukungan agar bangkit dari keterpurukan, memaafkan diri sendiri dan melanjutkan hidup dengan ringan tanpa terbebani luka masa lalu. Beberapa pesan tersembunyi dari lirik Jakarta Hari Ini akan dikupas dan dibahas di paragraf selanjutnya.

Baca juga: Lagu ‘Joko Tingkir Ngombe Dawet’ Memang Tak Pantas, Ini Alasannya

Pertama, lirik yang mungkin nggak banyak orang sadari, kecuali benar-benar memperhatikan lirik ketika dengerin lagunya. Lirik ini menggunakan bahasa inggris yang muncul pada menit ke 1:19 sampai 1: 35 di video dan tersamarkan dengan melodi orkestra yang cukup menyihir pendengaran, bisa dikatakan lumayan hidden baik dari pendengaran maupun makna yang akan disampaikan. Liriknya adalah “But perhaps you hate a thing, And it’s good for you, And perhaps you love a thing, And it’s bad for you” yang artinya “Tetapi boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu; dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu.” Ini sama banget kalimatnya dengan potongan ayat ke-216 dari surat Al-Baqarah.

وَعَسٰٓى اَنْ تَكْرَهُوْا شَيْـًٔا وَّهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْۚ وَعَسٰٓى اَنْ تُحِبُّوْا شَيْـًٔا وَّهُوَ شَرٌّ لَّكُمْۗ وَاللّٰهُ يَعْلَمُ وَاَنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَࣖ ۝٢١٦

Pesannya singkat, tapi kalo direnungi bisa dalam banget. Lirik ini seolah ngasih tau ke kita kalo kamu sebagai manusia itu nggak tau apa-apa soal bagaimana kehidupanmu berjalan, mau direncanakan bagaimanapun akan tetap ada bagian dari alur hidup yang mungkin nggak sejalan dengan keinginanmu. Yang kamu sangka itu baik ternyata nggak ada baiknya sama sekali untukmu, malah yang kamu sangka buruk itulah yang paling baik bagimu. Bisa dikatakan kalau hidup itu banyak dengan kejutan atau plot twist yang nggak pernah terpikir olehmu. Bagaimana caramu menjalani hidup, tergantung bagaimana sudut pandangmu melihat dunia dan menyikapinya.

Baca juga: Makna Lagu Jakarta Hari Ini

Bagian kedua, lirik selanjutnya yaitu,  “Yang datang dan pergi ‘Kan membuatmu mengerti Kadang kita perlu tersakiti ‘Tuk mengenal perih. Yang datang dan pergi, Semua yang harus dilalui, Kadang kita perlu tersakiti ‘Tuk menjadi manusia” lirik ini seolah melanjutkan pesan dari lirik sebelumnya, setelah kita disadarkan jika manusia memang tidak pernah tahu secara pasti bagaimana kehidupannya sendiri, nggak tahu yang sebenarnya baik itu mana, yang buruk mana, semua terlihat abu-abu dan serba tak pasti. Sehingga dilirik ikonik ini kita dikasih tahu agar sesulit atau sesakit apa pun dunia memberimu tawa dan luka mau nggak mau kamu harus bisa  menerima dan mengambil pelajaran darinya. Yang datang dan pergi mengajarkan bahwa dunia selalu bergerak dinamis, perjumpaan dan perpisahan yang menjadi saudara kandung takkan pernah terpisahkan. Semua yang datang memberi pengajaran dan pelajaran, begitu pun yang pergi. Tak ada yang bersisa ketika kita pandai memeluk dan menerima apa pun yang terjadi. Apakah semuanya perlu disesali? Apakah semuanya perlu ditangisi? Jawabannya adalah tidak, tetapi semuanya perlu dipeluk dan dibenahi. Bukankah guru terbaik dalam hidup adalah pengalaman?

Penulis: Nayla Rifana Faza Adhiba

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *