Opini

Bagaimana Menanggapi Kebaikan yang di Unggah di Media Sosial?

Penulis: Eliza Fitri Kamalia/Editor: Fani Azfar

Pada hakikatnya, Islam memerintahkan penganutnya untuk selalu berbuat baik. Maka dari itu, Allah Swt. telah berfirman dalam Surah Al Qashas ayat 77 yang artinya “…dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu…”.

Islam sendiri sangat melarang penganutnya untuk berbuat jahat karena selain merugikan diri sendiri juga akan merugikan orang lain. Hal ini sudah dijelaskan dalam firman Allah surah Al-Isro’ ayat 7 sebagai berikut.

إِنْ أَحْسَنتُمْ أَحْسَنتُمْ لِأَنفُسِكُمْ ۖ وَإِنْ أَسَأْتُمْ فَلَهَا ۚ فَإِذَا جَاءَ وَعْدُ الْآخِرَةِ لِيَسُوءُوا وُجُوهَكُمْ وَلِيَدْخُلُوا الْمَسْجِدَ كَمَا دَخَلُوهُ أَوَّلَ مَرَّةٍ وَلِيُتَبِّرُوا مَا عَلَوْا تَتْبِيرًا (7)

“Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat, maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri, dan apabila datang saat hukuman bagi (kejahatan) yang kedua, (Kami datangkan orang-orang lain) untuk menyuramkan muka-muka kamu dan mereka masuk ke dalam masjid, sebagaimana musuh-musuhmu memasukinya pada kali pertama dan untuk membinasakan sehabis-habisnya apa saja yang mereka kuasai.” (Al-Isro’: 7)

Baca juga : Kiai Marzuki: Sosok yang Dermawan dan Selalu Bersinergi dalam Menyuarakan NU

Peran Teknologi

Seiring perkembangan zaman, teknologi menciptakan ruang tersendiri bagi manusia untuk berinteraksi dengan manusia lainnya. Teknologi juga telah menciptakan cara baru yang dapat dipakai manusia untuk menyerbarkan kebaikan. Postingan kebaika di media sosial pun telah menjadi fenomena yang wajar.

Tanpa mengetahui latar belakang seseorang tersebut ketika mengunggah kebaikannya di media sosial, beberapa dari kita terburu-buru menjudge bahwa yang dilakukan adalah pencitraan, riya’ atau pamer, dan lain-lain. Lalu, bagaimana cara kita menanggapi hal tersebut?

Allah berfirman dalam surah Al-Hujurat ayat 11 yang berbunyi:

….. بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الْإِيمَانِ…..(11)

Artinya: ……seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman….. (Q.S. Al-Hujurat: 11)

Pentingnya Berprasangka Baik

Jadi, selama perbuatan yang ditampilkan adalah perbuatan baik atau perbuatan yang bernilai keimanan, kita tidak boleh melabeli perbuatan tersebut dengan perbuatan fasiq. Pada dasarnya yang dapat kita kontrol adalah sikap kita sendiri dalam menanggapi perbuatan tersebut bukan perbuatan orang lain. Salah satu upaya yang dapat kita lakukan adalah bukan melihat perbuatan tersebut dengan nalar, dikarenalan hal yang akan muncul adalah suudzon.

Akan tetapi, kita bisa melihatnya dengan sangkaan hati bahwa yang dilakukan orang tersebut merupakan perbuatan baik. Disinilah husnudzon (positif thinking) sangat diperlukan. Selain terbebas dari dosa, berprasangka baik juga dapat menyehatkan mental karena yang muncul adalah kebahagiaan bisa melihat orang lain yang berbuat baik.

Baca juga : KH Said Aqil Siroj Kembali Dinobatkan sebagai Muslim Berpengaruh Dunia

Dengan menggunakan cara berpikir yang seperti itu, kita akan tergerak dan termotivasi untuk melakukan kebaikan juga. Tugas kita adalah berusaha menyebarkan kebaikan, urusan riya’ atau tidak biarlah Allah Swt. yang menilai.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *