Dakwah Kiai Chudlori, Kebijaksanaan yang Membawa Maslahat
Penulis: Muhammad Faishol I Editor: Dina Surya Mega

Dakwah ditengah masyarakat yang multikultural, tentu membutuhkan ikhtiar yang kuat. Bukan hanya itu, berdakwah butuh kerendahan hati dan kebijaksanaan. Dalam bahasa jawa bisa juga diistilahkan “jembar dodone“, artinya penuh dengan ketawadhuan, dengan menghilangkan segala keegoan dalam diri kita, menghilangkan ‘sikap’ gagah-gagahan. Dakwah semata-mata untuk mendapatkan ridho dari Allah SWT.
Bagitulah kira-kira gambaran dakwah yang dilakukan oleh Kiai Chudlori, yakni kiai kharismatik yang juga mendirikan Asrama Perguruan Islam (API) Tegalrejo.
Bagaimana Sosok Kiai Chudlori??
Sosok Kiai Chudlori dikenang sebagai dai yang alim, rendah hati, dan mengayomi masyarakat. Dalam menyebarkan syiar Islam, alumnus Pondok Pesantren Tebuireng Jombang, Jawa Timur, itu selalu mengutamakan pendekatan rahmatan lil ‘alamin. Ayah dari Gus Yusuf Chodlori itu juga dikenal gemar mengamalkan latihan-latihan rohani atau riyadhah.
Cerita Kebijaksanaan dakwah Kiai Chudlori
Ada cerita menarik tentang kebijaksanaan dakwah Kiai Chudlori. Suatu ketika terjadi polemik peruntukan dana kas desa. Alhasil terjadilah polarisasi di tengah masyarakat. Ada dua kubu besar, yakni kubu pertama berkehendak ingin dana desa digunakan merehab masjid sementara kubu ke-2 ingin dana tersebut digunakan untuk membeli alat musik gamelan.
Baca Juga: Gus Mus, Kiai Yang Sering Tergoda Jabatan
Ditengah kegaduhan yang berkembang, dua kelompok sowan kepada Kiai Chudlori yang memang dikenal sebagai tokoh sentral yang dihormati masyarakat.
Namun tak disangka, saat diminta nasehat oleh kedua belah pihak, ternyata Kiai Chudlori lebih memilih mendahulukan membeli gamelan daripada untuk merehab masjid.
Keputusannya ini memicu kontroversi, namun berakhir dengan maslahat.
Kiai yang pernah nyantri di sejumlah pesantren termasuk di Tebuireng pimpinan Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari dan di Lasem di pesantrennya Kiai Baidlowi dan Kiai Ma’shum ini tentu bukan kiai ‘kemarin sore’ yang memutuskan sesuatunya tanpa pertimbangan yang ‘matang’.
Dengan hasil keputusan Kiai Chudlori tersebut,
sontak kelompok yang ingin gamelan pun girang, sebaliknya kelompok yang ingin rehab masjid cemberut kecewa.
Baca Juga: https://www.nu.or.id/tokoh/kh-chudlori-santri-kelana-pendiri-api-tegalrejo-xtSIO
Setelah kelompok gamelan pamit pulang, Kiai Chudlori pun menjelaskan alasannya kepada kelompok masjid, bahwa keputusannya itu adalah dalam rangka menjaga keguyuban dan kerukunan. Dalam hal ini, Kiai Chudlori lebih memilih menguatkan nilai-nilai keislaman daripada sekadar mementingkan simbol. Beliau juga menghargai budaya lokal dengan tidak serta merta menghilangkannya bahkan ketika berhadapan dengan agama.
Mendahulukan membeli gamelan tak berarti meninggalkan merehab masjid. Kiai Chudlori yakin setelah masyarakat rukun, maka membangun masjid pasti akan terlaksana dengan sendirinya. Keyakinan Kiai Chudlori pun terbukti. Pembangunan masjid berjalan baik dengan partisipasi dan gotong royong dari seluruh warga. Gamelan terbeli, masjid pun terbangun. Begitulah kebijaksanaan dakwah Kiai Chudlori.
Kiai yang menjadi guru Gus Dur di medio tahun 50-an ini selain terkenal dengan kealimannya dan kebijaksanaannya. Khususnya dalam menyikapi permasalahan sosial budaya yang ada di masyarakat.
Semoga, kewajiban dakwah kita sebagai sesama muslim bisa meniru ‘kebijaksanaan’ yang diajarkan oleh Kiai Chudlori.
Dan yang terpenting, dunia ini hanyalah tempat singgah dan mampir minum, mudah-mudahan segala ikhtiar kita dalam berdakwah benar-benar hanya untuk mengharapkan ridho dari Allah SWT. Aamiin
Penulis adalah BPH Aswaja NU Center PCNU Banyuwangi & Sekretaris Alumni Pondok Pesantren Sabilurrosyad Gasek Malang area Banyuwangi


