
Sudah sewajarnya pada bulan Ramadhan di pondok pesantren mempunyai kegiatan tertentu untuk menyambut bulan yang mulia ini. Kebanyakan pondok pesantren juga membuka pesantren kilat untuk orang-orang yang ingin merasakan kehidupan santri meskipun hanya sebentar
Tapi ramadhan tahun ini sangatlah berbeda dengan biasanya. Adanya virus covid-19 memunculkan berbagai himbauan untuk mengurangi menghindari kerumunan, bahkan lembaga-lembaga pendidikan harus mengalihkan pembelajaran menjadi online. Sampai kemudian ada himbauan agar pondok pesantren harus memulangkan santrinya demi keselamatan bersama.
Kedekatan Kiai dan Santri
Kedekatan antara kiai dan santri sudah seperti orang tua dan anaknya, hidup dalam satu lingkungan dan menjalankan berbagai aktivitas tentu menumbuhkan ikatan batin yang sangat erat antara kiai dan santri bahkan lebih dari sekedar ilmu yang guru berikan kepada peserta didik di sekolah.
Berbagai pondok pesantren memulangkan santrinya yang jumlahnya tidak sedikit. Ratusan bahkan ribuan santri dipulangkan dengan prosedur yang telah ditetapkan, bagi seorang kiai hal ini tentu sangat berat dan menyedihkan.
Tak sedikit dari para kiai yang kemudian menitihkan air mata mengiringi kepulangan santri-santrinya, di Pondok Pesantren Miftahul Huda Malang, KH. Ahmad Arif Yahya melepaskan kepulangan santrinya dengan berlinang air mata dan berucap, “Mboten sampe ati kulo, wangsulaken santri” (tidak sampai hati saya memulangkan para santri). Hal itu adalah sebuah bukti betapa beratnya seorang kiai harus berpisah dengan santrinya.
Saat ini pondok pesantren banyak yang menyiarkan pengajian di media sosial agar para santri tetap bisa mengaji di rumah. Tentunya semua berharap pandemi ini akan berakhir dengan cepat sehingga kita tidak lama-lama melihat berbagai pondok pesantren sepi dan tidak ada ngaji.



