Santri dan Kentut
Beberapa santri tidak bisa lepas dari salah hobinya yaitu tidur. Setiap menjelang subuh, ia tetap nikmat berbaring dengan sarung kesayangannya. Bahkan ada yang air liurnya tumpah kemana-mana tanpa terasa. Untuk bisa bangunpun, perlu digedor-gedor pintunya, ditarik, atau bahkan disiram dengan paksa.
Pak lurah, dengan kegigihannya selalu keliling kamar untuk membangunkan para santri yang belum bangun. Satu persatu kamar digendor-gedor, dimasuki, dengan menunjukkan wajah yang tegas. Tapi apa daya, Santri yang mbeling selalu punya cara tersendiri untuk menyepelekan pak lurah. Ketika pak lurah masuk kamar dengan suara yang khas, si santri yang mbeling membelakangi pak lurah dengan punggungnya dan juga menembakkan bom atom (kentut) ke pak lurah. Hal tersebut seakan menjadi suatu kebiasaan, setiap pak lurah ke kamar, santri telah bersiap untuk membelakangi pak lurah dengan punggungnya.
Pada suatu hari, si santri mendengar gedoran pintu yang keras, seperti biasanya ia mempersiapkan posisi untuk membelakangi orang yang membangunkannya dan menembakkan bom atomnya (kentut). Dan benar, saat seorang tersebut masuk, ia langsung menembakkan bom atomnya (kentut), kemudian seseorang yang membangunkan tadi berkomentar dengan nada suara yang berbeda dengan biasanya. Nadanya lebih lembut dan halus. Si santri pun bertanya-tanya, “siapakah orang yang saya belakangi ini kok suaranya berbeda dari biasanya?” dan ketika santri tersebut menoleh, menghadapkan wajahnya ke seseorang tersebut, Alangkah terkejutnya ternyata seseorang tersebut adalah pak Kyai nya. Dan taukah anda? Pak Kyai tersebut adalah KH. Masduqi Mahfudz.
Penulis : Muhammad Fathurrozaq
(Disarikan dari cerita abah Marzuki Mustamar saat mengaji kitab At-Tadzhib, 03 Februari 2020).



