Siapkah Kader NU Selamatkan NKRI?
Penulis: Sami' Mulyaji/Editor Rifqi Hayyinul Ula

Nasionalis menjadi syarat bagi setiap rakyat Indonesia, selamanya. Ketika rumah dihantam dengan batu, perlawanan akan muncul oleh pemiliknya. Demikian atas dasar mengganggu ketentraman bertempat tinggal.
Di era 4.0. ini, gerakan kaum radikal semakin mengkhawatirkan. Baik bergerak langsung maupun tidak langsung dalam media sosial melalui pemberian barang-barang, dan inventasi bahkan dalam suatu majlis. Hal ini perlu diwaspadai, jangan sampai tak berdaya hingga nasionalisme kita tergoyahkan.
Tanggungjawab besar bagi rakyat Indonesia, terkhusus pemuda saat ini. Hal yang krusial memahami permasalahan yang terjadi dan siapa yang perlu di waspadai. Oleh karena itu penting mengetahui apakah yang kita anut memiliki rasa cinta terhadap tanah air dan budaya Indonesia serta tidak melupakan sejarah atau tokoh pejuang pada saat kemerdekaan. Demi terbuktinya kecintaan pada Negara Indonesia ini.
Perjuangan Para Ulama’
Ketika Indonesia dijajah kala itu, para kiai ikut serta berjuang agar rakyat tidak semakin menderita. Hal ini dibuktikan oleh meletusnya kenasionalisan rakyat Karang Ampel (Indramayu) di bawah pimpinan Haji Madrais dan kawan-kawannya (1943) dan rakyat Sukamah (Tasikmalaya) di bawah pimpinan kiai Zainal mustofa dan kawan-kawannya (1944).
Dahulu para kiai, ulama, dan santri dianjurkan untuk ikut serta terjun dalam latihan kemiliteran, anjuran itu bukanlah isapan jempol belaka. Menjadi bukti proklamasi kemerdekaan Indonesia tidak terlepas dari perjuangan kiai, ulama dan santri. Resolusi jihad fi sabilillah dapat dilihat dalam buku yang berjudul “KH. Hasyim Asy’ari riwayat hidup dan pengabdiannya” oleh Heru Sukadri.
Tegasnya, kisah Gus Dur yang sering kita dengar, tentang mementingkan kesejahteraan negara, beliau sampai rela melepas jabatannya sebagai presiden. Kala itu. Lagi-lagi demi Negara guna menghindari tercerai-berainya antar masyarakat Indonesia. Begitu besar pengorbanan ulama demi kepentingan sebuah bangsa.
Baca juga: Gus Dur dan Dinamika Pluralisme di Indonesia
Di era 4.0 ini, Kader NU (Nahdlatul Ulama) harus lebih aktif dalam media sosial guna membumikan Organisasi NU sendiri dan menyelamatkan NKRI, Diklatsar angkatan VI Banser PAC GP Ansor Lumbang Pasuruan.



