CerpenDunia IslamSastra

AKHIR TARAWIH BAPAK

Kereta Api sepanjang sepuluh gerbong melaju dengan kecepatan sedang di atas rel. Pramidita Cantika, remaja berhijab biru itu duduk manis di dalam gerbong kereta, sembari menatap barisan pepohonan yang seakan berjalan berlawanan arah dengan dirinya.

Awan biru yang berarakan, serta hamparan persawahan yang luas dan hijau begitu menyejukkan kala mata memandang. Beberapa bunga warna-warni yang bermekaran menarik perhatian hewan pemakan nektar. Burung-burung beterbangan sembari berkicau memanjakan telinga. Betapa sempurnanya ciptaan Allah. Lalu, alasan apalagi yang mengharuskanmu mensyukuri segala pemberiannya?

Sesekali Dita menatap layar Handphone yang menyala di genggamannya. Senyumnya lebar mengembang sempurna.

“Sepuluh menit lagi,” gumamnya.

Hari ini merupakan hari ke 16 ramadhan, tidak biasanya ia pulang secepat ini. Namun atas permintaan Bapaknya, ia tidak mungkin menolak.

○○◉○○

Flashback On

Dita baru saja bangun dari tidur siangnya, berniat untuk segera ke kamar mandi dan membasuh tubuhnya sebelum antrian kamar mandi begitu panjang. Sebelum berangkat pergi, ia mengecek terlebih dahulu handphone miliknya di atas meja. Membuka aplikasi chat dan menemukan satu chat dari ibunya. Dahinya pun mengerut,  tatkala membaca isi pesan tersebut.

“Tumben Bapak nyuruh pulang cepet,”  gumamnya.

Dita segera menuliskan balasan untuk sang ibu, lebih tepatnya pertanyaan. Tak berselang lama, handphone Dita berdering, menandakan adanya panggilan masuk. Ia segera mengangkatnya dan menempelkan di telinganya.

“Assalamu’alaikum buk,”

“Wa’alaikumsalam. Nduk, tolong kamu pulang ya, ibuk juga sudah bertanya ke bapak, tapi bapak ga ngasih jawaban. Dia cuma minta agar kamu sama kakak mu bisa cepet pulang,” jelas sang ibu secara panjang lebar.

Dita terdiam sejenak, memikirkan alasan ‘mengapa’. Namun nyatanya ia tak menemukan jawabannya.

“Nggeh buk,” jawaban itulah yang keluar dari mulutnya.

“Yasudah  kalau gitu, ibu tutup ya telfonnya, belajar yang rajin! Wassalamu’alaikum.”

“Wa’alaikumsalam,” Jawabnya.

Telfonnya ditutup. Dita pun segera pergi mandi dan nantinya ia akan mengurus izin kepulangan` .

Flashback Off

○○◉○○

Kereta berhenti di stasiun terakhir tempat Dita turun. Pemberitahuan segera terdengar, menginstruksikan kepada seluruh penumpang untuk segera turun dari dalam kereta. Dita berdiri, lantas menenteng beberapa barang bawaannya. Kakinya melangkah keluar dari dalam gerbong, ia sesegera mungkin keluar dari stasiun dan mencari keberadaan sang kakak yang tadi sudah mengatakan akan menjemputnya.

Tak butuh waktu lama, siluet Farhan sudah terlihat dari kejauhan dengan motor sportnya. Dita melambaikan tangan kanannya ke atas, agar lebih mudah dilihat oleh Farhan.

Motor itu mendekat ke arahnya dan berhenti tepat di depan Dita berdiri. Ia segera memakai helm yang disodorkan Farhan dan menaiki motornya. Perjalanan memakan waktu sekitar 15 menit dan kini keduanya sudah sampai di rumah.

Dita turun dari motor dan langsung berlari menghampiri ibunya yang berdiri tepat di depan halaman rumah yang seakan sedang menyambut kedatangan keduanya. Ia menyalami tangan sang ibu, lalu memeluknya sembari memasuki rumah, membiarkan sang kakak membawakan barang-barangnya.

Langkah kaki keduanya memasuki pintu utama, terlihat bapak yang tengah membaca kitab miliknya dengan kacamata yang bertengger di atas hidung yang sudah agak keriput tersebut. Bapak menutup kitabnya, tatkala indra pendengarnya merasakan adanya pergerakan. Sorot mata tajam nan tegas tersebut langsung jatuh kepada dua wanita paling berharga dalam hidupnya. Senyum tipis namun begitu lembut bila dirasakan terpatri di wajahnya.

Dita mengucapkan salam dan langsung menghambur ke pelukan sang bapak. Terasa hangat, hatinya selalu tenang jika berada di dekat kedua orang tuanya.

“Gimana nduk perjalanannya?” pertanyaan bapak membuat Dita melepaskan pelukannya, lalu berpindah duduk di samping sang ibu.

Remaja itu tersenyum, menampilkan lesung pipinya, “Alhamdulillah lancar Pak.”

“Assalamu’alaikum,” suara Farhan terdengar lembut dibarengi dengan tubuhnya yang muncul di pintu setelah memarkirkan motornya. Kedua tangannya menenteng barang bawaan sang adik, lalu meletakkannya di samping sofa. Ia merebahkan diri di single sofa tepat di hadapan bapak.

“Kamu bawa apa aja si Dit? Berat banget,” ocehnya. Tangan kanan Farhan bergerak mengusap peluh di dahinya.

“Cuma bawa baju sama jajanan doang, masa berat si kak? Lembek,” ujar Dita sembari mencibir, membuat Farhan langsung memelototkan matanya.

Ibu menghela nafas, “Mulai deh mulai,” selanya. “Lebih baik kalian istirahat, Ibu mau masak buat buka.” Setelahnya, ia melangkah pergi meninggalkan suami dan kedua anaknya di ruang tamu.

“Yaudah kalau gitu. Pak, Dita ke kamar dulu ya,” Pamitnya. Bapak hanya mengangguk mengiyakan.

○○◉○○

Langit jingga telah kembali ke peraduan. Adzan mulai terdengar berkesinambungan, memberikan isyarat bahwasannya sudah waktunya untuk berbuka. Keluarga kecil itu kini tengah berkumpul di meja makan, menengadahkan tangan masing-masing ke atas untuk berdoa yang dipimpin oleh sang kepala keluarga.

Mereka menikmati menu buka puasa tersebut dengan nikmat, diselingi candaan yang dilemparkan oleh salah satu dan ditanggapi oleh yang lain. Terasa nyaman, Namun mereka harus bergegas. Sholat maghrib telah menanti untuk dilaksanakan.

Mereka segera menyelesaikan makananya dan membersihkan sisa-sisa makanan yang ada. Kemudian bergegas ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu guna melaksanakan salat berjamaah yang di imami oleh bapak.

Setelahnya, mereka mengaji sembari menunggu masuknya waktu isya’. Setelah masuk waktu isya’, mereka melaksanakan salat isya’ dan tarawih.

○○◉○○

Fajar mulai menyingsing, digantikan oleh matahari yang bersinar begitu terang. Memancarkan cahayanya ke seluruh penjuru bumi.

Dita berada di halaman depan, membantu Farhan untuk menanam beberapa bibit bunga. Kalau kata ibu, biar halaman nya kelihatan lebih berwarna. Sekaligus biar pas lebaran nanti bunganya mekar.

Farhan mengusap pelipisnya yang penuh dengan keringat. Ide jahilnya muncul ketika melihat wajah adiknya yang terkena sinar mentari. Ia mengangkat tangannya di samping wajah sang adik.

“Dek,” panggilnya. Membuat Dita menolehkan kepalanya. Secara otomatis menyentuh tangan Farhan yang penuh dengan tanah.

Dita yang sadar bahwa pipinya sekarang kotor karena ulah sang kakak langsung mengerucutkan bibirnya.

“Kakak!” tangannya bergerak lincah untuk membalas perbuatan Farhan. Namun sayang, Farhan terlalu pintar untuk menghindar. Tawanya pun tak bisa terelakkan lagi.

Dita masih berusaha, sedangkan Farhan langsung bergerak cepat unntuk kabur sebelum adiknya semakin brutal untuk membalasnya.

 

⏝ ⏝。 ˚ •꒰ ͜͡ఎི(⫶⫶̲̅⫶⫶̲̅[̲̅ PART 2 ]̲̅⫶̅⫶̲⫶̲̅)໒ྀ͜ ͡꒱。 ˚ •⏝ ⏝

 

Dita baru saja selesai membantu sang ibu memasak makanan untuk buka puasa. Tubuhnya terasa lengket karena peluh yang membasahi dirinya. Satu tujuannya sekarang, pergi ke kamar mandi lalu membasuh tubuhnya dengan air dan sabun agar terasa lebih segar.

Ia keluar dari kamar dengan mengenakan gamis berwarna cream dengan corak bunga, serta kerudung coklat tua yang membuatnya terlihat lembut dan manis. Di ruang keluarga, terlihat bapak yang tengah membaca kitabnya seperti biasa. Sedangkan ibu sedang duduk di sofa, menonton acara TV favoritnya dengan Farhan yang duduk bersila di bawahnya sembari memijat kaki sang ibu. Salah satu kebiasaan Farhan jika sedang di rumah.

Dita melangkah mendekati bapak, lalu memeluk lengan kekarnya. Bapak pun menoleh sebentar, kemudian menutup kitab yang di pegang. Melepas kacamata yang senantiasa bertengger di atas hidungnya dan meletakkannya di atas meja.

“Le, Nduk…” suara berat bapak menginterupsi perhatian tiga orang yang ada di sana. Mereka langsung memusatkan perhatiannya ke arah bapak. Mengabaikan TV yang masih menyala, menampilkan salah satu film buatan anak negeri.

“Hidup itu berat, penuh cobaan dan godaan. Baik secara fisik maupun batin dari orang lain atau bahkan diri kalian sendiri. Apalagi kalian yang sekarang kuliah, Farhan juga kerja. Waktu kalian tersita banyak cuma buat ngurus dunia,” mulainya.

“Bapak cuma mau ngingetin, jangan sampai kalian lupa untuk beribadah wajib, serta selalu menyempatkan diri untuk beribadah sunah. Kalian boleh kerja, kuliah, atau yang lainnya. Tapi jangan sampai kalian jauh dari Allah.”

“Contoh aja sekarang, banyak orang yang meremehkan salat tarawih, karena apa?”

“Derajatnya  sunah,” jawab Farhan dan Dita bersamaan.

“Nah, padahal banyak sekali hikmah dan pahala dibalik salat tarawih,” jeda sejenak.

“Salat tarawih cuma sekali dalam satu tahun. Apa ga sayang, kalau sampai kalian sia-siakan? Kalian tinggalin gitu aja cuma karena alasan lembur, tugas banyak?”

Farhan dan Dita mengangguk mengiyakan. Sedangkan ibu hanya tersenyum menanggapi.

Adzan maghrib menginterupsi kegiatan keempatnya. Membuat bapak berhenti dari kegiatannya memberikan petuah pada keluarga yang sangat ia sayangi. Lalu mengajak mereka menuju ke meja makan dan segera berbuka.

○○◉○○

Keluarga kecil itu tengah melaksanakan salat tarawih bersama. Kali ini Farhan yang menjadi imam, karena tadi bapak bilang bahwa ia tidak enak badan. Jadi, ia memilih untuk menjadi makmum saja.

Salat pun berlangsung dengan tenang, hingga sedikit ada kejanggalan pada saat roka’at salam ketujuh. Farhan baru saja berdiri untuk roka’at berikutnya. Namun, sejak dari sujud yang awal tadi, bapak tidak kunjung bangun dari sujudnya. Membuat ibu dan Dita yang berada di shaf belakang menjadi tidak tenang dalam salat nya, takut jika terjadi sesuatu dengan bapak. Namun apa boleh buat, keduanya harus tetap melanjutkan salatnya.

Farhan baru saja berdiri untuk melaksanakan tarawih selanjutnya. Namun, panggilan dari Dita mengurungkan niatnya.

“Kak Farhan!” Farhan menoleh ke belakang, menatap Dita dengan wajah bertanya.

“Kenapa?”

Dita mengangkat mukena yang ia pakai, lalu mendekat ke arah bapak yang masih tetap dalam posisinya. Tangannya ia ulurkan untuk menyentuh bahu bapak.

“Bapak,” panggilnya. Namun tak ada sidikitpun respon dari bapak.

“Pak, Bapak,” panggilnya lagi. Namun tetap saja bapak tak merespon.

Ibu dan Farhan kini sudah duduk di samping bapak. Remaja laki-laki itu mengangkat tangannya, berusaha menarik bapak untuk telentang. Ia lekas memeriksa nafas dan nadi pada tubuh bapak.

“Dita, panggilin ambulan sekarang!” perintahnya membuat sang ibu dan adiknya langsung shock.

“Bapak kenapa?” tanyanya.

“Jangan tanya sekarang, cepet panggilin ambulan!” perintahnya lagi, membuat Dita langsung melakukannya dengan tergesa.

Baru saja Dita selesai menelfon ambulan. Ia mendapati ibunya tergeletak di samping bapak. Wanita berumur itu pingsan karena ia dengan sendirinya ikut mengecek nadi sang suami yang nyatanya tak dapat ia rasakan. Berbagai prasangka buruk menghantuinya, membuatnya pusing dan langsung drop.

Suara sirine ambulan membelah malam yang agung. Farhan menemani bapak di dalam untuk pergi ke rumah sakit. Sedangkan Dita masih menunggu ibu di rumah. Berharap agar sang ibu segera sadar dan keduanya bisa menyusul ke rumah sakit secepatnya.

Dita tengah bersiap-siap, sang ibu sudah bangun sejak lima menit yang lalu. Kakinya melangkah keluar dari kamar untuk menemui ibu. Namun langkahnya terhenti tatkala handphone nya berdering, menandakan adanya panggilan masuk. Ia segera mengangkatnya sembari berjalan.

“Wa’alaikumsalam, gimana keadaan bapak kak?” tanyanya.

Hanya terdengar suara isak pilu dari seberang. Hati Dita mencelos mendengarnya. Berbagai pikiran buruk menghantui kepalanya. Ia butuh jawaban, paling tidak katakan bahwa Bapak baik-baik saja.

“Dita, kenapa..?” panggilan ibu membuyarkan lamunan Dita. Ia menyodorkan HP nya yang masih terhubung dengan Farhan di sebelah.

Tangan yang sedikit keriput itu menerimanya, lalu menempelkan benda persegi panjang tersebut ke telinganya. Isakan Farhan masih terdengar.

“Farhan, gimana keadaan bapak nak?” tanyanya membuat Farhan semakin terisak.

“Bapak…Bapak meninggal.”

Tubuh kurus itu meluruh, tak percaya jika seseorang yang selalu menemani hari-harinya pergi meninggalkannya secepat ini. Tetes bening jatuh membasahi pipinya, serta mata yang memerah membuat Dita sadar, bukan kabar baik yang tadi disampaikan kakaknya.

“Bu.. Kenapa? Kak Farhan tadi bilang apa?”

“Bapak Nduk, Bapak”

“Iya, Gimana keadaan Bapak?”

“Bapak udah pergi. Bapak meninggal!”

Kalimat itu membuat Dita ikutan luruh. Kedua tangannya kini memeluk tubuh ibunya dengan sangat erat.

Bagian tubuhnya terasa ada yang hilang. Seseorang yang selama ini memberikan nasihat untuknya, memberikan berbagai dukungan atas apapun pilihannya, seseorang yang selalu ada saat ia sedang butuh, seseorang yang tak pernah pergi ketika ia benar-benar dalam keterpurukan, seseorang yang selalu sabar dengan apapun tingkah laku yang ia lakukan.

Orang itu telah pergi, meninggalkan berbagai kenangan manis yang akan selalu di kenang. Dia seseorang yang sempurna di mata keluarganya, seseorang yang selalu melindungi keluarganya. Kini, tanggung jawabnya di dunia telah usai.

Pesan tadi sore yang ia sampaikan, seakan menjadi pesan terakhir sebelum kepergiannya untuk selamanya.

“Terima kasih bapak, atas semua yang engkau berikan selama ini. Dita bakalan jagain ibu dengan baik.” – Dita.

 

Penulis: Al Wardatul Mahfudhoh

Editor : F. Azfar

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *