Dunia IslamPuisiSastraUncategorized

Perantauan

Penulis  : Muhammad Fathurrozaq

Editor    : Rifqi Hayyinul Ula

Dulu, Menuju malam diperantauan adalah suatu “pasar kedua” bagi kami. Ramai, hangat, penuh tawa, dan penuh cerita.

Kemarin, menuju malam di perantauan adalah “terminal” bagi kami, simpang siur silih berganti, ada yang pulang, ada yang datang. Tak terasa, saut-sautan tawa bersama mulai padam.

Sekarang, menuju malam diperantauan hanyalah “gambar”, tak bergerak, tak tertawa.
ketika dipandang merindukan, ketika dirasakan kesepian. Satu-satunya keramaian adalah mendekat kepada Tuhan.

Baca juga: Di persimpangan jalan yang telah di tempuh

 

 

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *