Ahlu sunnah Wal Jamaah (Aswaja) menjadi penting untuk di kaji oleh para pemuda, memakai landasan “pokok e manut Ulama” dirasa belum cukup menjadi benteng individu ketika menghadapi orang-orang di luar NU.
Walaupun lahir dari keluarga yang notabennya NU, pasti akan menghadapi rintangan yang berasal dari orang-orang yang memiliki cara pandang di luar Aswaja.
Merubah Cara Berpikir
Cukup banyak logika sederhana yang mampu menggembosi Aqidah kader-kader Nahdliyyin. Pengetahuan yang didapatkan dari kiai terkadang di bantah dengan logika sederhana dan candaan yang mampu mempengaruhi cara berpikir.
Baca juga: Guru Muda
“Ketika ditanya Aqidahnya mengikuti siapa ? kalau jawabannya bukan Imam Abu Hasan al-Asy’ari dan Imam Abu Mansur Al-Maturidi ya jangan ikuti, Kalau di tanya tasawwufnya ikut siapa ? kalau bukan Imam abu Hamid Al-Ghozali dan imam al-Junaid al-Baghdadi ya jangan ikuti.”
“Jikatidak mengikuti imam 4 madzhab seperti Imam Syafii, imam hambali, Imam abu hanifah, dan Imam Maliki ya jangan ikuti.” Ungkap Mohammad Subadar (Wakil Sekretaris PCNU Kab.pasuruan).
Benteng Anak-anak Muda
Generasi muda yang memiliki pemahaman mendalam tentang aswaja sangatlah dibutuhkan di zaman sekarang ini. Tiada lain sebagai benteng anak-anak muda. Anak muda yang cenderung lebih menyukai digitalisasi menjadi suatu keprihatinan.
Anak muda yang sering banyak bergerombol di lingkungannya dengan bermain game sudah sering kita lihat tentu hal yang tidaklah kita inginkan. Apalagi merusak pola pikir yang baik ke yang buruk. Anak muda yang tiktokan sudah sering kita lihat melupakan kebaikan-kebaikan yang lain.
Maka, pemuda yang memiliki kepandaian dalam keaswajaan tentu sangatlah di butuhkan guna menjadi pengaruh bagi mereka.
Kritis Karakter bangsa adalah hal yang penting untuk kita rubah ke arah yang lebih baik. Tentu tidak layak jika warisan Ulama’ berhenti pada kita. Sangatlah perlu membentuk kader-kader yang memahami aswaja secara mendalam.
Menyalurkan Cara Berpikir
Kendati demikian merupakah hak prerogatif Allah swt, tentu kita perlu menjaga Aqidah aswaja dengan menyalurkan cara berpikir yang lebih baik pada ana-anak muda, guna mencetak anak muda yang berakhlakul karimah.
Baca juga: Seruan Ulama NU Jelang Pemilu 2024: Buang Politik Identitas, Berpolitik Demi Rakyat
Selain itu, ancaman orang-orang yang ingin merusak NKRI tidak boleh kita hiraukan. Aliran-aliran yang merusak cara berfikir cenderung keras hingga menyalahkan satu sama lain menjadi sesuatu yang tidak perlu kita ikuti.
Merawat Aswaja
Oleh karenanya, keaswajaan harus terus kita rawat dan kita salurkan kepada generasi penerus bangsa guna menjaga NKRI dari kelompok yang ingin merusak bangsa Indonesia, khususnya yang berkeinginan untuk merubah cara berpikir yang harus dimiliki warga NU.
“Anak-anak muda sangatlah perlu untuk merawat pikiran guna menambah wawasan perihal keaswajaan, mari merawat pikiran dengan mendalami pengetahuan-pengetahuan tentang aswaja.” Ungkap Sami’ Mulyaji (Ketua PRMNU Kec.Lumbang)



