Pseudosains dan agama perlu kita bahas di tengah pesatnya teknologi informasi. Kehadiran teknologi membuat dunia masuk dalam kondisi banjir informasi. Kondisi ini melahirkan berbagai dampak baik sekaligus dampak buruk yang menyertainya.
Salah satu akibat pesatnya teknologi adalah merebaknya hoax dalam bentuk pseudosains yang parahnya lagi membawa serta nama agama.
Mengurai Pseudosains dan Agama
Kita perlu mengurai pseudosains dan agama agar kita tidak mudah termakan berita-berita hoax yang beredar seiring dengan perkembangan teknologi.
Pengertian Pseudosains
Pseudosains artinya semu atau palsu. Sedangkan sains berarti pengetahuan atau ilmu pengetahuan. Jadi, pseudosains adalah sebuah pengetahuan, praktek, informasi yang seolah-olah ilmiah, akan tetapi tidak mengikuti metode ilmiah.
Pseudosains atau sains semu biasanya dikemas menggunakan bahasa-bahasa ilmiah dan terkadang turut mengutip beberapa potongan teori ilmiah. Namun, pada dasarnya pengetahuan yang dimuat oleh pseudosains ini tidak memenuhi kaidah ilmiah sama sekali.
Contoh Kasus Pseudosains

Kasus pseudosains yang mungkin cukup sering kita dengar misalnya pada larangan minum sambil berdiri. Beberapa oknum guru agama dan artikel-artikel non sains sering menghubungkan antara minum sambil berdiri dengan kesehatan ginjal. “Jika kita minum sambil berdiri, maka air yang kita minum tersebut akan langsung masuk ke ginjal tanpa disaring,” begitulah kira-kira ucapannya.
Baca Juga: Jangan Menjual Agama Hanya Demi Dunia: Kisah Inspiratif Syahidah Pertama dalam Islam
Mari kita telisik dimana letak kesalahannya. Pertama, saya rasa anak setingkat SMP pun tahu jika kita makan atau minum itu akan bermuara pada lambung hingga usus besar, sama sekali tidak melewati ginjal. Proses makan dan minum melibatkan organ pencernaan sedangkan ginjal sendiri merupakan organ ekskresi.
Kedua, ginjal adalah organ yang berfungsi menyaring darah bukan menyaring air. Darah memang mengandung sekian persen air, tapi bukan berarti saat kita minum air langsung menuju ginjal.
Kasus-kasus seperti ini biasanya dihadirkan dengan tujuan membuktikan bahwa agama khususnya islam tidak bertentangan dengan sains. Naasnya niat yang baik tersebut tidak dibarengi dengan langkah-langkah ilmiah dan malah hanya berdasarkan asumsi belaka yang berujung pada pseudosains.
Terkadang pihak yang tidak bertanggung jawab tersebut juga menambahkan frasa “menurut penelitian” untuk menguatkan asumsi mereka. Namun jika kita meminta mereka menunjukkan jurnal penelitian mana yang membahas hal tersebut, tentu tidak ditemukan.
Oleh karena itu, alangkah baiknya jika segala sesuatu itu diserahkan pada ahlinya. Juga hendaknya kita senantiasa melakukan cross check terhadap kebenaran berbagai informasi yang kita dapatkan.
Penulis: M Muhson Al Farizi
Editor: Dina Surya Mega



