Kriktik Ibnu Mas’ud Terhadap Mushaf Utsmani: Perspektif Historis

Abdullah Ibnu Mas’ud termasuk golongan strata bawah masyarakat Makkah dan salah satu sahabat yang ikut hijrah ke Abisinia. Ia juga ikut dalam beberapa peperangan bersama Nabi Muhammad SAW dan dalam satu kesempatan ia adalah yang memenggal kepala Abu Jahal. Ibnu Hisyam dalam bukunya “Life of Muhammad” mengatakan bahwa ialah muslim pertama yang membacakan bagian dari ayat-ayat Al-Quran secara lantang dan terbuka kepada kaum Quraisy.
Pemeliharaan Al-Quran pada Masa Nabi
Pengumpulan dan pemeliharaan Al-Quran pada masa Nabi Muhammad SAW dilakukan dengan dua cara utama, yaitu menyimpannya ke dalam “dada manusia” atau menghafalkannya. Terlebih masyarakat Arab saat itu terkenal dengan kekuatan hafalannya. Yang kedua, Nabi SAW akan menyuruh beberapa sahabat untuk menuliskannya pada berbagai literatur yang tersedia pada saat itu, seperti batu, daun, pelepah kurma dan lain-lain.
Dengan mengutip sumber-sumber tradisional, Ahmad von Denver mengemukakan sejumlah nama sahabat yang memiliki catatan wahyu, seperti Ibn Mas‘ud, Ubay ibn Ka‘b, Ali ibn Abi Thalib, Ibn Abbas, Abu Musa al-Asy‘ari, Hafshah, Zayd ibn Tsabit, Aisyah dan lain-lain. Dalam tulisan ini akan membahas mengenai perbedaan mushaf Ibnu Mas’ud dengan mushaf Utsmani, serta penolakan Ibnu Mas’ud ketika mushafnya akan dibakar saat kodifikasi Al-Quran.
Kodifikasi Al-Quran
Pengumpulan Al-Quran pada masa Utsman dilatarbelakangi oleh kekhawatiran meluasnya perbedaan pendapat antara kaum muslim tentang penulisan dan bacaan Al-Quran yang benar. Masalah ini apabila tidak segera diatasi maka dikhawatirkan akan menimbulkan fitnah pada masa yang akan mendatang bagi umat Islam. Hal ini terlihat jelas ketika Utsman berpidato: ”Anda semua yang dekat denganku berbeda pendapat. Apalagi orang-orang yang bertempat tinggal jauh dariku. Mereka pasti lebih berbeda lagi.” (Riwayat Abu Dawud).
Dengan begitu Utsman mengambil langkah dengan membentuk sebuah team penulisan kembali Al-Quran ke dalam beberapa mushaf dengan acuan utama mushaf Abu Bakar, kegiatan ini biasa kita kenal dengan kodifikasi Al-Quran. Team ini terdiri dari 4 orang terpercaya dengan ketua Zaid ibn Tsabit, beranggotakan Abdullah ibn Zubair, Sa’id ibn al-Ash dan Abdurrahman ibn al-Harits ibn Hisyam.
Baca juga: Qasam Al-Qur’an: Jawaban untuk Orientalis tentang Keraguannya terhadap Al-Quran
Penolakan Ibnu Mas’ud
Terdapat berita bahwa Ibnu Mas’ud menolak menyerahkan mushafnya ketika Ustman mengirimkan salinan teks Al-Quran resmi ke Kufah, dengan perintah untuk memusnahkan teks-teks lainnya. Ia merasa jengkel dengan teks yang disusun oleh pemula seperti Zaid bin Tsabit, padahal ia yang lebih dulu masuk Islam.
Salah satu argument dari kaum orientalis adalah bahwa Abdullah Ibnu Mas’ud menolak membakar mushafnya dan mengatakan: “Bagaimana mungkin kalian menyuruhku membaca qiraat Zaid. Ketika Zaid masih kecil dan bermain dengan kawan sebayanya saya telah menghafal lebih dari tujuh puluh surah langsung dari lisan Rasulullah.”
Dalam kodifikasi Al-Quran yang dibentuk Utsman, Ibnu Mas’ud merasa lebih banyak mengetahui tentang seluk beluk Al-Quran. Ibnu Mas’ud menilai penyeragaman tersebut hanya akan memastikan keleluasaan dan kemudahan umat muslim dalam membaca dan memahami Al-Quran. Sebagaimana yang telah diajarkan oleh Nabi sejak awal. Mushaf Ibnu Mas’ud berpengaruh kuat dan memiliki otoritas di kalangan penduduk Kufah.
Penolakan tersebut menjadi munculnya tuduhan bahwa pengumpulan Al-Quran tidak berdasarkan ijma’ para sahabat karena Ibn Mas’ud menolaknya. Padahal Ibnu Masud tidak bermaksud untuk menolak pengumpulan Al-Quran dalam sebuah mushaf atau berbeda pendapat mengenai materi mushaf itu sendiri. Tetapi dia hanya mengklaim dirinya lebih berhak untuk menjadi bagian dalam team tersebut dibanding Zaid. Itupun dia mengatakannya dalam keadaan marah.
Setelah kemarahannya reda dia mengakui bahwa mereka sudah tepat memilih Zaid dalam melaksanakan tugas tersebut. Dia bahkan menyesal dan malu sehingga mengakatakan: ”Aku tidaklah lebih baik daripada mereka. Tidaklah Abu Bakar dan Utsman memilih Zaid kecuali karena beberapa kelebihan yang dimilikinya untuk menyandang tugas mulia ini.”
Perbedaan Mushaf Utsmani dan Mushaf Ibnu Mas’ud
Mushaf Utsmani memiliki rasm sendiri yang biasa disebut dengan rasm Utsmani. Rasm Utsmani merupakan tata cara menuliskan Al-Quran yang telah disepakati oleh Utsman dan tim kodifikasi Al-Quran pada masa itu. Rasm Utsmani memiliki beberapa kaidah yang akan menjadi standart penulisan Al-Quran seluruh umat muslim nantinya. Perbedaan yang mendasar antara mushaf Utsmani dengan Ibnu Mas’ud ialah sebagai berikut:
Baca juga: Abdullah bin Mas’ud, Orang Pertama Terang-terangan Membaca Al-Qur’an
Pertama, perbedaan konsonan yang sama, semisal kata rusydan dibaca rasydan.
Kedua, pemberian titik diakritis (i‘jam) yang berbeda terhadap kerangka konsonantal yang sama yaitu diberi satu titik di bawah huruf pertama dan dibaca busyran (بشرا) dalam rasm Utsmani. Namun dalam teks Ibn Mas‘ud titik diakritis ditempatkan di atasnya sehingga terbaca nusyran (نشرا). Jadi, perbedaannya hanya terletak pada pemberian satu titik di atas atau di bawah kerangka huruf pertama.
Ketiga, penyisispan atau pengurangan kata/sekelompok kata, misalnya kata tathawwa’a khairan disisipi dengan kata bi sehingga bacaannya menjadi tathawwa’a bi khairin.
Keempat, perbedaan pada grafis kata-kata tertentu seperti pada surah Al-Fatihah dibaca ihdina dalam mushaf Utsmani. Sedangkan dalam mushaf Ibnu Mas’ud dibaca asrsyidna.
Salah satu perbedaan mushaf Ibnu Mas’ud dengan mushaf Utsmani yang lain ialah dalam mushaf Ibnu Mas’ud tidak tercantum surat Al-Mu’awizatayn (An-Nas dan Al-Falaq). Hal ini bukan karena Ibnu Mas’ud mengingkarinya sebagai bagian dari Al-Quran. Tetapi karena Ibnu Mas’ud menganggap ia tidak menulis ketiga surat tersebut. Namun kaum muslimin pasti tetap akan mengakuinya sebagai bagian dari Al-Quran.
Kesimpulan
Dari beberapa pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa kodifikasi Al-Quran pada masa Utsman dilakukan dengan memusnahkan suhuf-suhuf yang dimilki oleh para sahabat. Hal tersebut bertujuan untuk menyeragamkan seluruh bacaan dengan patokan mushaf Usmani. Selanjutnya jika terdapat tambahan dalam beberapa mushaf sahabat seperti doa qunut pada mushaf Ibnu Mas’ud. Hal itu bisa jadi merupakan catatan dari pemilik mushaf tersebut ketika mendapat penjelasan dari nabie. Sehingga akan terlihat masuk dalam bacaan Al-Quran.
Penulis: Nur Fadhilah Laylatul Qadri (Penulis adalah Mahasiswa UIN Sunan Ampel Surabaya)
Editor: Bella Fadhilatus Sanah



