Dunia Islam

Tiga Fase di Bulan Ramadhan Beserta Amalan yang Dianjurkan

Bulan Ramadhan merupakan bulan yang istimewa bagi umat muslim. Bulan yang menjadi madrasah dalam peningkatan kualitas takwa dan pengendalian nafsu seseorang. Di bulan Ramadhan pula pahala amal kebaikan dan dosa amal keburukan dilipatgandakan.

Terdapat hadis yang diriwayatkan oleh Imam Al Baihaqi dalam kitab Syu’ab al iman yang berbunyi:

أَوَّلُهُ رَحْمَةٌ، وَأَوْسَطُهُ مَغْفِرَةٌ، وَآخِرُهْ عِتْقٌ مِنَ النَّارِ

Artinya, “Awal bulan Ramadhan adalah rahmat, pertengahannya adalah ampunan, sedangkan akhirnya adalah terbebas dari neraka.”

Penjelasan Hadis

Beberapa ulama hadis menilai hadis ini termasuk hadis dhoif (lemah) atau dhoif jiddan (lemah sekali). Meskipun demikian bukan berarti hadis ini tidak dapat dijadikan rujukan sama sekali dalam beramal. Sebagian ulama seperti Imam Nawawi, Sufyan as-Saury, dan juga Ahmad bin Hambal berpendapat bahwa hadis dhoif  boleh diamalkan terutama jika berhubungan dengan fadhoilul ‘amal  (keutamaan amal) dan bukan dalam penentuan hukum halal haram ataupun akidah.

Ustadz Moh. Al Faiz dalam tayangan TVNU menjelaskan bahwa pada sejatinya seluruh bulan Ramadhan adalah rahmat, ampunan, dan pembebasan dari api neraka. Namun beliau juga menerangkan perihal konteks dari hadis ini yakni rahmat Allah lebih banyak diturunkan pada awal bulan Ramadhan, ampunan-Nya lebih banyak diberikan pada pertengahan bulan Ramadan, dan pembebasan dari api neraka lebih banyak diberikan di akhir bulan Ramadan.

Amalan-amalan yang Dianjurkan

Berkaitan dengan amalan-amalan yang dianjurkan pada 3 fase tersebut, KH Maman Imanul Haq menjelaskan perinciannya.

Sepuluh malam pertama merupakan fase di mana Allah membukakan pintu kasih sayang. Dalam fase ini kita diberikan kemudahan dalam memberikan kepedulian terhadap sesama. Sepuluh malam kedua adalah fase ampunan sehingga kita sangat dianjurkan untuk memperbanyak dzikir dan meminta ampun kepada Allah.

Adapun fase yang ketiga yakni pembebasan dari api neraka dengan melakukan amalan mulai dari yang sederhana seperti menyingkirkan batu di jalan, mengawali amalan dengan basmalah, atau tidur dalam keadaan suci. Sepuluh hari terakhir juga merupakan momen peningkatan keseluruhan amal. Dalam Hadis dari Aisyah R.A. menyebutkan bahwa Rasulullah SAW meningkatkan intensitas ibadah beliau di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan melebihi malam-malam sebelumnya.

Penulis: M Muhson Al Farizi

Referensi:

https://youtu.be/zGgmmWeIAes?si=H4V2Pm94GhWYFDC6

https://www.nu.or.id/nasional/kiai-maman-jelaskan-tiga-fase-pada-bulan-ramadhan-ZmOLp

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *