Dunia IslamPesantren

Santri, Boyong, dan Pilihan Hidup yang Tak Pernah Hitam Putih

Boyong merupakan salah satu fase atau siklus yang akan dilalui oleh setiap orang yang menuntut ilmu di pesantren. Secara makna, boyong dapat diartikan sebagai sebuah peristiwa saat seorang santri harus meninggalkan pesantren baik untuk kembali ke kampung halaman, melanjutkan proses belajar pada guru yang lain, maupun melanjutkan hidup untuk mengejar mimpi.

Sebagai salah satu fase hidup, boyong dari pesatren bisa menjadi salah satu peristiwa yang menyimpan dilema cukup besar. Setelah banyak waktu dicurahkan untuk mengaji dan mengabdi pada guru di pesantren, ada saatnya santri harus memilih antara kemauan hati, permintaan orang tua untuk kembali ke rumah hingga impian yang hendak diperjuagkan.

Boyong bukan hanya sekedar pindah tempat tinggal, tetapi dibaliknya terdapat sebuah keputusan besar terkait loyalitas terhadap guru, bakti kepada orang tua, dan juga keinginan hati yang sering kali tidak berjalan seiringan.

Dilema yang Membentuk Keputusan

Bagi sebagian santri, alasan boyong bukan karena kurang bersyukur, tetapi karena keadaan yang mendesak. Ada yang memilih pulang demi membantu ekonomi keluarga. Ada pula yang mengikuti permintaan orang tua yang merasa sudah cukup lama anaknya mondok. Dilema batin sering kali menyertai: apakah keputusan ini sudah tepat? Apakah ilmu yang sudah didapat akan tetap membawa berkah?

Ada juga yang boyong karena ingin mencari guru yang lebih sesuai. Metode mengajar, fokus keilmuan, atau pendekatan spiritual yang berbeda, bisa menjadi alasan kuat untuk pindah. Di sinilah muncul konflik antara adab terhadap guru dan kebutuhan pribadi untuk tumbuh.

Baca juga: Santri dan Sandal Kiai: Simbol Adab dan Cinta Santri

Tak sedikit pula santri yang memboyong dirinya untuk mengejar mimpi: ingin menulis buku, kuliah ke luar negeri, atau berdakwah dengan pendekatan baru. Ketika pesantren asal dirasa kurang mendukung jalur itu, mereka merasa perlu berpindah. Bukan karena tak cinta, tapi karena cinta tak bisa dipaksa tinggal.

Boyong dalam Tradisi Intelektual Islam

Dalam sejarah Islam, mobilitas ilmu adalah keniscayaan. Para ulama besar seperti Imam Syafi’i, Imam Ahmad, bahkan Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari sekalipun pernah boyong—berpindah dari satu guru ke guru lain demi memperluas cakrawala keilmuan. Tradisi rihlah (perjalanan ilmu) justru menjadi syarat utama lahirnya otoritas ulama.

Namun, tentu tak semua bisa disamakan. Dewasa ini, boyong sering kali disalahpahami sebagai bentuk pembangkangan. Padahal, niat di balik boyong justru dapat dimaknai sebagai sarana memuliakan ilmu. Barang kali ada santri yang berpindah demi bisa mengkaji ilmu yang tak tersedia di tempat lama atau ada yang mencari akses ke fasilitas pendidikan formal.

Kesadaran terhadap fenomena ini dapat menjadi langkah awal untuk memahami tujuan dalam pengambilan keputusan santri sebelum boyong. Tetap memilih bertahan di pesantren dengan tujuan memperdalam ilmu dan pengabdian pada guru atau bahkan memilih boyong dengan tujuan melakukan pengabdian lebih luas di masyarakat atau berpidah tempat belajar untuk perluasan ilmu.

Baca juga: Bangga Jadi Santri, Mahasiswa Pascasarjana Ini Enggan Boyong dari Pondok Pesantren

Karena bagi seorang santri, yang menjadi tujuan utama adalah kebermanfaatan. Menjadi manusia yang bermanfaat di manapun dia berada. Mengabdi juga bukan hanya bisa dilakukan di dalam pesantren, tetapi juga bisa dilakukan di kehidupan bermasyarakat.

Pentingnya menjaga adab dan sikap. Menjadikan santri sebagai cara hidup karena santri adalah sebuah identitas yang akan tetap melekat sampai mati.

Penulis: Putri Malinda Nurul Faizah

Editor: Bella Fadhilatus Sanah

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *