“Manusia itu unik, berdiri sebagai hamba, tapi berbicara layaknya Tuhan.”
Pernahkah kamu merasa dinilai hanya dari penampilan?
Disindir karena masa lalumu?
Atau disalahkan saat kamu melakukan kesalahan?
Padahal kamu sedang berjuang.
Sedang bangkit. Sedang pelan-pelan kembali.
Tapi orang-orang… kadang terlalu sibuk menyorot lampu ke luka kita,
lupa bahwa mereka pun punya bekas luka atau luka yang tak kalah dalamnya.
Lisannya Tajam, Seolah Tahu Isi Langit
Lucu ya…
Kita ini cuma hamba.
Tapi kadang lidah kita bisa sekeras palu hakim.
Mata kita setajam pisau komentar.
“Eh dia baru hijrah tapi udah sok alim.”
“Temenan sama si itu, fix nggak bener.”
“Nggak pantas ngomong agama, dulu kelakuannya gimana?”
Seolah kita tahu lembaran catatan dosa orang lain.
Seolah surga dan neraka bisa ditentukan dari caption dan instastory.
baca juga: K.H. Zahid Syafi’i: Sejarah dalam Mendirikan Pondok dan Perjuangan Bagi Masyarakat Blitar
Kita Hanya Hamba, Bukan Tuhan
“Kalau saja kita tahu seberapa besar dosa kita sendiri,
kita akan terlalu sibuk menangis di sajadah,
daripada sibuk membicarakan orang lain.”
Kita ini hanya hamba.
Yang seringkali lebih banyak dosanya daripada amalnya.
Yang seharusnya lebih banyak istighfar daripada komentar.
Yang tugasnya bukan menghakimi, tapi saling menasihati.
Imam Al-Ghazali pernah berpesan indah:
“Jangan pernah menghina seorang pendosa.
Karena bisa jadi ia bertaubat esok hari dan mati dalam husnul khatimah,
sedangkan kau… masih sibuk membicarakan aibnya.”
Yang Kita Butuh: Pelukan, Bukan Palu
Kita semua sedang dalam perjalanan.
Ada yang baru mulai belajar menutup aurat.
Ada yang pelan-pelan tinggalkan musik,
Ada yang masih jatuh bangun menjaga pandangan.
Ada pula yang sedang belajar salat tepat waktu.
Tapi sayangnya,
yang mereka temui bukan pelukan…
melainkan palu.
Yang mereka harap adalah doa…
tapi yang datang malah hinaan.
“Seandainya kita tahu proses berat yang orang lain lewati,
kita akan memeluk, bukan mencemooh.”
baca juga: Kisah Bal’am bin Ba’ura: Ketika Ilmu Tak Lagi Menuntun pada Kebenaran
Untukmu yang Dihakimi Karena Ingin Kembali
Kamu yang sedang belajar menjadi lebih baik,
jangan berhenti hanya karena omongan manusia.
Manusia suka menilai dari apa yang tampak.
Tapi Allah? Dia tahu hatimu. Dia tahu tangismu.
Tetaplah berjuang.
Meski kamu harus memulai dari ucapan sederhana:
“Ya Allah… Ya Allah… Ya Allah…”
Karena pada akhirnya, bukan suara netizen yang akan menentukan nasibmu.
Tapi sujudmu… dan istighfarmu.
Jangan Jadi Hamba yang Sok Jadi Tuhan
“Tugas kita bukan menilai siapa pantas masuk surga,
tapi menilai diri… apakah kita sudah pantas berdiri di hadapan-Nya?”
Jika hari ini kamu masih mudah mengomentari orang lain,
maka barangkali kamu sedang lupa siapa dirimu di hadapan Tuhan.
Kalau kamu benar-benar paham bahwa kamu ini hamba,
maka kamu akan lebih banyak menunduk daripada menunjuk.
Yuk, kita sama-sama belajar…
Menjadi hamba, bukan hakim.
Menjadi teman yang merangkul, bukan tangan yang memukul.
Karena surga… bukan tempat bagi mereka yang merasa paling suci.
Tapi bagi mereka yang paling banyak menangis karena dosanya sendiri.
yang pernah terjatuh,
yang pernah dihakimi,
atau mungkin…
yang tanpa sadar pernah menghakimi orang lain.
Semoga kita diberi hati yang lembut, lisan yang terjaga, dan iman yang tumbuh… perlahan, tapi pasti.
Penulis : Mufit Suyuti
Editor : Muhammad Fachri Hibatullah



