Redaksi

Resiliensi Psikologis dan Faith Blues dalam Perspektif Islam

Kehidupan manusia tidak pernah lepas dari pergulatan dengan penderitaan. Krisis ekonomi, hilangnya pekerjaan, masalah keseharian, bencana alam, hingga kehilangan orang tercinta, semuanya meninggalkan jejak mendalam pada kesehatan jiwa. Hal semacam ini diistilahkan sebagai resiliensi oleh pemahaman psikologi modern yang menyebut kemampuan untuk menghadapi dan melewati tekanan demikian.

Konsep ini menunjuk pada kekuatan untuk menata ulang diri setelah dihantam kesulitan, sekaligus menemukan jalan baru menuju kebermaknaan. Penderitaan yang dialihfungsikan menuju upaya resiliensi inilah yang menjadi satu-satunya jalan menikmati rasa sakit sekaligus menjadi sumber daya untuk pemulihan lebih lanjut.

Resiliensi dalam Pandangan Islam

Dalam pengalaman religius, daya tahan jiwa memiliki lapisan lain yang lebih halus. Banyak orang beriman justru merasakan kerapuhan spiritual ketika menghadapi cobaan. Kekecewaan, kegelisahan, dan rasa jauh dari Tuhan menjadi bagian dari dinamika yang dalam literatur psikologi agaman disebut faith blues.

Di dalam tradisi Islam, keadaan semacam ini sering kali disinggung sebagaimana istilah futur, saat gairah iman menurun, semangat ibadah melemah, dan hati terasa asing dari kehangatan spiritual. Tentunya, kondisi ini tidak selalu menandakan runtuhnya iman, melainkan fase yang memperlihatkan betapa rapuh sekaligus lenturnya manusia di hadapan pengalaman batin yang menekan.

Resiliensi dalam Kisah Nabi Ayyub

Warisan Islam sejak awal telah memberi peta jalan untuk menghadapi situasi semacam ini. Kisah Nabi Ayyub misalnya, memperlihatkan keteguhan batin seorang hamba yang diuji habis-habisan. Beliau kehilangan harta, anak, bahkan kesehatan tubuhnya, tetapi tetap menjaga hubungan dengan Tuhan memalui kepasrahan dan doa annî massaniyadl-dlurru wa anta ar-ḫamur-râḫimîn (Q.S. Al-Anbiya [21]: 83).

Para ulama kemudian membaca kisah ini sebagai simbol resiliensi spiritual. Imam al-Ghazali dalam ihya’nya menekankan bahwa kesabaran adalah latihan jiwa yang menumbuhkan ketenangan, karena di balik setiap kesulitan tersembunyi peluang untuk mengenali rahmat Allah secara lebih mendalam.

Coba kita amati beberapa pengalaman serupa pada masyarakat kontemporer. Para penyintas bencana di Indonesia misalnya, kerap menunjukkan ketahanan yang bersumber dari iman. Studi tentang korban erupsi merapi, misalnya, merekam ungkapan-ungkapan yang berkesan pasrah seperti “iki wis kersane gusti Allah” sebagai dialog maupun fondasi untuk melanjutkan hidup di tengah duka maupun perasaan akan kehilangan.

Keyakinan religius memberi daya lenting psikologis yang membuat mereka sanggup bangkit kembali, meski kerugian yang dialami begitu besar. Fenomena ini memperlihatkan bahwa resiliensi dan faith blues bukanlah konsep yang terpisah, melainkan menjadi bagian dari dinamiki kejiawaan bagi umat beragama. Manusia jatuh ke dalam kegelisahan iman, lalu berusaha menegakkan dirinya kembali dengan bertumpu pada keyakinan spiritual.

Ujian dalam Perspektif Islam

Fenomena ini membuka ruang tafsir yang menarik. Di dalam perspektif Islam, ujian atau cobaan selalu dibingkai sebagai sunnatullah yang tidak mungkin dihindari. “Dan sungguh, Kami akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan, dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar” (Q.S. Al-Baqarah [2]: 155).

Al-Tabari, menafsirkan ayat tersebut dengan menekankan fungsi ujian sebagai tamḥīṣ, yakni proses penyaringan yang menguji sejauh mana kemurnian iman seseorang. Perspektif ini memberi kerangka bahwa penderitaan menjadi standar dinamika yang menguji kualitas eksistensi manusia di hadapan Allah. Di sinilah faith blues bisa dibaca bukan sekadar gejala psikologis, melainkan momentum krisis iman yang justru membuka jalan bagi transformasi spiritual.

Kajian psikologi modern, memang banyak mengulas resiliensi dari sisi kognitif, dukungan sosial, dan strategi adaptasi. Namun, jika ditautkan dengan tafsir Qur’an, resiliensi tidak berhenti pada fungsi adaptif, melainkan bergerak ke arah transendensi. Fakhruddin al-Razi dalam Mafatih al-Ghayb menafsirkan sabar sebagai “al-imsāk ‘inda shiddat al-bala’” (menahan diri pada puncak kesulitan). Ini merupakan definisi atau istilah yang mengandung makna lebih dalam daripada sekadar mengontrol rasa gelisah atau stres.

Sabar di sini adalah kemampuan spiritual untuk menjaga kesadaran akan kehadiran Allah di tengah badai hidup. Tafsir ini menunjukkan adanya lapisan ketahanan yang melampaui pemahaman sekuler tentang resiliensi bahwa manusia tidak hanya bertahan, tetapi juga belajar meningkatkan dirinya pada sumber makna yang transenden.

Adanya sebuah kritik kiranya perlu diarahkan pada kecenderungan ideologo atau literatur Barat yang sering mengabaikan dimensi iman. Jika faith blues hanya dipahami sebagai gangguan religius, maka intervensinya cenderung diarahkan pada terapi rasional atau konseling berbasis kognitif. Padahal, dalam kerangka Islam, krisis iman justru menjadi titik balik yang signifikan.

Baca juga: Pengertian Resiliensi, Simfoni Dakwah Sunan Kalijaga, Fakta Unik Maulid Nabi

Pandangan Ibnu Qayyim al-Jauziyyah

Ibnu Qayyim al-Jauziyyah dalam Madarij al-Salikin menyebut kondisi hati yang gundah sebagai “inqilab al-qalb” (keterbalikan hati) yang bisa menjadi pintu bagi tajdid al-iman (pembaruan iman). Artinya, kegelisahan spiritual menjadi peluang untuk menata ulang relasi dengan Allah. Pandangan ini menantang paradigma psikologi modern yang kerap menafsirkan krisis spiritual semata-mata sebagai kelemahan psikis.

Integrasi tafsir Qur’an, pendapat ulama klasik, dan kritik atas literatur psikologi memperlihatkan resiliensi dalam Islam sebagai proses yang hierarkis. Tahap awal ditandai dengan pengakuan atas realitas penderitaan. Setelah itu muncul latihan hingga tekanan batin melalui rasa sabar dan tawakal yang menumbuhkan keteguhan hati.

Proses ini kemudian mengantarkan seseorang pada penguatan iman. Di dalam paradigma semacam ini, faith blues terbaca sebagai fase dialektis dalam perjalanan spiritual. Krisis iman yang dialami seorang mukmin dapat berubah menjadi momen refleksi mendalam, tempat manusia menafsirkan kembali penderitaan sekaligus memperkuat relasinya dengan Tuhan. Resiliensi yang terbangun dari pengalaman semacam ini menghadrikan ketahanan eksistensial, ketika luka dan kehilangan justru menjadi pintu menuju kedalaman spiritual.

Penulis : Muhammad Ariby Zahron
Editor   : Albila Nurfadilah

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *