Pada muktamar NU ke-16 di Purwokerto Tahun 1946, Hadratus Syaikh Kiai Hasyim berpidato tentang urusan yang amat duniawi. Beliau membincangkan ihwal negara, tentara, hingga siapa yang hendak mengaturnya. Menurut Firdaus (2021), yang menyadur catatan KH. Saifuddin Zuhri, beliau meminta para ulama menaikkan tingkat/taraf berpikir yang melampaui tingkat berpikir umat pada masa itu. Menukil dari risalah Abu Bakar, beliau mencandrakan bahwa semula Khulafaur Rasyidin memikirkan pasarnya, lalu di Madinah memikirkan soal militer dan negara. Kalau ulama enggan, urusan itu akan dipegang orang luar, artinya ulama harus selalu siap sedia mengurusi segala lini kehidupan. Sementara itu, di lain waktu, menurut kesaksian KH. Abdurrahman Badjuri, beliau memimpin mujahadah malam hari di Wisma F, Tebuireng. Hauqalah dibaca seratus kali, disusul alam tara, dengan niat agar pasukan Belanda menyerah. Dari sini, satu sosok, dengan dua isyarat yang tampak berjeda, yang satu bicara siasat, yang lain bermunajat. Sebetulnya, apa yang menyatukan keduanya?
Pertanyaan itu tidak bisa dijawab sebelum kita menyepakati nama bagi etika yang bekerja di dalamnya, karena tanpa nama itu, kita hanya menumpuk cerita lepas atau kekonyolan semu belaka. Literatur semacam ini kerap dikenal sebagai profetik. Dari pembacaan itu saya mengikhtisarkan praanggapan bahwa yang menyatukan dua isyarat tadi ialah mentalitas yang mengikat dimensi lahir (tindakan sosial-historis) dengan dimensi batin (disiplin spiritual dan orientasi transendental), sehingga keduanya tidak berjalan sendiri-sendiri.
Berkenaan dengan laguh-lagah tentang rumusan istilah itu, sebetulnya kita jatuh pada interpretasi Kuntowijoyo yang menerjemahkan ciri umat terbaik dalam QS. Ali Imran: 110. Firman Ilahi tersebut ditakwil sebagai ilmu sosial profetik yang memiliki padanan bahasa amar ma’ruf sebagai humanisasi, nahi munkar sebagai liberasi, dan iman kepada Allah sebagai transendensi. Humanisasi memulihkan martabat manusia dari dehumanisasi. Liberasi membebaskan manusia dari belenggu sistem pengetahuan, sosial, ekonomi, dan politik. Sedang transendensi menjadikan Allah rujukan tertinggi bagi keduanya, supaya nilai tidak bergantung pada kelompok yang dominan.
Dua paradigma ekstrinsik dalam kerangka ini pula, menunjuk ke arah yang sedang saya cari. Objektifikasi adalah sisi dhohir, sedangkan transendensi adalah dimensi batin. Saya sadar kerangka ini lahir dari ilmu sosial (sosiologi kerakyatan-kemasyarakatan), dan bukan dari kajian genealogi kepesantrenan. Walhasil, saya memakainya sebagai alat baca, bukan sebagai klaim bahwa Kiai Hasyim bekerja dengan rumusan Kuntowijoyo. Karena itu, kerangka ini diposisikan semata-mata sebagai perangkat baca, bukan sebagai klaim bahwa K.H. Hasyim Asy’ari merumuskan gagasannya dengan skema Kuntowijoyo. Dari posisi analitis tersebut, saya mengusung sebuah pertanyaan mendasar, bahwa dari mana dimensi batin itu muncul?
Pertama, guna menjawab persoalan ini adalah tarekat. Mengutip Dhofier (2011) bahwa pesantren layaknya tarekatsentris. Artinya, pesantren menjadi ruang akan kepatuhan syariat yang disertai wira’i dan riyadhah di dalamnya. Praktik itu dimaksudkan membangkitkan kesadaran profetik lewat peneladanan para nabi. Hasilnya kesalehan asketik, yang dikehendaki berjalan harmonis dengan aspek lahiriah. Kedua, bertolak dari Al-Farabi, penyempurnaan akal dipahami sebagai lintasan bertahap yang bermuara pada kesadaran transendental, yakni titik temu antara kecerdasan profetik dan kecerdasan sufistik.
Dalam kerangka ini pula, yang dipersoalkan bukanlah kenabian sebagai jabatan (nubuwwah) yang telah paripurna dengan khatamun nubuwwah, melainkan kualitas profetik sebagai kapasitas kesadaran yang terbuka untuk diupayakan secara filosofis. Pembacaan demikian melandasi pijakan dalam ungkapan masyhur bahwa salat adalah mi’raj orang-orang beriman, yang menggeser mi’raj dari peristiwa historis yang telah selesai menggema menjadi pengalaman spiritual yang senantiasa dapat dihadirkan melalui praktik ubudiyah.
Bertolak dari dua hipotesis tersebut, saya menyebut pada satu pemahaman, yakni batin yang dimaksud adalah capaian yang dilatih, sehingga bukan lagi menyangkut keadaan perasaan yang hadir dengan sendirinya. Jika demikian, latihan itu semestinya meninggalkan jejak pada cara seseorang bertindak, dan jejak tersebut ditelusuri pada K.H. Hasyim Asy’ari. Kiprahnya yang mencakup bidang politik melalui MIAI dan Masyumi, bidang kemiliteran melalui Hizbullah dan Sabilillah, bidang ekonomi melalui Nahdlatut Tujjar, serta pendidikan dan penyatuan umat.
Akan tetapi, inventarisasi kiprah ini belum menjelaskan dimensi batin tersebut. Yang lebih informatif bagi perumusan ini adalah pola pembacaan situasi melalui kias historis-keagamaan, yakni ketika misalnya perpecahan umat Islam yang dianalogikan dengan Perang Hunain, keengganan berjuang sekelompok dengan sikap pasukan Thalut menghadapi Jalut, pembangunan negara dengan penataan Madinah pascahijrah, dan kemerdekaan dengan fathu Makkah. Pola ini diperkuat oleh praktik mujahadah yang berpijak pada iqtida’, yakni meneladani kepasrahan para nabi, dari Ibrahim hingga Nabi Muhammad di Badar.
Apabila pola ini dibaca berurutan, tampak satu logika yang sama bekerja di dua adegan pembuka tadi. Situasi kini dibaca melalui kehidupan Nabi, lalu keputusan diambil dari bacaan itu, baik berupa pidato muktamar maupun wirid di malam hari. Batin berfungsi sebagai lensa, dhohir adalah apa yang dikerjakan setelah melihat lewat lensa itu. Karena pola tersebut berulang di ruang yang berbeda dan bekerja pada tingkat cara menalar, saya memilih untuk menyebutnya mentalitas, sehingga cara membaca dunia semacam ini hanyalah keteladanan yang sering dikeluhkan hilang dari ruang publik kita.
Cara termudah menguji apakah dua sisi itu memang harus bersama adalah dengan membayangkan salah satunya hilang. Kalau batin ada tapi dhohir tidak, orang berdiam di balik bilik kontemplasi sementara dunia berjalan tanpa dia. Sebenarnya, tujuan kenabian bukan puncak spiritualitas, melainkan menyelamatkan umat atas diri sendiri, sehingga manusia diciptakan sebagai khalifah yang memakmurkan bumi, bukan surga. Kalau dhohir ada tapi batin tidak, orang terus bergerak tanpa pegangan etis. Oleh karenanya, kehilangan batin disebut pula sebagai aktivisme yang kehilangan jangkar. Dua peringatan dari dua arah yang berlawanan ini menguatkan dugaan bahwa yang penting adalah ikatannya.
Baca juga: Sang Panutan
Meski begitu, saya perlu jujur soal batas paradigma ini. Fazlur Rahman pernah berpendapat bahwa pengalaman mistik Nabi terutama terjadi di periode Makkah, sedangkan di Madinah yang menonjol adalah pembangunan masyarakat. Kalau benar, teladan Nabi sendiri berurutan, bukan serentak. Jadi cara Kiai Hasyim menyatukan keduanya sekaligus mungkin adalah sebuah syarahan terhadap tradisi pesantren itu sendiri. Ada juga pembacaan lain, bahwa tarekat dipakai para kiai sebagai cara berpolitik, untuk menyembunyikan sikap antikolonial dari kecurigaan penjajah. Kalau begitu, ikatan lahir-batin itu bisa menjadi strategi.
Karena itu, Kiai Hasyim dalam pidatonya di Purwokerto yang menyebut bahwa menjadi alim dan pemimpin tidaklah cuma-cuma. Ada perhitungannya, dan perhitungan itu sudah dimulai di dunia, sebelum akhirat. Kalau Makkah adalah tempat batin ditempa dan Madinah tempat nilai itu diuji di tengah masyarakat, maka perhitungan di dunia adalah ujian Madinah, yakni bukan seberapa banyak wirid dibaca, melainkan apa yang berubah bagi umat karena wirid itu.
Lalu apa artinya semua ini bagi pesantren kita? Bagi pesantren mana pun yang melangsungkan mengaji, salat berjamaah, riyadhah, dan juga kerja bagi masyarakat sekitar. Itu berarti ukuran profetik sebetulnya tidak terletak pada atribusi profetik yang tampak, seperti sarung, kitab kuning, atau kultus kenamaan santrinya, akan tetapi pada ada tidaknya sambungan di antara bahan-bahan itu. Artinya, apakah santri yang dilatih bangun malam juga diajar dan/atau menyadari untuk membaca persoalan kampungnya dengan teladan Nabi sebagai sudut pandang? Apakah kiai yang mengajak prihatin juga berani bicara ketika ada manusia yang direndahkan? Ini ukuran yang saya turunkan sendiri dari paradigma Kuntowijoyo dan pidato Kiai Hasyim. Ala kulli haal, masih sanggupkah kita memikul dua sisi itu sekaligus dalam pesantren, dan adakah yang menyadari ketika salah satunya mulai terlepas?
Penulis: Muhammad Ariby Zahron
Editor: Muhammad Fachri Hibatullah



