Memahami Hakikat Waktu: Dari Perspektif Fisika Hingga Nilainya dalam Islam
“Pada hari Rabu, 20 Agustus 2024 tepat pukul 7 pagi Bastuta duduk melamun di depan teras rumahnya. Ia merenung memikirkan usianya yang sudah menginjak 21 tahun.”
Dari dua kalimat tersebut kira-kira mana yang menunjukkan waktu? Kita bisa menemukan beberapa jawaban.
Pertama, hari dan tanggal yang merujuk pada gerakan revolusi bumi. Kedua, pukul 7 yang merujuk pada pergerakan jam. Ketiga, pagi yang merujuk pada gerakan rotasi bumi. Bahkan kita juga bisa menyebut kegiatan Bastuta serta umurnya sebagai waktu. Misalnya kita mengatakan “Bastuta melamun saat ia sedang duduk” atau “Ia sering melamun saat usianya menginjak 21 tahun.”
Jadi sebenarnya apa itu waktu?
Baca juga: 10 Ayat Al-Qur’an tentang Waktu: Ada yang Dijadikan Sumpah oleh Allah
Definisi Waktu Menurut Fisika
Mengutip dari study.com, waktu dalam fisika adalah ukuran perubahan dalam kuantitas fisik misalnya rotasi bumi melahirkan siang dan malam serta gerakan jarum jam menunjukkan detik, menit, dan jam.Waktu juga berarti besaran yang digunakan untuk mengukur durasi suatu kejadian apakah terjadi dalam hitungan detik, menit, tahun, dan seterusnya.
Fisika klasik yang lahir di era Isaac Newton menganggap waktu sebagai sesuatu yang pasti dan tetap. Newton memandang waktu sebagai bagian terpisah dari peristiwa fisik, dan tidak dipengaruhi oleh gerakan atau posisi benda.
Sementara itu, dalam fisika kuantum waktu bersifat relatif tergantung pada kecepatan dan gravitasi. Salah satu tokohnya yang terkenal yakni Albert Einstein melalui teori relativitasnya. Menurut teori relativitas khusus Einstein, jika suatu benda bergerak mendekati kecepatan cahaya, maka waktu akan berjalan lebih lambat bagi benda tersebut dibandingkan dengan benda yang diam.
Baca juga: Kisah Menakjubkan Sayyidah Aisyah di Balik Karya Dr. Al-Buthi
Lantas bagaimana islam memandang waktu tersebut?
Waktu dalam Islam
Al Qur’an menyebutkan kata waktu dalam beberapa diksi diantaranya “demi masa” (wal ashr), “demi malam” (wa al-lail), “demi waktu matahari sepenggalahan naik” (wa dhuha), “demi siang” (wa al-nahar), “demi waktu subuh” (wa al-subhi), dan “demi waktu fajar” (wa al–fajr). Setiap waktu yang disebutkan memiliki makna tersendiri dalam pandangan Islam.
Islam memandang waktu sebagai sesuatu yang sangat berharga. Misalnya dalam ungkapan الوقت أثمن من الذهب )waktu itu lebih berharga daripada emas) atau dalam ungkapan لن ترجع الأيام التي مضت ” )Tidak akan kembali hari-hari yang telah berlalu). Islam
Banyaknya penggunaan kata waktu dalam Al-Qur’an khususnya yang disandingkan dengan sumpah menunjukkan betapa Islam sangat menghargai waktu. Tidak ada waktu yang boleh terlewat kecuali diisi dengan ibadah baik ibadah mahdhoh maupun ghoiru mahdhoh.
Wallahu a’lam
Penulis: M. Muhson Al Farizi
Editor: Bella Fadhilatus Sanah



