Redaksi

Keterbatasan dalam Pendidikan Itu untuk Diatasi, Bukan Dimaklumi

Keterbatasan Pendidikan‎‎

Salah satu masalah pendidikan yang cukup banyak kita jumpai di negeri ini adalah terlalu banyaknya keterbatasan yang dimaklumi. Alih-alih dicarikan solusi, dalihnya selalu guru dituntut lebih kreatif memaksimalkan apa yang ada. Atau murid dituntut lebih keras berjuang dengan dibumbui kisah susahnya zaman dulu. Membandingkan dengan zaman sekarang.

‎Lantas apa saja keterbatasan yang saya maksud tadi? Mari kita bahas.

‎1. Ruang kelas yang tidak cukup

‎Di tengah isu sekolah yang hampir tutup karena kekurangan murid, ada sekolah-sekolah yang justru kelebihan murid. Saya sebut kelebihan karena pada kenyataannya fasilitas yang dimiliki tidak sebanding dengan jumlah muridnya. Biasanya jumlah siswa di sekolah tersebut membludak karena beberapa hal seperti tertarik akan prestasinya, lulusannya, atau bisa juga karena siapa tokoh/pendirinya.

‎Karena jumlah siswa dan ruang kelas yang dimiliki tidak sebanding, maka biasanya solusinya adalah memadatkan jumlah siswa tiap kelasnya. Kelas yang idealnya diisi oleh 30-an siswa harus diisi 40 hingga 50an siswa.

‎Disadari atau tidak hal ini tentu akan mengurangi efektivitas pembelajaran di kelas tersebut. Belum lagi jika desain ruangannya kurang memadai, fasilitas pendukung kurang, jumlah kursi dan meja, dan sebagainya semakin membuat pembelajaran tidak maksimal.

‎Masalah ini tentu bisa diatasi dengan kebijakan masing-masing sekolah. Entah itu membatasi jumlah pendaftar atau menambah fasilitas. Mana yang memungkinkan, itu yang dilakukan.

‎Bukan malah berlindung dengan alasan “masih proses”, “masih dibangun”, “pembangunan bertahap” dan alasan lainnya. Simpel saja. Jika belum dibangun, belum ada tempatnya ya jangan diterima. Titik. Jangan hanya mengejar jumlah murid yang banyak dengan tujuan mendapatkan dana BOS yang lebih banyak.

‎2. Fasilitas yang tidak memadai

‎Saya melakukan riset sederhana ke teman-teman saya yang berprofesi sebagai guru. Tentang kondisi sekolah tempat mereka mengajar. Sebagian sudah lengkap, sebagian tidak ada sama sekali, sebagian lagi ada namun tidak terawat dengan baik atau mungkin sudah berusia puluhan tahun.

‎Dua yang terakhir, saya rasa perlu diselesaikan.

‎

‎Bagaimana tidak, banyak sekali guru-guru yang menggunakan gajinya yang tidak seberapa itu untuk membeli alat dan bahan untuk keperluan mengajarnya. Mereka rela merogoh saku pribadinya demi membeli alat praktikum, kertas, bahkan proyektor juga ada.

‎Guru itu bukan milyader yang punya uang berlebih. Jadi ayolah diselesaikan masalah fasilitas ini. Dicarikan solusi bagaimana cara mengatasinya.

‎3. Desain sekolah yang monoton

‎Keterbatasan pendidikan yang satu ini saya rasa jarang disinggung juga. Kita terkadang sibuk menagih cara guru mengajar agar lebih asyik, agar muridnya tidak mengantuk saat pelajaran. Atau sibuk menghukum/memarahi murid yang ketahuan tidur di jam pelajaran. Tapi kita lupa memperhatikan bagaimana desain lingkungan sekolahnya.

‎Sudahkah ada ruang untuk belajar di luar sehingga anak lebih aktif? Sudahkah desain bangunan sekolah dirancang lebih unik dan menarik sehingga nyaman digunakan. Sudahkah warna cat bangunan disesuaikan dengan kebutuhan siswa, berdasarkan riset tentunya. Bukan berdasarkan selera pimpinan sekolahnya.

‎Saya pernah menjumpai sekolah menengah kejuruan yang memiliki desain yang unik dan mengasyikkan. Warna dindingnya juga dibuat menarik dan Colourful. Enak sekali dipandang mata. Bahkan saya melihat ada prosotan di samping tangganya. Dan banyak lagi hal yang menarik dari bangunannya.

‎Ini bukti bahwa sebenarnya bangunan sekolah bisa didesain seunik mungkin tidak hanya monoton kotak dengan jendela jadulnya. Desain bangunan yang menarik memungkinkan siswa lebih antusias hadir di sekolah.

‎Apakah ada kendala? Ya, jelas ada. Tapi, sekali lagi kendala itu harus diselesaikan. Titik. Bukan dimaklumi.

Baca juga: : Jejak Santri di Negeri Riuh,  HUT Ke-80 RI, GNB Soroti Reformasi Pajak

‎Hanya tiga saja? Oh, ya, tidak. Ada banyak sekali keterbatasan yang tidak bisa dijelaskan satu per satu dalam tulisan ini. Pada intinya siapa pun itu, entah pemerintah, pimpinan yayasan, atau siapalah yang bertanggung jawab dalam satuan pendidikan tersebut harusnya menyelesaikan masalah keterbatasan ini. Jangan hanya dimaklumi dan dimaklumi terus-terusan.

‎Itu pun jika para penganggung jawab pendidikan ini peduli dengan kualitas pendidikan kita. Tapi, jika tidak, ya tidak mengapa dibiarkan begitu saja.

‎Jika keterbatasan tadi terus saja dimaklumi, hasil belajar yang rendah pun cukup dimaklumi. Siswa tidak berprestasi dimaklumi, siswa tidur dimaklumi, hingga ujungnya negara mundur karena SDM-nya rendah juga dimaklumi saja.

Penulis : ‎M. Muhson Al Farizi
Editor   : Albila Nurfadilah

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *