Dunia Islam

Ibnu Sina: Keseimbangan Mental dan Humor Pada Tubuh Manusia

Dewasa ini kesehatan mental mulai banyak digaungkan. Kesadaran manusia terhadap kesehatan mental merupakan langkah yang utama untuk bisa menerima dan memahami pentingnya isu kesehatan mental, agar tidak ada justifikasi dan judgement tidak berdasar tentang hal tersebut. Dalam dunia keilmuan Islam, isu kesehatan mental juga menjadi perhatian khusus, salah satu ilmuan Islam yang memiliki concern terhadap kesehatan mental adalah Ibnu Sina.

Ibnu Sina, tokoh besar dalam bidang kedokteran modern, seorang filsuf yang sangat disegani, dan seorang yang sangat cinta pada ilmu, menghabiskan sebagian besar waktunya untuk belajar, menjadi seorang dokter dan menghasilkan karya-karya yang berpengaruh hingga berabad-abad lamanya.

Tiga Kondisi Tubuh Manusia Menurut Ibnu Sina

Ibnu Sina, dikenal sebagai Bapak Kedokteran Modern. Orang Barat mengenalnya sebagai Aviccena, dengan karya fenomenalnya Qanun fi Ath-Thibb, yang menjadi rujukan utama kedokteran modern sampai pertengahan abad 17. Dalam karyanya, beliau menyebutkan bahwa kondisi tubuh manusia secara umum berada dalam 3 kondisi, yakni Shihhah, Mariid, dan Laysat bi Shihhah wa La Mariid.

Shihhah adalah kondisi tubuh berada dalam kondisi dan performa terbaiknya, sementara Mariid adalah kondisi tubuh berlawanan dengan keadan saat Shihhah. Untuk kondisi Laysat bi Shihhah wa La Mariid adalah saat tubuh belum menunjukkan gejala penyakit yang signifikan namun fungsi tubuh dan keseimbangannya sudah mulai terganggu, seperti kondisi kelelahan kronis atau stress berlebihan yang belum menunjukkan gejala fisik.

Ibnu Sina menyebutkan bahwa kondisi Shihhah itu mencakup sehat fisik dan juga mental. Kondisi fisik yang baik belum tentu dalam keadaan mental yang baik pula, karena sehat secara mental versi Ibnu Sina adalah kondisi emosi yang stabil, pikiran jernih, terjadinya keseimbangan jiwa dan tubuh serta tegaknya spiritualitas dan moralitas.

Kondisi kejiwaan seseorang juga dapat berpengaruh pada kesehatan fisik manusia, kondisi ini lebih dikenal dengan istilah Psikosomatis, contohnya adalah saat sesorang sedang dalam kondisi stress berat, biasanya juga akan berpengaruh pada performa fisiknya, tiba-tiba sakit kepala atau terserang gerd.

Baca Juga: Ilmu Mantiq: Sebuah Gagasan Al-Farabi tentang Peranan Logika

Ragam Humor Manusia

Tubuh merupakan wadah jiwa, sementara jiwa sebagai penggerak tubuh. Keduanya saling mempengaruhi satu sama lain dan perlu dijaga keseimbangannya. Dalam hal ini, Ibnu Sina juga melakukan pengembangan teori Humor atau cairan tubuh dan beranggapan bahwa keseimbangan jiwa dan tubuh manusia juga dipengaruhi oleh keseimbangan cairan yang ada dalam tubuh manusia.

Cairan tubuh manusia terdiri atas 4 jenis, yakni Empedu Hitam (Sawda’), Darah (Damm), Empedu Kuning (Safra’), dan Lendir/ Dahak (Balgham). Setiap manusia memiliki empat jenis cairan tersebut, dan menjaga keseimbangan cairan ini penting untuk kestabilan emosi manusia, karena masing masing Humor diketahui mewakili emosi-emosi tertentu.

Empedu hitam, memiliki elemen dasar air dan bersifat “basah”. Seseorang yang dominan cairan empedu hitamnya biasanya memiliki temperamen “Melankolis”, menjadi pribadi yang cenderung introvert, analitis dan perfeksionis.

Baca Juga: Ibnu Sina, Ilmuwan Muslim Ahli Kedokteran Modern

Darah, memiliki elemen dasar api dan bersifat panas. Seseorang yang dominan cairan darahnya biasanya memiliki temperamen “Sanguinis”, menjadi pribadi yang cenderung ekstrovert, optimis dan spontan.

Empedu kuning, berelemen dasar tanah, bersifat kering. Seseorang yang lebih dominan empedu kuning-nya biasanya memiliki temperamen “Koleris”, menjadi pribadi yang cenderung memiliki jiwa pemimpin, tegas dan ambisius.

Lendir/dahak, berelemen dasar udara yang bersifat dingin, Seseorang yang lebih dominan lender/dahak-nya biasanya memiliki temperamen “Flegmatis”, menjadi pribadi yang cenderung memiliki jiwa santai, stabil dan pendamai.

Keempat cairan ini tentunya bukan satu satunya tolak ukur untuk mengidentifikasi kepribadian seseorang, karena hal penting yang dapat dikaji secara mendalam adalah adanya dasar teori Humor ini ternyata dapat menjadi bekal awal untuk menjadi dasar keilmuan yang lebih kompleks, seperti upaya menyusun rangkaian diet sehat ala Islami yang disesuaikan dengan kebutuhan manusia terkait cairan tubuhnya.

Keseimbangan cairan tubuh dapat dijangkau dengan pemenuhan kebutuhan masing masing Humor. Tentunya tetap akan ada cairan yang lebih dominan, sebagai pembeda antara manusia satu dan yang lain, tetapi dengan tetap menjaganya agar seimbang adalah langkah awal untuk menjaga keseimbangan jiwa dan tubuh manusia.

Penulis: Putri Malinda Nurul Faizah

Editor: Musa Al Kahfi

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *