Redaksi

Jika Bumi Saja Enggan Berdzikir, Apalagi Manusia

Krisis ekologi hari ini tidak hanya berupa kerusakan fisik lingkungan, ia juga mengandung persoalan spiritual yang jauh lebih dalam. Alam seakan memberi peringatan sunyi, memanggil manusia untuk kembali mengenali dirinya sendiri sebagai bagian dari kosmos. Namun, tanda-tanda itu sering berlalu tanpa makna karena manusia modern hidup dalam jarak yang kian lebar dari bumi dan langit sekaligus. Ia kehilangan tanah pijak yang mestinya membentuk keintiman ekologis, dan di saat yang sama tercerabut dari ruang batin tempat ia menautkan harapan dan doa.

Proses ketercerabutan ini bukan terjadi begitu saja, ia merupakan konsekuensi logis dari peradaban yang terbangun dengan cara pandang kapitalistik dan sekularistik. Kapitalisme menempatkan bumi dalam paradigma komoditas, yakni persoalan yang kiranya dapat dihitung, dipecah, dan bahkan dijadikan objek kalkulasi untung-rugi. Sementara itu, sekularisme modern menggeser iman yang menjadi urusan paling privasi, terlepas dari kosmos dan terputus dari praksis keseharian. Dalam kombinasi keduanya, relasi spiritual antara manusia dan alam tergerus sedikit demi sedikit hingga menyisakan manusia yang efisien, tetapi tumpul secara afektif. Ia bekerja tanpa kesadaran, dan berdoa tanpa keterhubungan dengan tanah dan oksigen yang menopang hidupnya.

Pak Mul: Petani Lereng Merapi

Di tengah keadaan itulah cerita Pak Mul, seorang petani bambu di lereng Merapi, memperlihatkan kontras yang berbeda. Beliau sebetulnya tidak menebang pohon kecuali berdoa, tidak memasuki hutan kecuali permisi. Praktik seperti ini dulu lazim, kini menjadi irasional karena dunia modern hanya mengakui nilai yang dapat diperdagangkan, bukan nilai yang lahir dari kedalaman etika kosmologis. Padahal, cara pandang semacam ini justru menyimpan pengetahuan ekologis yang beradab-abad menjadi fondasi keberlanjutan.

Baca juga: Pengertian Ilmu Ekologi: Macam, Ruang Lingkup dan Manfaat

Dalam khazanah Islam, relasi itu sebenarnya tampak sangat jelas. Islam tidak menghadirkan ibadah sebagai ritual terputus dari dunia. Islam menjadikan bumi sebagai ruang untuk hambanya bersujud, tempat di mana manusia menundukkan diri. Maka, alam bukanlah latar, tetapi medium spiritual. Konsekuensinya, kerusakan ekologis bukan sekadar pelanggaran etis atau kesalahan pengelolaan sumber daya, melainkan tindakan yang menggoyahkan keseimbangan spiritual manusia. Jika alam dipahami sebagai mushaf terbuka yang memuat ayat-ayat Tuhan dalam bentuk tanda-tanda penciptaan, maka penambangan rakus, pembabatan hutan, dan pencemaran sungai merupakan tindakan yang serupa dengan menistakan kitab suci.

Kerusakan Ekologis dalam Al-Quran

Keretakan epistemologis itu sejatinya telah tercantum dalam Al-Qur’an melalui isyarat bahwa kerusakan di darat dan laut merupakan pantulan dari ulah manusia (QS.Ar-Rum:41). Menurut At-Thabari, istilah fasad dalam hal ini bukan semata karena kerusakan material, tetapi disintegrasi tatanan kosmik (ikhtilāl al-niẓām al-kawnī) yang menghubungkan seluruh entitas. Maka, pembacaan ayat ini sebetulnya merupakan peringatan epistemologis, bahwa setiap orientasi pengetahuan yang manusia dari ekosistem akan melahirkan konsekuensi ekologis yang sepadan.

Baca juga: Simfoni Dakwah Sunan Kalijaga: Islam dan Budaya dalam Harmoni

Implikasinya, pemulihan krisis ekologis tidak dapat tercapai melalui pendekatan teknokratis semata. Paradigma pengelolaan lingkungan menuntut pemahaman kepada kita untuk refleksi mengenai siapa manusia dalam struktur kosmos. Manusia, dalam kosmologi Islam, bukanlah struktur dominatif. Manusia hanyalah struktur fungsional sebagai khalifah fil ardh yang bertanggung jawab menjaga keberlangsungan sistem kehidupan.

Penulis: Muhammad Ariby Zahron

Editor: Bella Fadhilatus Sanah

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *