Manuskrip Al-Qur’an Abad Ke-18 Di Museum Gusjigang : Kajian Kodikologi Mushaf Kuno
Manuskrip Al-Qur’an merupakan salah satu peninggalan penting dalam sejarah peradaban Islam. Salah satu tempat wisata di Kota Kudus yang menyimpan manuskrip Al-Qur’an adalah Museum Gusjigang. Museum Gusjigang ini terletak di Jl. Sunan Muria No. 33, Kelurahan Glantengan, Kecamatan Kota Kudus, Kabupaten Kudus. Terdapat beberapa koleksi manuskrip Al-Qur’an di Museum Gusjigang, di antaranya manuskrip Al-Qur’an dari kulit sapi, manuskrip Al-Qur’an dari kertas kuno, dan manuskrip Alquran dari daun lontar.

Manuskrip adalah istilah lain dari naskah kuno. Istilah tersebut berasal dari ungkapan Latin manuscriptum yang berarti “tulisan tangan”. Menurut Undang-Undang No. 43 Tahun 2007, naskah kuno merujuk pada semua dokumen tertulis yang tidak dicetak atau tidak diperbanyak dengan cara lain, yang berumur sekurang-kurangnya 50 (lima puluh) tahun. Dalam mengkaji sebuah manuskrip, diperlukan ilmu khusus untuk meneliti, yaitu ilmu filologi.
Filologi berasal dari bahasa Latin, philos dan logos. Kata philos bermakna cinta, dan logos bermakna kata atau ilmu. Jadi, filologi mengandung makna cinta kata-kata atau cinta ilmu. Objek kajian filologi adalah naskah-naskah yang mengandung teks sastra lama atau sastra tradisional. Dalam kajian naskah kuno atau manuskrip, terdapat dua pendekatan yang dapat diterapkan, yaitu kodikologi dan tekstologi. Pendekatan kodikologi adalah pendekatan yang mencakup karakteristik fisik dari naskah kuno, sedangkan pendekatan tekstologi mencakup identifikasi variasi teks.
Koleksi Manuskrip Al-Qur’an di Museum Gusjigang
Berdasarkan observasi penulis, koleksi manuskrip Al-Qur’an yang berada di Museum Gusjigang ini tersimpan dalam sebuah etalase kaca khusus. Kaca tersebut dirancang untuk melindungi dan menjaga kelestarian manuskrip agar terhindar dari kerusakan. Di dalamnya terdapat beberapa manuskrip, salah satunya adalah manuskrip Alquran yang ditulis di kertas kuno yang berasal dari seorang kolektor di Banyuwangi.
Secara umum kondisi manuskrip Alquran dari kertas kuno ini dalam kondisi cukup baik, tulisannya masih bisa terbaca dan sudah terdapat tanda baca atau harakat. Namun, naskah ini tidak utuh, karena ada tiga halaman yang hilang, bagian depan ada yang sobek, dan bagian pojok-pojoknya sebagian ada yang mengelinting. Sampul bagian depan dan belakang juga sudah tidak ada. Halaman paling awal adalah Q.S. Al-Baqarah [2]: 17. Manuskrip mushaf Al-Qur’an 30 juz ini ditemukan di salah satu surau di Banyuwangi. Al-Qur’an ini dibuat sekitar akhir abad ke-18. Semuanya berbahan kertas kuno dengan ukuran 25 x 17 x 5,5 cm dan berat 4,5 kg.
Baca Juga: Manuskrip Tafsir Jalalain Mbah Sahid : Analisis Kodikologi dan Rasm – Media Santri NU
Penanda Awal Surah pada Manuskrip
Dalam manuskrip kertas kuno ini terdapat dua macam penulisan, yaitu menggunakan rasm Utsmani dan rasm Imla’i. Jenis khaṭ yang mendominasi mushaf hanya ada dua, yaitu khat naskhi dan tsuluts. Penulisan manuskrip ini menggunakan tinta berwarna merah dan hitam. Ayatnya ditulis dengan tinta berwarna hitam dan berbingkai kotak persegi panjang. Jenis khat yang digunakan untuk tulisan bertinta hitam tersebut adalah khat naskhi. Namun, kaidah naskhi-nya terlalu berlebihan sehingga mirip dengan khat tsuluts.

1.1 Gambar Penanda Awal Surah dan Jumlah Baris
Sedangkan tulisan yang bertinta merah menggunakan khat tsuluts. Adapun tulisan yang ditulis menggunakan tinta berwarna merah, yaitu tanda awal surah dan tanda awal juz (ditulis di bagian samping bingkai kotak). Pada bagian penanda awal surah diawali dengan tulisan “Surotun nisa’ miatun wa khomsun wa sittuna ayatin madaniyyah” yang artinya surat An-Nisa’ 165 diturunkan di kota Madinah. Dalam naskah mushaf Al-Qur’an kertas kuno ini, terdiri dari 15 baris dalam setiap halamannya.
Baca Juga: Sanad Kajian Tafsir Al-Jalalain pada NU Online
Penanda Pemisah Ayat pada Manuskrip

1.2 Gambar Tanda Pemisah Ayat dan Tanda Waqaf
Tanda pemisah ayat dan tanda waqaf disimbolkan dengan bulatan warna merah yang di dalamnya berisi bulatan hitam kecil serta tidak terdapat nomor ayat. Contoh tanda pemisah ayat pada gambar di atas yaitu setelah lafadz وَاِنَّكَ لَمِنَ الْمُرْسَلِيْنَ. Sedangkan di dalam mushaf kita yang sekarang biasanya disebut dengan nomor ayat yaitu pada Q.S. Al-Baqarah [2]: 252.
Adapun contoh tanda waqaf pada gambar di atas yaitu terdapat pada Q.S. Al-Baqarah [2]: 253 yang berbunyi وَاَيَّدْنٰهُ بِرُوْحِ الْقُدُسِۗ. Di dalam mushaf yang menggunakan rasm Utsmani, tanda waqafnya menggunakan tanda qaf-lam-alif (قلى) atau disebut al-waqfu aula yang berarti “diutamakan berhenti.” Apabila pada ayat Al-Qur’an terdapat tanda waqaf (قلى), lebih baik berhenti pada kata yang terdapat tanda tersebut.
Scholia pada Manuskrip Al-Qur’an
Di dalam naskah kertas kuno ini juga terdapat scholia kesalahan dalam tulisan ayatnya yaitu pada Q.S. Al-Baqarah [2]: 243. Di dalam manuskrip tertulis اِنَّ اللّٰهَ لَذُوْ فَضْلٍ عَلَى النَّاسِ لَا يَشْكُرُوْنَ. Sedangkan tambahan ayatnya ditulis di luar kotak yaitu وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ ٱلنَّاس. Di atas huruf sin (س) pada kata عَلَى ٱلنَّاسِ yang tertulis dalam kotak diberi tanda ceklis yang merupakan tanda rujukan. Koreksi atau tambahan ayatnya ditulis di luar kotak serta diberi tanda ceklis untuk menunjukkan bahwa ayat tersebut merupakan lanjutan dari ayat sebelumnya. Contohnya seperti pada gambar di bawah ini.

1.3 Gambar Scholia
Ada beberapa kesalahan atau corrupt yang ditemukan pada manuskrip kertas kuno di Museum Gusjigang. Kesalahan yang ditemukan yaitu ada ayat yang terlewat sehingga ditulis menggantung di bagian atas ayat setelahnya. Di antara ayat yang di dalamnya terdapat corrupt yaitu Q.S. Al-Baqarah [2]: 133 dan Q.S. Al-Baqarah [2]: 271.

1.4 Gambar Corrupt Q.S. Al-Baqarah [2]: 133

1.5 Gambar Corrupt Q.S. Al-Baqarah [2]: 271
Penulis: Yessi Arina Restiani (2330110092), Lathifatul Farikhah (2330110099), M. Aqil Hasan (2330110097). Mahasiswa Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir UIN Sunan Kudus.
Editor: Albila Nurfadilah



