Ilmu Hikmah dan Kritik Psikospiritual dalam Novel Merasa Pintar Bodoh Saja Tak Punya
Novel Merasa Pintar Bodoh Saja Tak Punya karya Rusdi Mathari muncul sebagai salah satu karya yang mengintegrasikan kritik sosial dengan refleksi spiritual. Dengan hadirnya tokoh utama bernama Cak Dlahom, cerita serial kecil dalam novel terbitan Buku Mojok pada tahun 2016 ini menawarkan perspektif unik. Salah satunya mengenai kehidupan sehari-hari yang penuh paradoks, baik dalam aspek religius maupun sosial.
Dikisahkan tokoh utama sebagai seorang duda tua yang hidup sendiri di sebuah gubuk dekat kandang kambing milik Pak Lurah. Cak Dlahom sering dianggap kurang waras oleh warga kampungnya karena tingkah lakunya yang eksentrik dan pemikirannya yang tidak konvensional. Namun, di balik penilaian tersebut, Cak Dlahom memiliki pemahaman mendalam tentang agama dan kehidupan, yang ia sampaikan melalui percakapan sederhana namun sarat makna estetis dengan masyarakat desa.
Sastra sebagai Media Kritik Sosial dan Spiritual
Melalui interaksi dengan tokoh-tokoh seperti Mat Piti dan putrinya, Romlah, novel ini mengeksplorasi tema-tema seperti keikhlasan, makna ibadah, dan esensi kemanusiaan. Misalnya, dalam salah satu kisah, Cak Dlahom menjelaskan konsep keikhlasan dengan menganalogikannya dengan tindakan buang air. Proses buang air dilakukan tanpa mengingat-ingat atau menghitungnya, sehingga menekankan pentingnya melakukan kebaikan tanpa mengharapkan balasan atau pengakuan.
Gaya penulisan Rusdi Mathari yang juga sederhana dan mudah dipahami membuat pembaca dapat merenungkan kembali praktik keberagamaan dan nilai-nilai sosial yang ada. Melalui humor dan dialog yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, novel ini mengajak pembaca untuk menjadi pribadi yang saleh tidak hanya untuk diri sendiri, tetapi juga dalam kehidupan sosial.
Seiring dengan itu, novel ini juga menawarkan dimensi kehidupan agama yang lebih mendalam melalui kritik psikospiritual. Di luar sekadar ritual sosial, Mathari menggali kondisi psikologis manusia yang sering kali terjebak dalam kesia-siaan ibadah tanpa kesadaran. Fenomena ini merepresentasikan ketidakseimbangan antara aspek lahiriah dan batiniah dalam praktik agama. Praktik tersebut dalam kajian psikospiritual dapat diartikan sebagai kekusutan rohani.
Di dalam teori terapi psikospiritual, sebagaimana yang dikemukakan oleh Gerald Corey, terapi yang efektif tidak hanya berfokus pada pemulihan fisik atau emosional, tetapi juga memperhatikan dimensi spiritual yang mendalam. Dalam arti lain, pemahaman ini melibatkan sejumlah upaya pencarian makna hidup dan hubungan individu dengan Yang Maha Kuasa yang menjadi salah satu aspek krusial dalam proses penyembuhan psikis ini.
Baca Juga: Filosofi Ketupat dan Lepet
Ilusi Superioritas Intelektual dalam Novel Merasa Pintar Bodoh Saja Tak Punya
Novel ini juga menyajikan kritik mendalam terhadap ilusi superioritas intelektual yang sering kali melanda individu dalam konteks keberagamaan maupun kehidupan sosial. Rusdi Mathari dengan brilian menggambarkan bagaimana manusia sering kali terjebak dalam arogansi intelektual yang justru mengaburkan kemampuan mereka untuk melihat hakikat kebenaran.
Kritik psikospiritual ini menjadi relevan dalam konteks kehidupan modern, ketika manusia sering kali lebih mementingkan citra eksternal dibandingkan dengan kejujuran internal. Berikut salah satu kutipan dialog yang fenomenal dikenal oleh para pembaca Rusdi:
“Lalu kapan kamu menyaksikan Allah?”
”Ya ndak bisalah, Cak.”
”…kata siapa? Allah bilang di Al-Qur’an: Dialah yang awal dan yang akhir, yang tampak dan yang tak tampak, dan Dia yang mengetahui segala sesuatu, jadi Allah itu tampak, Mat … seperti kamu menghabiskan buka puasa, sebaiknya kalau mau tahu sesuatu urusan agama, juga pelan-pelan. Sedikit-sedikit. Kalau langsung banyak sekaligus akan berbahaya bagi dirimu. Kalau kekenyangan, mungkin masih ndak apa-apa, Mat, tapi kalau kamu terus gila? Kamu akan merasa pintar, merasa lebih tahu dari yang lain.”
(Mathari, 2020:17-19)
Kutipan tersebut menyiratkan simbol dari proses gradualitas dalam memahami konsep teologis, khususnya tentang esensi keberadaan Allah sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur’an. Objek dalam konteks ini mengacu pada keyakinan bahwa Allah adalah entitas yang awal dan akhir. Yang tampak dan tak tampak, sebagaimana penjelasan dalam ayat yang dikutip.
Dialog ini menyiratkan pentingnya pendekatan bertahap dalam memahami aspek-aspek metafisik. Ketika kecepatan dan ketergesaan dalam mempelajari hal-hal bersifat keimanan dapat berujung pada kesalahpahaman atau bahkan arogansi intelektual.
Baca juga: Benarkah Bahasa Madura Tidak Memiliki Huruf “W”
Semiotika Dialog dalam Novel Merasa Pintar Bodoh Saja Tak Punya

Secara representamen dalam babakan ilmu tanda (semiotic), kutipan ini diartikulasikan melalui dialog yang memadukan pernyataan otoritatif berbasis teks suci dengan analogi praktis yang dekat dengan pengalaman sehari-hari, seperti berbuka puasa. Dialog tersebut menjadi tanda yang menekankan hubungan antara kapasitas manusia dalam memahami ajaran agama dengan keperluan menjaga keseimbangan intelektual dan spiritual.
Adapun interpretasi yang dihasilkan adalah pemahaman bahwa proses pencarian dan penyerapan ilmu agama harus dilakukan secara perlahan. Di samping itu, juga harus penuh kehati-hatian, dan sesuai dengan kapasitas intelektual masing-masing individu. Melalui kutipan ini, tersirat kritik terhadap kecenderungan manusia yang merasa “pintar” dan berlebihan dalam memahami agama. Hal ini yang dapat membahayakan baik secara mental maupun spiritual. Hal ini mempertegas pesan bahwa kebijaksanaan dalam memahami agama tidak terletak pada jumlah pengetahuan yang manusia dapatkan secara instan. Melainkan pada kesanggupan untuk merenung dan menginternalisasi makna secara mendalam dan bertahap.
Baca juga: Resensi Novel Laskar Pelangi
Rusdi Mathari juga menggunakan analogi sehari-hari untuk menyederhanakan konsep teologis yang kompleks. Misalnya, konsep ikhlas tergambar melalui fungsi biologis, atau pentingnya bertahap (murokkabul iman) dalam memahami agama. Dialog-dialog tersebut juga mengkritik kecenderungan manusia untuk terjebak dalam arogansi intelektual, ritual mekanis, dan manipulasi verbal demi pengakuan sosial. Temuan ini menegaskan bahwa nilai spiritual sejati terletak pada kejujuran, ketundukan, dan keseimbangan antara penghayatan ibadah dengan tanggung jawab sosial.
Novel Merasa Pintar Bodoh Saja Tak Punya karya Rusdi Mathari ini dapat menjadi pijakan refleksi bagi pembaca untuk menginternalisasi nilai-nilai religius secara lebih substansial. Tidak hanya mengingatkan pembaca tentang pentingnya keikhlasan dan keseimbangan dalam kehidupan beragama. Novel ini juga mengajak mereka untuk menghindari jebakan formalitas dan egosentrisme religius. Dengan menyatukan unsur teologis, moral, dan sosial, karya Rusdi Mathari menunjukkan bahwa sastra dapat berperan sebagai katalisator perubahan kesadaran. Yang mengarahkan individu pada kehidupan spiritual yang lebih bermakna dan bertanggung jawab.
Identitas Novel
Judul : Merasa Pintar, Bodoh Saja tak Punya
Penulis : Rusdi Mathari
Penerbit : Buku Mojok
Tahun terbit : 2019
ISBN : 978-602-1318-40-9
Ketebalan : 226 halaman
Peresensi : Muhammad Ariby Zahron
Editor : Albila Nurfadilah



