Dunia IslamSastra

Ikhlas Sebagai Dasar Kehidupan

Penulis : Al Wardatul Mahfudhoh / Editor : F. Azfar

Tidak ada manusia yang terlahir sempurna. Selalu ada perjuangan di balik kesempurnaan yang orang lain lihat. Pada kenyataannya, mereka hanyalah orang biasa seperti kita. Makhluk Tuhan yang berusaha memunculkan diri. Makhluk Tuhan yang berusaha menunjukkan eksistensinya.

Mereka adalah manusia kuat yang mampu bertahan pada titik terendahnya. Pada sebuah keputusasaan yang membuat jiwa itu pernah jatuh pada jurang tergelap dalam hidupnya.

Apa itu Ikhlas?

Izinkan aku untuk bertutur kata sedikit tentang pelajaran hidup yang sangat berarti tentang ‘ikhlas’. Sudah dipastikan kalian tidak asing dengan kata tersebut. Sebuah kata yang seringkali kita dengar dan terlontar.

Namun, apakah kalian  para atma benar-benar mengerti tentang kata ini?

Apa yang ada pada benak kalian, tatkala kata ini tertangkap netra atau terdengar rungu?

Baca juga : Wudhu’ dan salat ala Syekh Hatim Al Ashom

Ikhlas dalam Islam

Dalam Islam, ikhlas diartikan sebagai melakukan sesuatu hanya karena Allah Swt. semata. Hal ini berkaitan erat dengan ibadah yang kita lakukan.

Ikhlas dengan niat tulus kepada Allah Swt., menjadi syarat dan dasar semua amal ibadah. Amal yang dilakukan dengan ikhlas pasti akan mendapat ridha dan balasan dari Allah Swt. sekaligus berdampak baik bagi diri dan lingkungan sosialnya.

Orang yang ikhlas akan merasa senang apabila melihat orang lain lebih baik, lebih pandai, lebih mulia akhlaknya dalam beramal. Bukan sebaliknya malah iri dan dengki melihat kesuksesan yang dicapai orang lain.

Ikhlas dalam Kehidupan

Disini, bukan hanya itu yang ingin kuutarakan. Akan ku tambahkan sedikit mengenai keikhlasan.

Pada konteks yang berbeda, tentang kehidupan yang penuh dengan cobaan.

Orang-orang pernah mengatakan semesta tidak adil, Tuhan pun tidak adil. Akan tetapi, mereka jarang sekali menyadari bahwa mereka sendirilah yang membuat hidupnya dirasa tidak adil.

Ikhlas itu tentang hati, tentang rasa yang lebih sulit dijelaskan daripada cinta.

Ikhlas, menerima dan merelakan. Menerima apapun yang telah diberikan oleh sang pencipta dengan lapang dada, serta merelakan apapun yang diambil kembali oleh sang pencipta.

Hal ini tidak hanya mengenai kebutuhan duniawi, namun juga tentang nyawa yang akan lebih sulit untuk di ikhlaskan.

Sikap yang hanya diketahui setiap makhluk Tuhan dengan penciptanya ini, cukup sulit untuk dicapai. Bahkan usaha keras yang dilakukan terkadang tak berpengaruh apapun.

Namun, kita sebagai makhluk Tuhan harus selalu berusaha untuk menanam sikap ikhlas ini dalam hati yang terdalam.

Baca juga : Munas-Konbes NU, Ajang Pencarian Solusi Persoalan Publik

Cara Menumbuhkan Sikap Ikhlas

Aku sendiri masihlah belajar untuk menjadi orang yang memiliki sifat ikhlas. Lalu, bagaimana caranya?

Pertama, mendekatkan diri kepada Tuhan. Kita perlu mendekatkan diri pada Tuhan. Hal itu dapat kita tempuh dengan cara memperbaiki ibadah, istiqomah membaca kitab suci, serta buku-buku seputar keagamaan.

Kedua, kuatkanlah niat di dalam hati. Segala sesuatu bisa berjalan dengan baik apabila diniatkan dengan sungguh-sungguh. Yakinkan pada dirimu sendiri bahwa kamu bisa menjadi orang yang ikhlas.

Ketiga, optimistis dan selalu berpikiran positif. Apapun yang terjadi padamu adalah yang terbaik. Dibalik semua cobaan, pasti ada hikmahnya.

Terakhir, belajar mengontrol emosi. Untuk menjadi orang yang ikhlas, tentunya kamu perlu belajar mengontrol emosi. Jika kamu belum tahu caranya, jangan khawatir.

Cobalah mengambil nafas dalam-dalam tatkala emosi hendak membuncah. Kemudian, tenangkan diri dan perbanyak membaca istighfar.

Aku yakin, kalian pasti bisa melakukannya jika kalian benar-benar mau belajar. Tidak ada perjuangan yang sia-sia. Aku percaya pada kalian.  : )

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *