Dunia IslamInspirasiTokoh

Kisah Abu Hurairah dan Semangkuk Susu

Penulis: Hasby Ilman Hafid I Editor: Fani Azfar

Abu Hurairah merupakan sahabat Baginda Nabi Muhammad SAW. yang meriwayatkan banyak hadist. Ia juga penanggung jawab Ahlus Suffah yang tinggal di serambi masjid Nabawi dan tidak memiliki harta, makanan, bahkan rumah. Dikisahkan dalam kitab Fadhoilul A’mal karangan Syekh Maulana Muhammad Zakariyya Al-Kandahlawi, suatu saat Abu Hurairah bercerita kepada Ahlus Suffah.

“Maukah kalian aku ceritakan keadaan kami dahulu?” Mereka pun mengangguk. “Sebagian dari kami tidak bisa berdiri karena lapar tidak makan selama berhari-hari. Aku juga pernah berbaring sambil menekan lambungku ke tanah atau mengikatkan batu di perutku. Suatu saat aku sedang duduk di pinggir jalan, kemudian lewatlah Sayyidina Abu Bakar R.A. Aku mulai bertanya sesuatu dan berharap agar ia mengajakku ke rumahnya dan menjamuku sebagaimana kebiasaan mulianya.

Baca juga: Hujan Adalah Rahmat Tuhan

Namun, kali ini ia tidak banyak bicara dan tidak mengajakku ke rumahnya. Nampaknya ia juga tidak punya makanan untuk disuguhkan kepadaku. Kemudian lewatlah Sayyidina Umar R.A. Keadaannya juga sama seperti Sayyidina Abu Bakar R.A. Akhirnya lewatlah Baginda Nabi Muhammad SAW. Beliau tersenyum kepadaku. Seketika itu, beliau langsung mengerti keadaanku dan keinginanku. Beliau bersabda, “Wahai Abu Hurairah, mari ikut aku!” Aku pun mengikuti beliau sampai ke rumahnya.

Semangkuk Susu untuk 70 Orang

Sesampainya di sana, ada semangkuk susu, “Dari mana susu ini?” dijawab bahwa susu itu adalah hadiah dari seseorang untuk Baginda Nabi Muhammad SAW. “Hai Abu Hurairah, pergi dan panggil lah Ahlus Suffah!” Perintah Nabi kepadaku. Telah menjadi kebiasaan Baginda Nabi Muhammad SAW. jika ada makanan sedekah dari siapa saja, maka Rasulullah akan membagikannya kepada Ahlus Suffah dan ikut makan bersama mereka.

Jumlah Ahlus Suffah kadang tidak menentu, bisa sedikit bisa juga banyak. Ketika kejadian ini, Ahlus Suffah sedang berjumlah 70 orang. Aku merasa khawatir, apakah semangkuk susu itu cukup untuk semua orang yang akan aku panggil? Menurutku susu itu hanya cukup untuk seorang saja, bahkan itu pun masih kurang.

Baca juga: Kisah Imam Sufyan At-Tsauri dan Keutamaan Shalawat Nabi

Tidak ada pilihan lain selain menaati perintah Rasulullah. Setelah mereka sampai di rumah Nabi Muhammad, beliau bersabda kepadaku, “Berikanlah susu ini kepada mereka!” Setelah setiap orang puas meminum susu dari mangkuk itu, tibalah giliranku. Beliau memegang mangkuk susu itu dengan tangannya yang penuh berkah dan bersabda, “Tinggal kita berdua.” Ucap Nabi. “Ya, benar Ya Rasulallah,” Jawabku.

“Sekarang minumlah,,” Aku pun langsung meminumnya. Beliau bersabda lagi, “Minumlah lagi!” Aku pun minum lagi hingga aku berkata, “Ya Rasulallah, sekarang aku sudah tidak mampu meminum lagi.” Setelah itu barulah beliau meminum susu yang tersisa di mangkuk tersebut.

Bentuk Keteladanan yang Bisa Diambil

Hikmah yang bisa kita ambil dari cerita di atas adalah kedermawanan Rasulullah SAW yang patut kita tiru. Beliau tidak pernah menyimpan makanan pemberian atau hadiah dari seseorang. Beliau pasti membaginya kepada orang yang membutuhkan seperti Ahlus Suffah dan para sahabat.

Bagian dari Mukjizat Nabi

Peristiwa tersebut merupakan mukjizat Nabi. Secara logika dan pikiran kita, semangkuk susu hanya akan cukup untuk seorang saja. Namun karena mukjizat Nabi, semangkuk susu itu cukup untuk memberi minum 70 orang Ahlus Suffah yang sedang kelaparan.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *